
Nita yang saat itu sedang berada di perusahaan merasa tenang karena berkas yang tertinggal sudah berada di tangannya, kemudian dia kembali menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
Tidak berselang lama, Abian sampai di perusahaan dan langsung menemui Nita untuk menanyakan kabar tentang Nisa. Mungkin saja wanita itu tahu, karena tempat tinggal mereka yang berdekatan.
"Nita!"
Nita yang sedang fokus pada pekerjaan langsung mendongakkan kepalanya. "Ya, Tuan? Anda sudah datang?" dia beranjak berdiri dari kursi.
"Aku baru saja sampai. Apa hari ini aku ada pertemuan penting?" tanya Abian kemudian.
Nita menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Tuan. Anda hanya perlu meninjau beberapa lokasi yang akan dibangun untuk proyek selanjutnya, juga ada beberapa perjanjian yang harus Anda periksa."
Abian menganggukkan kepalanya. Syukurlah hari ini tidak ada pertemuan penting, jadi dia bisa mencari di mana keberadaan Nisa bersama dengan Tian.
"Baguslah. Oh iya, apa kau tau sesuatu tentang Nisa?"
Nita mengernyitkan keningnya saat mendengar pertanyaan Abian. "Maksud Anda?"
Abian lalu menceritakan apa yang Tian katakan padanya sebelum ke kantor tadi. "Apa kau tidak tau tentang hal itu? Aku khawatir sekali padanya."
Deg.
Dada Nita berdenyut sakit saat mendengar apa yang Abian katakan. 'Apa sebenarnya tuan Abian menyukai Nisa? Dia terlihat sangat khawatir sekali.' batinnya dan mendadak dia jadi tidak bersemangat.
__ADS_1
"Entah apa yang sudah terjadi pada Nisa sampai dia pergi dari rumah," sambung Abian. Bukan hanya dia saja yang khawatir, bahkan Tian sudah sibuk seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Nita menghela napas kasar dan mencoba untuk menenangkan diri. "Saya tau kalau Nisa pergi dari rumah, Tuan. Dan saat ini dia sedang ada di rumah saya."
"Apa?" Abian terkejut dengan apa yang Nita katakan. "Apa dia pergi dari rumah terus ke rumahmu?"
Nita menggelengkan kepalanya, sampai kiamat pun mungkin Nisa tidak akan pernah melakukan seperti apa yang Abian katakan. Kemudian dia mulai menceritakan kenapa Nisa bisa berada di rumahnya saat ini.
"Syukurlah dia bertemu denganmu, Nita. Mungkin jika dia bertemu orang jahat, entah bagaimana kabarnya sekarang."
Nita menganggukkan kepalanya dengan senyum getir. Bukan karena Nisa tinggal di rumahnya, melainkan karena kekhawatiran dan perhatian yang Abian tunjukkan untuk wanita itu.
"Tuan sangat khawatir ya dengan Nisa? Dia pasti senang sekali jika mengetahuinya," seru Nita dengan senyum lebar penuh kepalsuan. Dia ingin memancing bagaimana reaksi Abian, apakah benar laki-laki itu menyukai Nisa atau tidak.
Wajah yang tadinya murung mendadak langsung cerah bersinar begitu mendengar ucapan Abian. "Ja-jadi, tuan Abian menyayangi Nisa layaknya seorang adik? Tapi, apa itu mungkin?"
"Baiklah. Aku akan menghubungi Tian untuk memberitahukan keberadaan Nisa padanya, dia sudah seperti anak ayam yang kehilangan induknya saat ini." Abian beranjak pergi dari tempat itu menuju ruangannya. Dia yakin kalau Tian pasti akan langsung mendarangi Nisa, begitu dia mengarakan di mana wanita itu saat ini.
Setelah Abian pergi, Nita kembali duduk dikursi. Senyum manis terbit dibibirnya menggantikan senyum kepalsuan tadi, entah kenapa dia merasa tenang karena ucapan laki-laki itu tadi.
"Sadarkah, Nita. Kalau pun tuan Abian tidak menyukai Nisa layaknya pasangan, bukan berarti dia menyukaimu. Dia luar sana banyak wanita yang lebih pantas bersamanya, apalah aku yang hanya seorang janda seperti ini."
Nita menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan diri. Dia lalu kembali melanjutkan pekerjaannya sebelum pergi untuk meninjau lokasi proyek bersamaa dengan Abian.
__ADS_1
Pada saat yang sama, Nisa sedang berbaring di atas ranjang. Beberapa kali dia melirik ke arah ponselnya yang sunyi senyap. Sepertinya sang ayah benar-benar tidak memikirkannya sama sekali, bahkan tidak berusaha untuk meneleponnya.
"Apa yang kau harapkan, dasar Nisa bod*oh!" Nisa menertawakan dirinya sendiri yang masih saja berharap jika ayahnya akan mengkhawatirkannya sedikit saja.
"Baiklah. Lupakan tentang semua itu, Nisa. Lupakan juga tentang melindungi harta atau apalah itu, persetan dengan semuanya. Aku lebih dari mampu untuk hidup dengan kedua kakiku sendiri, dan aku tidak butuh secuil pun hartanya." Nisa sudah memantapkan hati untuk melupakan mereka semua.
"Jika kehadiranku tidak kau harapkan, dan sama sekali tidak kau anggap. Maka baiklah, Ayah. Aku juga akan pergi dengan lapang dada, dan aku tidak akan lagi melihat kebelakang. Karena saat ini aku hanyalah anak yatim piatu, yang tidak punya orang tua." Nisa memejamkan matanya dengan rasa sakit yang kembali menyeruak di dalam dada. Tanpa terasa air mata mengalir dari sudut matanya yang kini mulai basah.
Beberapa saat kemudian, Nisa mendengar ada seseorang yang menekan bel rumah itu. Dengan cepat dia keluar dari kamar dan berlalu untuk melihat siapakah yang bertamu ke rumah Nita.
Begitu pintu rumah itu terbuka, Nisa dikejutkan dengan seseorang yang sudah berdiri di hadapannya. "Kau? Apa yang kau lakukan di sini, Tian?" Dia merasa kaget saat melihat Tian ada di tempat itu.
Tian hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Nisa. Matanya menatap wanita itu dengan tajam, seakan-akan akan menelannya bulat-bulat.
"Tian!"
"Apa kau tidak bisa, sehari saja tidak membuat orang khawatir?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.