
Tiga hari kemudian, mereka akhirnya bekerja seperti biasa. Dimana Abian yang bersikap biasa pada Nita tetapi tidak dengan Nisa. Dia begitu perhatian pada Nisa selama tiga hari ini, bahkan dirinya selalu mengantarkan makanan untuk Nisa. Hal itu pun mampu membuat Tian curiga dan sedikit cemburu, tetapi dia mencoba untuk tetap tenang dan melihat apa yang akan terjadi ke depannya.
Saat ini Abian, Nita dan Nisa sedang meninjau lokasi di daerah pedalaman. Jalur jalan yang mereka lalui cukup parah karena habis hujan. Disana akan dibuat sebuah penginapan untuk para pendaki gunung atau pun para wisatawan lainnya. Keindahan alam membuat tempat itu sangat ramai, bahkan tak henti-hentinya para wisatawan berkunjung kesana.
Nisa duduk di kursi depan sementara Nita duduk di belakang.
"Tuan, kenapa kita tidak jalan kaki saja? Sepertinya kita akan terlambat sampai ke lokasi," ucap Nisa.
"Kau tenang saja, aku yang menyetir dan kau tidak perlu ragu dengan kemampuanku." gurau Abian dengan tawa kecil.
Keduanya saling tertawa tetapi tidak dengan Nita, dia sudah seperti obat nyamuk yang melihat keakraban antar kedua orang berbeda gender itu. Setelah kejadian di rumah waktu itu, Nisa sedikit berubah, namun gadis itu tetap baik pada Nita karena Nita tidak tahu apa-apa.
Sesampainya di tempat tujuan, mereka langsung keluar dan Abian dengan cepat mengitari mobil lalu membukakan pintu untuk Nisa.
"Terima kasih, Tuan. Seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini." ujarnya tersenyum manis.
"Tidak masalah, hanya sedikit perhatian kecil." jawab Abian membalas senyuman itu.
Nita pun terdiam dan dadanya sangat sesak ketika melihat kedua orang tersebut saling berinteraksi seperti itu. Bahkan, mereka sudah terlihat semacam pasangan yang saling mencintai.
'Ini adalah pilihanku, jangan lemah, Nita. Kau tidak boleh bersedih melihat Abian bersikap manis pada Nisa. Kau harus ingat apa yang telah kau katakan pada Abian tempo lalu, kau tidak boleh plin plan.' batin Nita dan dia melirik ke arah Nisa yang terlihat bahagia dengan senyum di bibirnya.
__ADS_1
Bagaimana tidak, setelah kejadian itu, Abian mencurahkan semua kasih sayangnya dan dia itu mampu membuat Nisa menjadi bahagia. Gadis itu merasa jika kedewasaan Abian bisa membuatnya tenang, walaupun disisi lain ada Tian yang juga mencoba untuk membuat dirinya bahagia.
Saat hendak melewati jalan yang cukup licin, tanpa sengaja Nita terpeleset dan Abian dengan sigap menangkapnya. Untungnya pria itu tiba tepat waktu sehingga Nita tidak jatuh, jika Abian datang terlambat maka semua pakaian wanita itu pasti akan kotor.
Keduanya saling bertatapan dengan lekat, dimata Abian tentu saja masih ada menyimpan rasa cinta yang tulus untuk Nita. Tetapi sejenak kemudian, pria itu mengingat kembali apa yang Nita inginkan darinya. Secepat mungkin dia membantu Nita berdiri dan meninggalkan wanita tersebut begitu saja.
"Kenapa rasanya sakit sekali? Aku bisa melihat ada cinta untukku disana, tetapi aku juga yakin jika dia sangat tersiksa batin karena harus bersama dengan wanita yang tidak dia cintai sama sekali. Maafkan aku, Tuan.'' lirihnya sambil menatap punggung Abian. Tawa pria itu adalah palsu, semuanya tidak baik baginya.
Setelah perjalanan panjang dan menuntaskan pekerjaan, mereka pun bergegas untuk makan siang. Berhubung tempat itu termasuk pedalaman, mereka bertiga memutuskan untuk makan di salah satu warteg.
"Kau ingin pesan apa?" tanya Abian pada Nisa.
Gadis itu terdiam sambil memilih makanan apa yang ingin dia lahap. "Em, aku mau lele bakar dan sambalnya saja. Udah,"
Hal tersebut di sadari oleh Nisa, dia melirik Nita sejenak lalu bertanya apa yang diinginkan oleh wanita itu.
"Aku akan memesannya sendiri." ucap Nita tersenyum simpul, dia berdiri dan menghampiri sang pemilik warteg.
Nita tidak kembali ke kursi, dia memilih untuk pergi ke kamar mandi umum yang ada disana. Saat berada di dalam, dia menyandarkan tubuhnya di dinding. Nita pun mendongak sambil menutup kedua matanya sejenak.
"Aku harus tetap bertahan, semua ini sudah keputusanku. Aku tidak boleh cemburu ataupun iri dengan segala perhatian yang Tuan Abian berikan pada Nisa," gumamnya sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
Biar bagaimanapun, jujur dia sangat mencintai Abian. Tetapi dirinya tidak bisa bersama dengan pria itu demi Nisa seorang. Tak lama kemudian, dia keluar dari kamar mandi karena sudah hampir sepuluh menit berada disana.
Ketika Nita sudah sampai di meja, dari kejauhan dia melihat Abian yang memberikan suapan kepada Nisa. Dirinya mengambil napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia harus bisa mengontrol diri dan hati.
"Maaf, makanannya sudah datang, ya?" tanya Nita dengan raut wajah biasa saja.
"Eh, Mbak Nita dari mana saja? Kami bahkan sudah mulai makan." jawab Nisa.
"Aku tadi habis dari kamar mandi."
Sesekali Abian melirik ke arah Nita, dia bisa melihat perbedaan raut wajah Nita tadi dan sekarang. Matanya sedikit memerah dan hidungnya juga, pria itu berpikir apakah Nita menangis atau bagaimana?.
Nita pun tidak sadar jika dia diam-diam terus di perhatikan oleh Abian. Dirinya terus menyantap makan siang dan berharap bisa cepat pulang ke rumah. Berada di dekat Abian membuat hatinya sangat sakit.
•
•
**TBC
Mampir ke novel karya dari teman Othor, yuk 🥰**
__ADS_1