
Keesokan harinya, kebetulan weekend telah tiba dan Nita pun berniat untuk berbelanja kebutuhan rumah yang mungkin sudah habis. Dia pun segera bersiap dengan hanya memakai setelan kemeja. Jika di pandang, maka Nita sama sekali tidak terlihat seperti seorang Janda. Nita masuk ke dalam mobil dan pergi menuju ke supermarket terdekat.
Beberapa menit kemudian, sampailah Nita di supermarket itu. Dia langsung memilih bahan-bahan dapur seperti kaldu ayam dan lainnya.
"Em, hari ini masak apa, ya? Kebetulan weekend, Pak Abian pasti di rumah." ujarnya sambil berpikir.
Nita tersenyum setelah sebuah ide terlintas di benaknya, dia pun mengambil bahan sayuran untuk memasak capcay tumis, dia pun bergegas membeli wortel, kol, kembang kol, jagung muda, daun bawang. Setelah itu, dirinya pergi ke steling ikan dan daging lalu dia mengambil daging sapi sebagai campuran capcay yang akan dia buat.
"Apa aku hanya akan memberinya sayur capcay? Tidak-tidak, sangat konyol sekali!" Nita kembali berpikir, dia lalu mencomot daging Ayam dan akan membuat Ayam kfc sebagai selingan capcaynya.
Selesai berbelanja, Nita pun membayar barang belanjaannya.
"Totalnya enam ratus ribu, Nyonya."
Nita langsung mengeluarkan uang cash dan berlalu pergi sambil mengucapkan terima kasih kepada sang kasir. Dirinya memasukkan barang belanjaan ke dalam mobil dan sesampainya di rumah, dia akan segera mengeksekusi bahan-bahan makanan itu.
Tiga jam sudah berlalu dan tentu saja Nita baru selesai memasak menu makan siang. Dia melirik jam dinding yang ternyata menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Nita bergegas menuju ke kamar untuk membersihkan diri sebelum dia pergi ke rumah Abian.
Saat semuanya telah seratus persen siap, Nita pun pergi ke luar dari rumah dengan membawa rantang susun yang berisi nasi serta lauk pauk. Dia melangkah pergi ke rumah Abian dengan senyum merekah.
"Dari perut turun ke hati, ya seperti itu biasanya." ucap Nita berbicara pada dirinya sendiri.
Dia bersenandung ria dan sesekali menyapa warga kompleks yang lewat. Jarak antara rumahnya dan rumah milik Abian tidak terlalu jauh, maka dari itu Nita memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Sesampainya di rumah Abian, dia menekan tombol bel yang ada dekat pintu gerbang. Setelah itu, pintu gerbang pun terbuka.
"Eh, ada Nyonya Nita. Ingin bertemu dengan Tuan ya, Nya?" tanya sang satpam penjaga rumah Abian.
"Iya, Pak. Tuan Abiannya ada?"
"Ada, kebetulan beliau baru saja pulang dari luar."
__ADS_1
Nita mengangguk dan dia berpamitan untuk masuk ke dalam menemui Abian.
Tak lama kemudian, datanglah seorang gadis cantik membawa satu kotak makan siang. Ya, dia adalah Anisa. Entah apa yang gadis itu pikirkan sehingga dia rela belajar memasak dari YouTube hanya untuk Abian.
Satpam di rumah itu pun terkejut karena ada dua wanita yang menemui Tuannya sekaligus. Mau tidak mau sang satpam mempersilahkan Anisa masuk, padahal dia baru ini melihat gadis itu.
"Aku harap semuanya akan baik-baik saja." gumam sang satpam menatap kepergian Anisa.
Sementara di dalam rumah, Nita sudah bertemu dengan Abian. Dia pun telah memberikan makan siang yang dia bawa untuk pria tampan itu. Tentu saja Abian sangat senang dan menerimanya dengan tangan terbuka. Namun, keduanya di kejutkan dengan suara Anisa. Sontak mereka pun menoleh ke arah pintu.
"Anisa?" ucap keduanya secara bersamaan.
Senyum yang tadinya terpatri di kedua sudut bibir Anisa, kini pudar begitu saja ketika melihat keberadaan Nita.
'Ck, kenapa perempuan itu ada disini?' decaknya kesal bicara dalam hati.
Anisa mencoba untuk tersenyum, dia berjalan menghampiri Abian dan Nita yang masih duduk di sofa.
"Nisa, tumben kau datang ke rumahku? Apa ada sesuatu hal yang penting?" Abian mempersilahkan Nisa duduk.
"Oh, tidak, Tuan! Saya hanya ingin memberikan ini kepada Anda," jawab Nisa sambil menyodorkan bingkisan plastik berisi kotak makan.
Abian pun menerima sebagai tanda menghargai, dia tidak mungkin menolaknya karena pasti akan membuat Nisa tersinggung.
"Apa ini?" Abian bertanya.
"Makan siang untuk Anda. Saya baru saja belajar memasak dan saya ingin Anda merasakan hasilnya. Maaf jika mungkin tidak seenak masakan para suhu." ucap Nisa dengan menekan kata suhu dan melirik Nita sejenak.
"Baiklah, terima kasih, Nisa. Seharusnya kalian berdua tidak perlu repot-repot membawakan aku makanan seperti ini karena aku bisa membelinya diluar, dan apa kalian lupa jika aku memiliki pembantu di rumah ini?"
Seketika kedua wanita itu menjadi salah tingkah.
__ADS_1
"Tidak merepotkan, Tuan. Lagipula, hanya sesekali." sambung Nita dengan lembut.
Nisa hanya mendengus mendengar suara sok lembut yang keluar dari mulut Nita.
Mereka pun berbincang sejenak hingga tak terasa hampir tiga puluh menit sudah keduanya berada di rumah Abian. Mereka merasa tidak enak karena terlalu berlama-lama berkunjung disana, kedua wanita itu pun berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Setelah keluar dari rumah Abian, Nisa tersenyum sinis ke arah Nita.
"Ada apa?" tanya Nita merasa heran.
"Aku yakin jika kau pasti ingin mengambil hati Tuan Abian 'kan?"
"Memangnya kenapa, Nisa? Meskipun aku ingin mengambil hatinya, tidak ada yang bisa menghentikanku. Apa kau iri atau cemburu padaku?" Nita pun tersenyum lebar.
"Cih, iri denganmu? Untuk apa? Bahkan, aku rasa jika Tuan Abian lebih tertarik padaku dibandingkan dirimu." cibir Nisa melambung tinggi.
"Benarkah? Ya, kita lihat saja nanti dan jangan lupa bersainglah secara sehat," Nita tersenyum manis lalu pergi dari hadapan Nisa.
"Dasar Janda sok kecantikan! Percaya dirimu terlalu tinggi, Nita." Nisa pun akhirnya dari sana.
•
•
•
TBC
YUK TINGGALKAN JEJAKNYA 😘
__ADS_1