Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 32 Ungkapan Penderitaan


__ADS_3

Anisa menaiki sepeda motor kesayangannya, dia meninggalkan rumah itu dengan membawa beberapa pakaian dalam kopernya. Dia terus menyusuri jalanan tanpa tau harus pergi ke mana, dan memutuskan untuk berhenti sejenak di taman.


"Hah." Nisa menghela napas kasar.


Semuanya berjalan dengan sangat buruk. Tidak, dari dulu semuanya memang selalu buruk dan tidak pernah membaik baginya.


Nisa mendudukkan tubuhnya dibangku yang ada di taman itu. Jam sudah mulai larut, membuat suasana taman kian hening dan sunyi. Seperti hatinya, yang selama ini selalu sunyi tanpa hadirnya seseorang.


"Cih, tragis sekali hidupku ini. Apa kabar dengan orang lain yang hidupnya lebih menyedihkan dari pada aku?" mata Nisa mulai berkaca-kaca. Sekuat dan sekeras apa pun hatinya, tetap saja akan luluh lantak jika dihantam keadaan seperti ini.


Jika seorang gadis disakiti oleh seseorang, maka dia akan berlari ke dalam rumahnya dan meminta perlindungan dari keluarga. Namun, jika keluarga sendiri yang mau menyakiti bahkan menyiksa gadis itu, lalu ke mana dia akan berlari dan meminta perlindungan?


Keluarga yang bertugas untuk merangkul, dan memberikan dukungan dalam setiap masalah. Sama sekali tidak pernah Nisa rasakan, dia bagai sebatang kara yang menumpang hidup pada orang lain.


Nisa memiliki ayah dan Ibu, tetapi dia tidak punya yang namanya orang tua. Kenapa bisa seperti itu? Setiap orang bisa menjadi ayah dan Ibu, tetapi belum tentu mereka bisa menjadi orang tua.


Orang tua adalah tempat berlindung, tempat mengadu, dan tempat paling ternyaman bagi anak-anak mereka. Lalu, kenapa Nisa tidak pernah merasakan semua itu? Padahal dia punya ayah dan ibu, walaupun mereka sudah berpisah.


Itulah bukti bahwa seorang ayah dan ibu belum tentu bisa menjadi orang tua. Jangankan memberikan kebahagiaan, rasa aman dan juga nyaman. Nisa bahkan tidak pernah diizinkan untuk tertawa seperti orang lain.


Bukankah itu terlalu kejam? Apakah dia harus selalu berteman dengan air mata dan rasa sakit? Sungguh nasib yang malang dan sangat tidak adil sekali.

__ADS_1


"Ayah, Ibu. Sebenarnya kenapa kalian menghadirkan aku ke dunia ini? Apakah hanya untuk menelantarkan dan memberikan penderitaan padaku? Memangnya apa salahku, apa aku yang sudah memaksa kalian untuk menghadirkan aku ke dunia ini? Kenapa kalian sama sekali tidak memikirkan bagaimana kehidupanku? Kenapa?" air mata Nisa jatuh membasahi wajah membuat dia menangis sesenggukan.


"Ayah, Ibu. Tahukah kalian kalau setiap malam aku merasakan kedinginan? Bukan hanya tubuhku, bahkan hatiku terasa sangat dingin. Aku butuh pelukan hangat dari kalian, aku butuh perhatian dan kasih sayang kalian yang bisa menghangatkan hatiku. Apakah kalian tidak tau betapa sunyi dan hampanya kehidupanku?"


"Setiap hari aku berteman dengan sepi dan angin malam. Aku bahkan tetap kesepian saat berada dikeramain, dan aku juga merasakan kesedihan yang amat mendalam. Kenapa tidak kalian bunuh saja aku? Setidaknya aku hidup disyurga dan tidak dalam neraka yang kalian ciptakan ini. Pernahkan kalian memikirkanku sedikit saja? Apakah kalian pernah bertanya aku sudah makan atau belum, dan bagaimana pekerjaan yang aku lakukan? Pernahkah?"


"Ayah, Ibu. Aku tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tuaku. Tapi kalian bisa, kalian bisa memilih apakah kalian ingin memiliki anak atau tidak. Sungguh Ayah, Ibu. Kalian sangat luar biasa dalam memberikan luka dan air mata untukku, anak kalian sendiri. Bahkan kalian telah menguatkan langkah kakiku agar bisa berjalan seorang diri dalam kerasnya hidup ini. Terima kasih, terima kasih atas semua goresan luka yang sudah kalian ciptakan."


Nisa menumpahkan semua rasa sakit yang selama ini berada dalam hatinya. Rasa sesak yang sejak dulu di tahan, kini seakan keluar tanpa bisa dicegah. Hatinya sudah tidak bisa lagi menerima semua ini, yang benar-benar sangat menyakitkan.


Tanpa Nisa sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan. Wanita itu ikut menangis saat mendengar semua perkataannya, bahkan tidak menyangka kalau kehidupan Nisa ternyata sangat menyedihkan seperti itu.


"Selama ini kau sudah berjuang untuk hidup dan menahannya seorang diri, Nisa. Aku, aku ikut sedih dengan apa yang kau rasakan," ucap Nita.


Awalnya Nita tidak ingin peduli dan ikut campur urusan Nisa. Namun, dia ingat bahwa gadis itu pernah menyelamatkan nyawanya bahkan ketika hubungan mereka tidak baik.


Nita lalu memutuskan untuk mengikuti Nisa dan langsung memutar mobilnya, dia melihat ke sekeliling tempat untuk mencari keberadaan Nisa. Sampai akhirnya dia melihat wanita itu sedang duduk di taman dengan lampu yang temaram.


Nita menarik napas panjang sebelum menghampiri gadis itu. Dia tau kalau Nisa pasti tidak akan suka dengan keberadaannya, tetapi dia tetap harus mendatangi gadis itu karena dia tau betapa beratnya menanggung semua penderitaan seorang diri.


"Apa kau baik-baik saja, Nisa?"

__ADS_1


Nisa mendongakkan kepalanya saat mendengar suara seseorang, sontak dia menghapus air mata yang masih membekas diwajahnya saat melihat Nita.


"M-Mbak, apa, apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan tajam.


Nita tersenyum sambil duduk di samping Nisa dengan jarak yang tidak terlalu dekat. "Aku habis belanja, lalu tidak sengaja melihatmu duduk sendirian di sini. Maka dari itu aku menghampirimu."


Nisa lalu melihat lurus ke depan membuat Nita menatap dengan heran. "Lalu, kenapa Mbak mendatangiku?"


"Em ... karena aku merasa khawatir, Nisa. Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena aku tidak sengaja mendengar apa yang kau katakan tadi. Sungguh, aku benar-benar tidak sengaja,"


"Tidak apa-apa. Lagi pula itu bukan sesuatu yang dirahasiakan, melainkan sebuah rasa sakit yang ada dalam hati seseorang."





Tbc.


YUK TINGGALKAN JEJAK MANISNYA 😘

__ADS_1



__ADS_2