Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab 8. Akibat dari perkataan Nisa


__ADS_3

Pukul empat sore, Riko pulang ke rumah dengan hati riang karena dia penasaran akan kejutan yang telah Nita persiapkan untuknya. Dia bahkan terus mengembangkan senyum untuk mencurahkan rasa bahagia itu. Sesampainya di rumah, Riko langsung masuk ke dalam dan rumah itu terlihat sepi. Dalam hati, Riko bertanya-tanya kemana Istrinya.


Dia melangkah ke lantai atas dengan menaiki anak tangga, setelah itu dirinya membuka pintu kamar dan ternyata Nita ada di dalam sana. Terlihat Nita duduk di tepi ranjang dan termenung. Riko segera menghampiri Nita yang tidak sadar akan kedatangannya.


Riko duduk di sebelah Nita, dia menatap wajah cantik istrinya itu dengan dahi mengerut.


"Sayang," ucap Riko lembut sambil memegang pundak Nita.


Nita terjingkat kaget karena dia sedari tadi hanya melamun saja.


"M—mas, kau sudah pulang?"


Riko mengangguk, dia mengelus kepala Nita dengan lembut.


"Kau baik-baik saja?"


Nita hanya tersenyum tipis. "Maaf, aku tidak mendengar jika kau sudah pulang."


Tidak masalah, aku sengaja pulang cepat karena penasaran dengan sesuatu." Riko tersenyum lebar.


Nita tidak mengerti apa yang Riko katakan. "Sesuatu? Apa maksudnya?" tanyanya penuh keheranan.


"Kau tidak ingat? Bukankah kau telah melakukan semuanya untukku?"


"Mas, kau ini sedang bicara apa? Aku tidak paham." ucap Nita jujur.


Riko berdiri di hadapan Nita. "Kau ingat ini hari apa?"


Nita tentu saja mengingatnya. "Hari Rabu."


"Bukan, maksudku tanggal berapa dan ada sesuatu hal istimewa apa di hari ini?"


"Mas, bicaralah dengan jelas dan jangan semakin membuatku merasa pusing." Nita mendengus.


"Nita, kau tidak ingat ini hari specialku?"


Nita terdiam, lalu tak lama kemudian, dirinya tersentak kaget karena Riko membentaknya dengan kencang.

__ADS_1


"Jujurlah padaku, untuk siapa kau menyiapkan pesta kejutan ulang tahun itu?" mata Riko memerah dan menatap tajam.


"Siapa apanya? Bahkan, aku bingung saat ini kau sedang membahas masalah apa!" ucap Nita.


"Kau lupa jika ini hari ulang tahunku? Mengapa bisa, Nita? Berarti kau telah menyiapkan kejutan ulang tahun bukan untukku melainkan untuk pria di luar sana. Benarkan? Sekarang katakan padaku siapa pria itu!" teriak Riko murka.


Nita baru mengingat jika hari ini adalah hari ulang tahun Riko, entah mengapa dia bisa melupakan hari special tersebut. Nita merutuki kebodohannya dalam hati.


"Mas, maafkan aku. Aku, aku lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunmu. Begitu banyak sesuatu yang ku pikirkan hingga aku melupakan hari specialmu. Maafkan aku,"


Plak!


Nita terkejut, dia sudah meminta maaf bahkan berbicara lembut tetapi Riko malah bereaksi seperti ini.


Riko mencengkram dagu Nita dengan kuat hingga Nita sulit bernapas.


"M—mas, le—lepaskan aku." pinta Nita dengan wajah memelas.


"Siapa pria itu, hah! Siapa pria yang ingin kau senang kan dengan sebuah kejutan darimu. Jawab aku, Nita!"


Nita diam karena dia tidak paham dengan apa yang Riko katakan.


Nita gelagapan, dia mencoba menarik napas agar udara masuk ke paru-parunya. Dagunya terasa sakit dan dadanya sangat sesak mendengar pertanyaan tidak masuk akal dari Riko.


Riko yang melihat wajah Nita memerah dan napasnya terengah, segera melepaskan tangannya dengan kasar. Sementara Nita, dia saat ini bisa bernapas dengan lega.


"Mas, pertanyaan apa itu? Aku tidak mengerti dan aku tidak membuat kejutan apa pun." ucap Nita lirih karena suaranya hampir habis.


Riko berteriak, dia memukul udara dan meraup wajah dengan kasar. Dia rasanya ingin sekali memukul Nita tetapi semua itu dia urungkan karena dirinya harus bisa menjaga otaknya gara tetap bertindak waras.


"Lagi pula, siapa yang sudah mengatakan padamu jika aku membuat kejutan?"


"Anisa! Tadi pagi, aku bertemu dengannya dan dia mengatakan jika kau sudah membuat kejutan untukku. Kau keterlaluan, Nita. Bahkan, untuk hari ulang tahunku saja kau melupakannya. Bagaimana aku tidak selalu curiga padamu?"


"Aku tau jika aku salah dan aku minta maaf. Kau, kau lebih percaya perkataan perawan tua itu dari pada aku yang jelas-jelas istrimu sendiri?" Nita beranjak dari ranjang karena dia merasa kesal dan emosi dengan perbuatan Nisa.


Riko diam saja sambil memalingkan wajah, emosinya masih ada di dalam hati maka dari itu sebisa mungkin dia mencoba meredamnya.

__ADS_1


Tanpa bicara apa pun lagi, Nita segera melangkah pergi dari kamar.


"Nita! Kau mau kemana?" teriak Riko memanggil Nita tetapi di abaikan oleh wanitanya itu.


Nita melangkah dengan cepat keluar dari rumah, emosinya sudah mendidih dan berada di ujung kepala. Ingin sekali saat ini Nita merobek mulut Anisa yang selalu dia juluki sebagai perawan tua.


Sesaat kemudian, dirinya telah sampai di rumah Nisa. Bahkan, ketika para warga menyapanya, Nita tidak mempedulikan karena dia merasa kesal dengan Anisa. Dia mengetuk pintu dengan kencang hingga keluarlah Mona dari dalam sana.


Mona mencoba tersenyum ramah karena kedatangan tamu yang tinggal satu kompleks dengannya.


"Nita, tumben kau—" ucapan Mona terputus karena Nita menyelanya dengan cepat.


"Dimana Nisa?" tanya Nita dengan raut wajah dingin.


Mona heran, tidak bisanya Nita bertanya tentang Nisa dan sampai ke rumah seperti ini.


"Nisa ada di kamarnya, ada apa, ya?"


"Panggilkan dia karena saya ingin berbicara sesuatu hal yang sangat penting!" tekan Nita meminta kepada Mona.


Mona yang sangat heran hanya kembali masuk ke dalam dan memanggil Nisa.


Setelah itu, Nisa berjalan menuju pintu utama. Dia dapat melihat Qanita yang menatapnya dengan tajam.


"Mbak, ada ap—"


Plak!


Belum saja bertanya, Nita sudah melayangkan tamparan keras di pipi Nisa. Tentu saja Nisa, Mona dan Mira kaget dengan perlakuan Nita barusan.


"Beruntung kau sudah pulang kerja dan aku memang sengaja datang ke rumah ini untuk bertemu denganmu, gadis sia*lan!" ucap Nita tajam seakan ingin memakan lawan bicaranya itu.




**TBC

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹**



__ADS_2