Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab 13. Menyelamatkan nyawa Nita


__ADS_3

Suasana semakin memanas saja saat ini. Terutama bagi Riko yang amarahnya sudah mencapai ubun-ubun, di tambah dengan kehadiran Abian seakan-akan sedang menyiram bensin di tengah kobaran api yang menyala dahsyat.


"Wah wah wah. Ada apa ini? Apa sedang terjadi sesuatu di antara kalian?"


Nisa dan Abian mengernyitkan kening mereka dengan bingung. Sepertinya Riko benar-benar sudah sinting, karena saat ini ucapan laki-laki itu sudah entah sampai mana-mana.


"Aku yakin kalau ada hubungan spesial di antara kalian."


"Lalu kenapa? Apa masalahnya denganmu, hah?" sarkas Nisa membuat Riko tersenyum miring.


"Ternyata kau ya, yang telah bermain api dengan mereka?" Riko kembali menunjuk ke arah Abian. "Waktu itu kau berhubungan dengan istriku, lalu sekarang kau berhubungan dengan wanita ini. Heh, sekarang aku tau kalau wanita murahan itu pasti menyiapkan kejutan untukmu."


Abian semakin tidak mengerti dengan apa yang laki-laki gila itu katakan, dia lalu melihat ke arah Nisa seolah-olah sedang bertanya apa yang dimaksud oleh Riko.


"Jangan dengarkan apa yang keluar dari mulut busuknya itu, karena apa yang laki-laki gila ini katakan tidaklah benar."


"Kau!" Riko benar-benar geram sekali melihat Nisa, tetapi dia tidak bisa melakukan apapun karena saat ini Abian ada bersama mereka.


"Sudahlah, aku muak berhadapan dengan laki-laki sepertimu. Ayo, lebih baik kita pergi dari sini!" Nisa langsung menggenggam tangan Abian dan menarik laki-laki itu untuk pergi dari tempat itu, sementara Abian hanya diam sambil melihat ke arah tangannya yang sedang digenggam oleh Nisa.


Nisa terus menarik tangan Abian sampai mereka berada di samping mobil laki-laki itu. "Huh, benar-benar sinting. Energiku untuk seminggu ke depan langsung lenyap karena laki-laki psycopath itu!" dia merasa benar-benar kesal.


Abian yang berada di samping Nisa tersenyum tipis mendengar omelan wanita itu.


"Ternyata apa yang orang-orang ceritakan tentangmu itu tidak benar, Nisa. Mulutmu memang pedas, tapi hatimu tidak." ucapnya dalam hati karena sering mendengar orang-orang yang ada di kompleks menceritakan tentang keburukan Nisa, mereka bahkan memperingatkannya agar tidak dekat-dekat dengan wanita itu.


"Halo, Tuan?" Nisa melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Abian membuat laki-laki itu tersentak kaget.

__ADS_1


"Y-ya, ada apa?" tanya Abian dengan gelagapan akibat terkejut.


"Terima kasih karena sudah membantu saya, Tuan." ucap Nisa dengan senyum manis yang tercetak dijelas diwajahnya.


Abian menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan wanita itu. "Ini sudah malam. Apa Anda ingin pergi ke tempat lain, atau pulang?" dia berniat untuk mengantar Nisa karena sekarang sudah larut malam.


"Nisa, panggil saya Nisa saja, Tuan.'' ucap Nisa, dia tidak biasa dipanggil dengan bahasa formal seperti itu. "Aku memang mau pulang. Tapi, apa aku bisa minta bantuan Anda sekali lagi?"


Abian mengernyitkan keningnya. "Bantuan apa?" dia merasa sepertinya wanita ini sedang memanfaatkan kebaikan hatinya.


"Anda akan tau nanti, sekarang kita harus segera ke rumahnya sebelum dia mati."


"Apa?" Abian sangat terkejut dengan kata-kata terakhir yang Nisa ucapkan. "Apa maksudmu?" dia menatap Nisa yang sudah berdiri di samping pintu mobilnya.


"Kita sudah tidak punya banyak waktu, Tuan. Lebih baik kita pergi sekarang," Nisa sudah memegang pegangan pintu mobil itu seakan-akan menyuruh Abian untuk segera membuka pintu mobilnya.


Abian hanya bisa menghela napas kasar dengan apa yang wanita itu lakukan, dia lalu membuka pintu mobilnya dan segera masuk ke dalam mobil tersebut.


Sesampainya di halaman rumah Nita, Nisa langsung saja keluar dari mobil dengan diikuti oleh Abian. Sebenarnya, Abian tidak ingin ikut campur dengan urusan Nisa, tetapi dia khawatir kalau wanita itu akan menyebabkan keributan di kompleks perumahan mereka.


"Apa yang akan kau lakukan?" Abian menahan tangan Nisa yang sudah berniat mengetuk pintu rumah Nita.


"Tuan tenang saja, serahkan semuanya padaku." Nisa segera mengetuk pintu rumah itu diiringi dengan suara teriakannya yang terus memanggil nama Nita.


"Mbak, mbak Nita. Mbak, buka pintunya!" Nisa terus memanggil Nita membuat beberapa tetangga yang terusik dengan suaranya langsung keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Hentikan, Nisa! Kau sudah mengganggu para tetangga." Abian mencoba untuk menghentikan apa yang Nisa lakukan, tetapi wanita itu tidak menghiraukannya.

__ADS_1


"Hey gadis gila, apa yang kau lakukan malam-malam gini di rumah orang?" teriak seorang wanita yang merupakan tetangga Nita.


"Iya benar, malam-malam gini buat keributan aja kamu. Cepat pergi dari sini!" tambah tetangga yang lainnya juga. Terlihat beberapa orang berkumpul di depan rumah Nita sambil menggerutu kesal atas keributan yang Nisa lakukan.


"Berisik!" Nisa tidak memperdulikan mereka semua. Dia lalu mengambil sebuah batu besar dan langsung memecahkan kaca jendela rumah itu.


Pyar.


Semua orang sontak langsung terkejut dengan apa yang Nisa lakukan, terutama Abian yang tercengang dan tidak bisa melakukan apa-apa.


"Hey, Nisa! Apa yang kau lakukan?" teriak para tetangga yang sudah menjelma menjadi penonton.


Nisa sama sekali tidak memperdulikan mereka semua. Dia segera memasukkan kepalanya melalui jendela, dan untung saja jerjak besi jendela itu sedikit besar.


"Mbak, mbak Nita!"


Nita yang saat itu masih tergeletak di atas lantai sontak membuka kedua matanya saat mendengar panggilan seseorang. "Tolong, tolong aku." Dia berusaha untuk bangun tetapi tubuhnya tidak bisa untuk digerakkan.


Nisa yang mendengar suara Nita kembali berteriak membuat orang-orang langsung mendekat ke tempat itu.


"Tolong, tolong aku," teriak Nita dengan sekuat tenaga.


Nisa yang jelas-jelan mendengar teriakan Nita langsung melihat ke arah semua orang. "Cepat, kita harus mendobrak pintu rumahnya."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2