Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 62 Menyembunyikan perasaan yang hancur


__ADS_3

Pria tersebut memeluk tubuh Nisa tanpa mengatakan sepatah kata pun, hal itu membuat Nisa heran dan dia segera memberontak agar Tian melepaskan pelukan tersebut.


"Tian, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah tidak waras? Jangan seperti ini!" ucap Nisa sambil mencoba mengurai pelukan.


Tian tidak bergeming, dirinya masih betah memeluk tubuh gadis yang dia cintai. "Aku sedang kurang enak badan, Nisa. Tolong izinkan aku untuk memelukmu sejenak, hanya sebentar." pintanya memelas, mungkin setelah Nisa menikah dengan Abian, dirinya tidak akan bisa mendekati gadis itu lagi.


"Astaga, kenapa mau tidak bicara padaku kalau sedang tidak enak badan? Bagaimana jika kita ke apotik atau rumah sakit saja?"


Tian menggeleng. "Aku hanya ingin seperti ini sebentar saja, tolong jangan menolaknya, Nisa."


Nisa pun terdiam dalam hati, jujur dia heran dengan sikap Tian. Pria itu sewaktu datang tadi terlihat baik-baik saja, tetapi saat ini semuanya berubah drastis. Dia tampak lesu, tidak bersemangat dan sedih.


'Nisa, andaikan saja malam ini aku bisa mengatakan tentang semua perasaan istimewaku padamu. Pasti aku akan menjadi pria yang paling bahagia, apalagi jika mau menerima cintaku. Tetapi, semuanya hanyalah ilusi semata. Kau sebentar lagi akan menjadi milik pria lain, dan pria itu adalah om ku sendiri. Aku sangat mencintaimu, Nisa. Sangat sangat mencintaimu! Meskipun kau nanti menikah dengan om Abian, pasti cinta ini tetap bersemi di dalam hatiku.' batin Tian dalam hati, dia memejamkan matanya sejenak.


'Kau harus kuat, Tian. Bukankah kau mencintai Nisa? Kalau begitu, apa yang bisa membuat gadis itu bahagia pasti kau akan memenuhinya. Meskipun rasa cintamu yang harus di korbankan.' batin Tian kembali, dia menyemangati dirinya sendiri.


Tak berselang lama, Nisa mulai merasa jika ada yang aneh dengan Tian. Pria itu tetap diam membisu, bahkan dia enggan untuk berbicara apa pun.


"Tian, apa kau sudah selesai memelukku? Aku merasa sesak." ujar Nisa membuat pelukan terurai, gadis itu tersenyum manis karena dia bisa bernapas dengan lega.


"Jadi bagaimana pendapatmu tentang lamaran dari Tuan Abian?"


"Menurutku, jika kau juga mencintainya maka terima saja lamaran darinya."

__ADS_1


Nisa terdiam sambil berpikir, dia akan mencoba untuk menjalani hubungan bersama dengan Abian. Lagipula, Abian adalah sosok pria yang baik dan dia pasti tidak akan menyakiti hati seorang wanita.


''Baiklah jika itu saran darimu, aku akan mencoba untuk menerima Tuan Abian. Semoga saja cintanya tulus untukku dan dia tidak hanya ingin mempermainkan perasaanku." Nisa menopang dagunya


"Mana mungkin om ku seperti itu, Nisa. Om Abian adalah pria yang baik, dia ditinggal oleh mantan istrinya karena bangkrut waktu itu. Sudah tiga tahun dia menduda, dan baru sekarang dirinya menemukan cinta sejati yaitu dirimu. Ya, Om Abian tentu saja percaya padamu hingga dia memutuskan untuk kembali menjalani bahtera rumah tangga."


Tiba-tiba senyum manis di bibir Nisa pun terbit, dia membayangkan jika dirinya sudah menikah dengan Abian sang hot duda.


Beberapa jam kemudian, Tian berpamitan untuk kembali ke kantor karena dia sedang ada meeting penting dengan klien. Nisa pun mengantarkan pemuda itu sampai di depan pintu dan dia melambaikan tangannya.


"Dah, Tian! Terima kasih karena kau sudah bersedia mendengarkan curhatanku."


Tian hanya mengangguk, dia pergi dari sana dengan langkah gontai dan hati yang hancur. Bagaimana tidak, dia mencintai seorang gadis yang ternyata akan segera menikah dengan Om nya sendiri. Hati siapa yang tidak remuk jika menerima kenyataan seperti itu?.


Dia masuk ke dalam mobil dan membenturkan kepalanya di setir kemudi. Dirinya juga berteriak cukup kencang untuk meluapkan segala sesak di dada yang hampir membuat jantungnya berhenti berdetak.


Saat sudah merasa lega, Tian segera pergi dari pekarangan hotel tersebut. Sementara Nisa, gadis itu duduk manis di atas ranjang sambil menghubungi seseorang.


****


Malam harinya.


Sebuah mobil sport berwarna gold berhenti di halaman rumah Nita, seorang pria tampan dengan balutan kemeja dan celana jeans kekinian terlihat berjalan dengan cool menuju pintu rumah.

__ADS_1


Tok tok.


Pintu rumah tersebut di ketuk dan tak lama kemudian, Aini membukanya dengan lebar. Dahinya mengerut ketika dia melihat pemuda di depannya saat ini. Ya, dia tidak mengenal pemuda tersebut.


"Halo, tante. Selamat malam," sapa Bima diselingi senyum ramah.


"Malam, cari siapa, ya?"


"Nitanya ada, tante? Saya temannya dan kami sudah membuat janji untuk makan malam bersama di luar."


"Oh, temannya Nita? Maaf ya, soalnya tante baru melihatmu datang berkunjung ke rumah ini."


"Tidak apa, tante." jawab Bima tetap mengembangkan senyumnya.


"Ayo, masuk! Tante panggilkan Nitanya dulu."


Mereka pun masuk ke dalam rumah, dimana Bima memutuskan untuk duduk di atas sofa sementara Aini, wanita paruh baya itu bergegas memanggil Nita. Hingga tak lama kemudian, turunlah Nita yang memang sudah bersiap sedari tadi.


Bima menoleh, dia terpesona dengan kecantikan Nita pada malam hari ini. Penampilannya sangat anggun, natural, dan elegan. Saat ini Nita memakai gaun selutut berwarna putih yang senada dengan atribut lainnya seperti tas, anting, dan heels.


Bima beranjak dari sofa, dia berjalan ke arah Nita tanpa berkedip sedikitpun. Sudah beberapa tahun mereka tidak bertemu dan Nita sekarang benar-benar sudah seperti jelmaan seorang bidadari.


__ADS_1



TBC


__ADS_2