
Nita menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu khawatir, Ma. Tian itu lelaki yang baik, dan aku tahu kalau dia menyukai Nisa. Dia pasti tidak akan memperlakukan Nisa dengan buruk."
"Syukurlah jika seperti itu." Aini benar-benar merasa lega sekarang. Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah untuk menikmati makan malam.
Setelah selesai membersihkan diri, Nisa keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan kaos oversize berwarna putih yang panjangnya hampir sampai lutut. Dia juga memakai celana jeans pendek di atas lutut membuat tampilannya sangat imut dan juga menggemaskan.
Nisa berjalan ke arah Tian yang sedang berada dibalkon dengan memunggunginya, tampak laki-laki itu fokus melihat ke arah sesuatu sehingga tidak sadar jika dia sudah berada di sampingnya.
"Tian!"
Tian tersentak kaget saat mendengar suara Nisa, dengan cepat dia menoleh ke arah gadis itu. "Ka-kau sudah selesai, Nisa?"
Nisa menganggukkan kepalanya. "Maaf kalau aku mengagetkanmu."
"Tidak apa-apa. Ayo kita makan malam, aku sudah sangat lapar!"
Nisa menganggukkan kepalanya, lalu mereka berdua segera menuju restoran untuk menikmati makan malam.
Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang lelaki paruh baya sedang merenung di ruang kerjanya. Pertemuannya dengan sang mantan istri benar-benar mengguncang jiwa, dan membuat hatinya berdenyut sakit.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Aini. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tapi sepertinya kau sama sekali tidak ingin membicarakan tentang hal lain selain Nisa." dia mengusap wajahnya dengan kasar.
Kehadiran Aini berhasil membuat hati Irwan kembali bergetar, dan dia sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Dulu sekali dia merasa muak dan ingin bersama dengan Mona, tetapi setelah bersama dengan wanita itu. Setiap hari dia selalu merindukan Aini, dan memikirkannya setiap saat.
Apalagi saat Irwan mendengar kabar tentang pernikahan Aini dengan seorang pengusaha yang tidak kalah kaya darinya, membuat hati Irwan memanas. Namun, dia tidak bisa melakukan apapun dan hanya memperhatikan wanita itu dari kejauhan.
__ADS_1
"Tapi, kenapa dia tiba-tiba datang seperti ini? Apa Nisa menemuinya dan mengatakan sesuatu?" tiba-tiba Irwan beranjak dari kursi untuk mengambil ponselnya yang terletak di atas sofa. Dia lalu mencari nomor ponsel Nisa dan bergegas untuk meneleponnya.
Namun sayang, nomor ponsel Nisa tidak aktif. Bahkan beberapa kali Irwan menghubungi tetapi tetap saja nomor gadis itu tetap diluar jangkauan.
"Si*al! Sebenarnya ada di mana Nisa? Apa dia benar-benar menemui Aini? Atau malah dia sudah tinggal bersama ibunya itu?" Irwan diam sejenak untuk memikirkan kemungkinan yang sedang terjadi, setelah itu dia bergegas mengambil kuncinya untuk menemui mereka.
"Tadi siang Aini datang bersama dengan Nita, dan Nita memanggilnya dengan sebutan Mama. Itu artinya laki-laki yang Aini nikahi adalah ayahnya Nita. Aku harus segera menemui mereka." Irwan beranjak keluar dari ruangan untuk pergi ke rumah Nita, dan menemui Aini beserta Nisa.
"Kau mau kemana?"
Langkah Irwan terpaksa terhenti saat mendengar suara Mona, dia lalu menoleh ke arah belakang di mana wanita itu berada saat ini.
"Kenapa diam, apa kau mau menemui mantan istrimu itu, hah?" tanya Mona dengan nada suara yang penuh dengan kemarahan dan kebencian.
"Kenapa? Kenapa sekarang kau peduli padanya, hah?" Mona berjalan untuk mendekati Irwan dan berdiri tepat di hadapan laki-laki paruh baya itu. "Sudah beberapa hari Nisa pergi, tapi kau sama sekali tidak peduli. Dan sekarang apa? Kau langsung berlari keluar rumah setelah mantan istrimu itu datang ke sini, kau pikir aku bod*oh?"
Irwan menghela napas kesar mendengar ucapan sang istri. "Sekarang bukan saatnya untuk berdebat, Mona. Bukannya kau sendiri, yang menyuruhku untuk mencari Nisa?"
Mona mengepalkan tangannya dengan emosi. "Tapi kenapa sekarang, hah? Kenapa saat wanita itu datang menemuimu, kau langsung sibuk ingin mencari keberadaan Nisa?"
"Kau salah paham padaku, Mona. Aku mencari Nisa bukan karena Aini, tapi karena aku mengkhawatirkan keadaan putriku!" ucap Irwan dengan penuh penekanan.
Mona tersenyum sinis saat mendengarnya. "Khawatir pada Nisa kau bilang?" dia maju selangkah hingga tubuhnya berada sangat dekat dengan tubuh Irwan. "Kau bukan khawatir dengan Nisa, tapi dengan wanita itu. Ibu dari anakmu!"
"Mona!"
__ADS_1
"Apa? Kau ingin berkata kalau aku salah sangka, begitu?" teriak Mona membuat wajah Irwan merah padam menahan kesal. "Kau bukan ingin mencari Nisa, tapi mencari Aini. Apa kau ingin mengenang masa lalu di antara kalian, hah?"
Irwan mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras, sungguh dia sudah sangat emosi sekali dengan apa yang Mona katakan.
"Atau, kau ingin membahas kisah cinta kalian yang belum usai, begitu?" tuduh Mona. "Ah, atau jangan-jangan kau ingin kembali bercinta dengannya?"
"Mona!" teriak Irwan sambil mengangkat tangannya dan bersiap untuk melayangkan tamparan, membuat Mona langsung terkesiap.
Untung saja Irwan masih menahan diri, hingga tidak melakukan kekerasan pada Mona dan beralih menghempaskan tangannya dengan kasar.
"Ka-kau, kau ingin menamparku?" tanya Mona dengan tidak percaya. Untuk pertama kalinya Irwan mengangkat tangan dan hendak memukulnya, padahal sejak dulu laki-laki paruh baya itu tidak pernah melakukannya walaupun dia bertengkar dengan Nisa.
"Hentikan semua ini sebelum aku benar-benar marah, Mona! Dan perlu kau tau, Aini bukanlah wanita seperti itu. Dia tidak akan dengan mudahnya bercinta dengan laki-laki lain, sepertimu."
"A-apa?" Mona semakin terkejut mendengar ucapan Irwan.
"Ya. Apa kau lupa, kalau kaulah yang telah merebut aku dari tangannya?"
Mona semakin kesal mendengar penuturan yang Irwan lontarkan.
•
•
TBC
__ADS_1