
Nisa memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing, sepertinya dia akan demam karena terkena hujan deras. Bajunya basah kuyup membuat perutnya merasa tidak enak. Perlahan dia membuka kelopak mata dan melihat ada Tian di depannya. Ya, dia pikir itu hanyalah halusinasi atau mimpi.
"Nisa!" panggil Tian membuat lamunan Nisa buyar, gadis itu mengedipkan matanya berulangkali hingga dia sadar jika ini adalah nyata.
"T—tian," lirih Nisa dan langsung menghambur ke dalam pelukan Tian, dia meletakkan kepalanya di dada bidang pria itu.
Tian heran dengan keadaan Nisa saat ini, dia mengelus lembut rambut gadis itu yang sangat lepek karena terkena air hujan. Sementara Nisa, dia menangis sesenggukan di dalam pelukan hangat Tian.
"Nisa, ada apa? Katakan padaku, apa terjadi sesuatu?" Tian masih mendekap tubuh Nisa yang saat ini bergetar karena menangis.
"Hiks, Tian. Tolong bantu aku," tangisnya terdengar memilukan.
Tian mengurai pelukan, dia menangkup wajah Nisa yang sangat sembab. Keadaan gadis itu sangat kacau saat ini. Perlahan, ibu jari Tian terulur untuk menghapus air mata Nisa. Dia juga menyelipkan anak rambut di belakang telinga gadis itu.
"Coba ambil napas dalam-dalam, dan hembuskan perlahan. Jika kau sudah tenang, maka kau bisa menceritakan semuanya padaku." Tian tersenyum manis dan di tanggapi anggukan kepala oleh Nisa.
Pria itu beranjak dari ranjang, dia mengambil handuk dan baju kaos juga celana pendek miliknya. Dirinya memberikan semua itu pada Nisa.
"Sekarang kau mandilah dulu, karena baru saja terkena hujan. Ini, pakailah bajuku dan aku akan keluar sebentar untuk membuatkan sesuatu agar tubuhmu terasa hangat."
Nisa mengangguk, lalu Tian pun pergi dari kamarnya. Setelah kepergian pria itu, Nisa menunduk dan menangis sesenggukan. Dia teringat akan percakapan antara Abian dan Nita yang terus membekas di pikiran.
"Bagaimana mungkin Mbak Nita bisa berpikir sejauh itu? Dia menginginkan kebahagiaanku dengan cara mengorbankan cintanya. Aku, aku tidak ingin dikasihani. Aku tahu hidupku sangatlah pahit, tetapi setidaknya jangan mengasihani aku." Nisa terus menangis.
Setelah lelah menangis, dia pun pergi menuju ke kamar mandi. Dirinya harus membersihkan diri dan menenangkan pikiran. Sekarang ada Tian yang akan mendengar keluh kesahnya.
Sesaat kemudian, dirinya keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos oblong berwarna putih milik Tian. Baju itu terlihat kebesaran di tubuh Nisa yang memang minimalis alias kecil. Dia duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambut dengan menggunakan handuk.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Tian masuk ke dalam kamar membawa nampan berisi teh hangat dan satu mangkuk bubur ayam. Dia meletakkan nampan tersebut di atas meja lalu kembali duduk berhadapan dengan Nisa.
"Bagaimana?"
"Apanya?" Nisa melirik Tian sejenak.
"Tidak, lupakan saja! Lebih baik, sekarang kau minum tehnya dan makanlah dulu agar tenagamu kembali pulih." Tian mengambil nampan dan meletakkan di tengah-tengah mereka.
"Harusnya kau tidak perlu repot-repot seperti ini, Tian. Aku datang kesini untuk mengatakan keluh kesahku, bukan untuk menjadi bebanmu."
"Aku tidak merasa seperti itu, kita ini berteman bukan? Jadi, kau tidak perlu merasa sungkan. Ayo, makan sekarang baru setelah itu kau bisa mengatakan keluh kesahmu."
Nisa menatap bubur itu dengan rasa mual, dia tidak berselera untuk makan dan perutnya pun tidak enak. Namun, dirinya harus menghargai niat baik Tian yang sudah susah payah membuatkannya bubur seperti ini.
"Kenapa hanya dilihat saja? Makanan itu tidak akan habis jika kau hanya menatapnya seperti itu, Nisa. Atau, kau tidak suka dengan bubur buatanku?"
"Tidak-tidak, aku akan memakannya." Nisa mulai mengambil sendok dan menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya sendiri. Dia terlihat sangat sulit menelan makanan tersebut hingga membuat dahi Tian mengerut akibat heran.
"Bukan, Tian! Ini, buburnya sangat enak. Hanya saja, aku tidak berselera jika makan di malam hari seperti ini." ujar Nisa sekenanya.
Tian mengangguk. "Ya sudah, tidak perlu dihabiskan. Sekarang minum tehnya supaya perutmu hangat."
Nisa menyeruput teh manis hangat yang Tian buatkan. "Terima kasih, Tian. Kau sangat perhatian denganku," lanjutnya tersenyum simpul sambil meletakkan gelas di atas nampan.
'Tentu saja aku sangat perhatian padamu, karena aku mencintaimu.' sambungnya dalam hati.
Tian mengambil nampan tersebut dan menaruhnya di atas meja. "Apa sekarang keadaanmu sudah membaik? Aku mohon jangan menangis lagi, Nisa. Jika masalahmu sangat berat, maka kita akan mencari jalan keluarnya bersama-sama."
__ADS_1
Nisa menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. "Kau tau, Tian. Masalahku ini sangat berat yaitu mengenai perasaan."
Tian penasaran dengan ucapan isyarat yang Nisa katakan. "Coba, jika kau sudah siap bercerita kau bisa mengatakan semuanya padaku sekarang."
Nisa menatap lurus ke depan, dia menceritakan semuanya pada Tian mengenai Abian dan Nita yang ternyata mereka saling cinta, tetapi Nita meminta Abian agar menikah dengannya. Ya, Nisa merasa jika keduanya memiliki rasa kasihan terhadap dirinya. Sebagai seorang wanita tangguh, tentu Nisa tidak suka di anggap lemah seperti itu.
Tian mendengarkan curahan hati Nisa dengan seksama. Dia benar-benar kaget karena Abian tega berbuat hal seperti itu. Bagaimana mungkin, pria yang sama sekali tidak suka menyakiti perasaan seorang wanita, kini dia berani membuat wanita lain kecewa dan bersedih. Ya, meksipun Abian hanya menuruti permintaan dari seseorang yang sangat dia cintai, tetapi menurut Tian itu semua tidak benar.
"Jadi seperti itu?" tanya Tian ketika Nisa sudah selesai bercerita.
"Ya, aku mendengarkan sendiri percakapan mereka, bahkan aku melihat mereka berdua berpelukan dengan menggunakan kedua mata kepalaku sendiri. Kau pasti paham bagaimana perasaanku 'kan, Tian? Aku merasa lelah dengan semua ini. Jika saja boleh memilih, aku lebih baik mati daripada terus menjalani kesedihan seperti ini." Nisa kembali menangis.
Tian tidak tega melihat wanita yang dia cintai menangis seperti itu, dirinya memeluk tubuh Nisa dan mengelus puncak kepala gadis itu dengan perlahan.
"Kau tenang dulu, mungkin mereka ingin melihat dirimu hidup bahagia, Nisa. Apalagi Mbak Nita, dia sudah tahu bagaimana perjalanan hidupmu selama ini, kau selalu saja diselimuti oleh kesedihan hingga membuatmu menjadi wanita yang ketus."
"Aku tau jika mereka menginginkan kebahagiaanku, tetapi kenapa langkahnya harus seperti ini? Untung saja aku belum menikah dengan Tuan Abian, jika saja aku sudah menikah dengannya. Maka apa yang akan terjadi? Semua itu sangat rumit, Tian. Aku, aku tidak mau bahagia di atas penderitaan orang lain." ucap Nisa memeluk tubuh Tian yang terasa nyaman untuk tempatnya bersandar.
Tian tidak tahu harus berkata apalagi karena dia berpikir semua ini memang sangat sulit. Dirinya menenangkan Nisa terlebih dahulu lalu.
"Lalu, sekarang apa yang akan kau lakukan setelah kau mengetahui semuanya?" Tian kembali bertanya setelah Nisa tenang.
"Bawa aku pergi, Tian!"
Deg!
•
__ADS_1
•
TBC