Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 44 Masa Lalu


__ADS_3

Flashback off:


Lima belas tahun yang lalu, kehidupan keluarga Irwan Prayoga dan sang Istri Aini Kusuma, begitu sangat bahagia. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang sama sekali tidak memiliki permasalahan apa pun dan selalu diselimuti oleh senyuman. Namun, semua itu berubah ketika kedatangan seorang wanita yang berstatus janda yakni Monalisa.


Monalisa, dia wanita yang merantau dari desa dan mencari pekerjaan di Ibu kota. Hal itu harus di lakukan karena dia membutuhkan uang menghidupi putri semata wayangnya. Dia pun di terima bekerja di sebuah perusahaan dan menjabat sebagai sekretaris.


"Maaf, Tuan. Saya ingin memberikan berkas yang An—" ucapan Mona terpotong karena kakinya terpeleset hingga membuat dia jatuh ke pangkuan Irwan.


Irwan menangkap tubuh Mona dengan spontan, pandangan keduanya saling beradu dan Mona menatap Irwan dengan tatapan memuji. Bagaimana tidak, Irwan sangat tampan dan gagah meskipun usianya sudah hampir kepala lima. Dari kejadian itulah, hubungan keduanya semakin dekat.


Ya, entah sengaja atau tidak, Mona pun terus gencar mendekati Irwan. Bahkan, dia tidak peduli sedikitpun jika Irwan itu sudah memiliki seorang istri dan anak. Mona semakin tertantang, dia pun mengajak Irwan pergi ke restoran untuk makan malam.


Irwan yang sama sekali tidak curiga, langsung menyetujui ajakan dari sekertarisnya itu. Tetapi, kejadian tak terduga pun menyapa Irwan, kepalanya pusing dan dia seperti ingin pingsan.


"Argh, kenapa kepalaku sakit sekali?" gumam Irwan sambil melihat ke atas, langit-langit restoran seakan berputar seperti bumi.


Mona tersenyum menang. "Tuan, ada apa?"


"Mona, minuman apa yang sudah diberikan pelayan itu? Entah kenapa tiba-tiba kepalaku menjadi pusing,'' jawab Irwan menahan rasa sakit di kepalanya.


"Aku, aku tidak tahu. Baiklah, mungkin Anda juga kelelahan. Bagaimana jika kita pulang sekarang? Aku akan menyetir mobilnya." tawar Mona berbaik hati karena dia memiliki tujuan sendiri.


Irwan mengangguk, keduanya pun pergi dari keluar dari restoran itu dengan Mona yang membantu Irwan untuk berjalan.


Sesampainya di mobil, Mona membantu Irwan masuk ke dalam. Dia kemudian ingin menyusul, tetapi dirinya berkata jika ada sesuatu yang ketinggalan di dalam restoran. Pria itu pun membiarkan Mona pergi, dia menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan mata.


Di dalam restoran. Mona dengan cepat mencari pelayan yang tadi membawakan makanan untuknya.

__ADS_1


"Hei, kemari!" Mona melambaikan tangannya.


Pelayan itu datang dengan senyum merekah, dia bisa menebak jika wanita yang memanggilnya itu pasti akan memberikan bayaran.


"Maaf, Nyonya. Ada apa?" tanya sang pelayan pura-pura tidak tahu.


Mona melihat ke sekeliling, dia mengeluarkan segepok uang berwarna merah dari dalam tasnya. "Ini untukmu, pekerjaanmu sangat bagus dan kau harus tutup mulut. Paham!" peringatan darinya.


Pelayan itu mengangguk dengan cepat dan mengucapkan terima kasih. Mona pun segera pergi dari sana sebelum Irwan curiga dengannya. Wanita berusia tiga puluh tujuh tahun itu masuk ke dalam mobil, dia melajukan kendaraan tersebut pergi menuju hotel.


Pukul tiga dini hari, Aini yang berada di rumah sangat gelisah karena sang suaminya tak kunjung pulang. Dia mondar-mandir di kamar sambil sesekali melihat ke halaman rumah melewati jendela. Dia mendudukkan dirinya di atas ranjang, memijit pelipis dan memejamkan mata.


"Ya Tuhan, kau kemana, Mas? Kenapa belum juga pulang? Tidak seperti biasanya, aku jadi merasa khawatir." gumam Aini sedih.


Saat dia hendak pergi ke kamar mandi, ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk di dalam sana. Aini segera mengambil ponselnya, barangkali itu adalah pesan dari Irwan, pikirnya. Namun, saat dia membuka pesan di aplikasi hijau tersebut, dirinya terkejut mendapati pesan apa yang masuk.


Tubuh Aini seketika lemas, dia duduk di ranjang dan ponsel yang ada di tangannya jatuh begitu saja ke atas lantai.


Singkat cerita, lagi pun menjelang. Tentu saja Aini tidak bisa tidur dengan nyenyak karena pesan tadi malam. Kantung mata terlihat terjiplak jelas di bawah sana, bahkan bola matanya berwarna merah karena terus menangis sepanjang malam ini.


Pintu rumah terbuka, Aini segera menoleh dan dia berdiri dari tempat duduknya.


"Kau darimana, Mas?" tanya Aini dingin.


Irwan menggulung ujung kemejanya dan dia melemparkan tas kerja ke atas sofa. "Aku baru saja pulang dari rumah temanku, maaf aku tidak sempat mengabarimu.'' titahnya.


"Teman? Benarkah?" Aini mendekati Irwan yang terlihat gugup.

__ADS_1


"Aini, apa yang kau pikirkan?"


Aini tersenyum tipis. ''Tunggu! Aku punya sesuatu untukmu," dia mengambil ponselnya dan memberikan kepada Irwan.


Seketika mata Irwan mendelik lebar seperti ingin keluar dari tempatnya. Dia menatap Aini dan menggeleng sejenak.


"Aini, ini bohong! Siapa yang sudah mengirimkan ini padamu?" tanyanya.


Aini dengan cepat merebut ponselnya kembali. ''Tidak perlu sok bo*do*h seperti ini, Mas! Kau pasti tahu semuanya, dan kau benar-benar sudah mengkhianati aku!'' pekiknya dengan tetesan air mata.


Ya, isi pesan itu adalah foto dimana Irwan dan Mona tidur dalam satu selimut, bisa di pastikan keduanya tidak memakai sehelai benangpun karena terlihat dari foto tersebut.


"Aini, aku mohon dengarkan penjelasanku!" Irwan menarik tangan Aini tetapi wanita itu menjauhkannya.


"Stop! Jangan menyentuhku, Mas. Kau, kau sudah menduakan cintaku yang tulus ini, aku tidak bisa memaafkanmu. Kau keterlaluan, kau jahat!" teriaknya sambil memukul dada bidang Irwan.


Pertengkaran pun terjadi di antara keduanya hingga pada akhirnya mereka sama-sama memutuskan untuk bercerai. Irwan setuju karena pada dasarnya dia juga sudah mencintai Monalisa. Aini memberikan dua pilihan ada Irwan, bercerai atau memecat Mona dan menjauhi Mona. Bahkan, wanita itu meminta agar mereka pindah ke luar kota.


Irwan menjawab jika dia tidak bisa menjauhi Mona karena dia sudah memiliki perasaan istimewa untuk wanita itu. Hati Aini sangat sakit, dia benar-benar tidak habis pikir pernikahan yang sudah hampir lima belas tahun mereka jalani, harus kandas di tengah jalan seperti ini.


Pada akhirnya, Aini keluar dari rumah dan saat persidangan, hakim memutuskan jika hak asuh anak jatuh ke tangan Irwan. Sungguh miris hidup Aini, dia terus menangis sepanjang malam karena tidak bisa bersatu dengan putrinya yaitu Nisa.


Flashback on:



__ADS_1


TBC



__ADS_2