
"Kau, kau bilang apa?" tanya Aini dengan tidak percaya.
Bagaimana mungkin lrwan bisa mengatakan hal seperti itu sementara dia sendiri yang melarangnya?
"Kenapa, apa kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan?" Irwan tersenyum sinis membuat Aini habis kesabaran.
"Seharusnya kau yang sadar, Irwan! Bukannya kau sendiri yang melarangku, bahkan mengancam akan mengirim Nisa ke luar negeri jika aku menemuinya, hah?" teriak Aini membuat suaranya menggema di tempat itu.
Nita yang sudah tidak tahan melihat kemarahan sang mama bergegas mendekati wanita paruh baya itu. "Hentikan, Ma! Sudah cukup, jangan membuang-buang tenaga yang nantinya malah akan membuat Mama sakit." dia memegang lengan mamanya.
"Tidak, Nita! Laki-laki itu tidak akan pernah sadar jika aku hanya diam saja, dia malah menyalahkan aku atas perbuatannya sendiri."
Irwan terdiam mendengar apa yang Aini katakan. Dulu, dia memang mengancam wanita itu agar tidak menemui Nisa. Dia merasa sangat emosi karena Aini memutuskan untuk pergi dari rumah, padahal dia sudah berjanji akan bersikap adil padanya dan juga pada Mona.
"Kenapa kau diam, hah? Apa kau baru ingat dengan kebusukan yang kau lakukan?" sinis Aini membuat Nita tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Bertahun-tahun aku menahan kerinduanku padanya, dan yang bisa ku lakukan hanya berdo'a saja untuk Nisa. Tapi apa yang sudah kau lakukan? Kau malah menyiksanya, bahkan sekarang kau menyalahkanku untuk semua itu. Apa kau sudah tidak waras, Irwan?" teriak Aini lagi membuat beberapa tetangga yang mendengar keributan mulai merasa penasaran.
Pada saat yang sama, Nisa baru saja sampai di halaman depan rumah Nita. Dia mengernitkan kening saat melihat ada beberapa orang yang berada di tempat itu.
"Ada apa ini?"
Tiga orang wanita yang berdiri di tempat itu terlonjak kaget saat mendengar suara Nisa. "Ka-kau? Apa yang kau lakukan di sini?" salah satu dari mereka bertanya.
"Aku? Aku ingin menemui Mbak Nita." jawab Nisa. "Tapi apa yang kalian lakukan? Apa kalian ingin berniat jahat pada Mbak Nita?"
"A-apa? Ja-jangan sembarangan kamu!" bantah mereka.
"Kalau begitu cepat pergi dari sini sebelum aku memberitahukannya pada Mbak Nita," usir Nisa sambil menunjuk ke arah jalanan membuat ketiga wanita itu berdecak kesal.
__ADS_1
"Dasar orang-orang gak punya kerjaan!" Nisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat apa yang wanita-wanita itu lakukan.
Kemudian Nisa melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah, dan matanya melirik ke arah mobil Abian yang terparkir di tempat itu. "Apa Tuan Abian ada di dalam?"
"Cukup, Aini! Apapun yang terjadi sekarang, kau tetaplah bersalah karena sudah meninggalkan anakmu sendiri." Irwan tetap bersikukuh tidak ingin disalahkan dalam hal ini.
Nisa yang sedang berdiri di ambang pintu sangat terkejut saat melihat papanya ada di tempat itu, bahkan saat ini sedang bertengkar dengan ibunya.
"Hah, kau benar-benar keras kepala dan tidak punya hati, Irwan. Bagaimana mungkin kau mengatakan itu pada wanita yang sudah kau selingkuhi? Kau menyalahkanku karena Nisa, padahal kau sendiri yang menyebabkan semua ini, Irwan. Kau sendiri!" ucap Aini lagi dengan penuh penekanan.
"Kalau bukan kau, lalu siapa lagi yang mau disalahkan?"
Deg.
Semua orang langsung melihat ke arah pintu saat mendengar suara seseorang, sontak mereka terkejut melihat Nisa sudah berdiri di ambang pintu.
"Nisa, kau sudah pulang, Nak?" Aini melangkahkan kakinya untuk mendekati Nisa, tetapi Nisa langsung mengangkat tangannya.
"Berhenti di sana, aku tidak suka terlalu dekat dengan orang asing."
Deg.
Hati Aini terasa sangat sakit mendengar apa yang Nisa katakan, sementara yang lainnya hanya diam sambil menatap gadis itu dengan sendu.
Nisa lalu beralih melihat ke arah sang ayah. "Apa yang Ayah lakukan di sini?"
Irwan tersenyum ke arah Nisa dan berjalan mendekatinya. "Ayah ke sini untuk mencarimu, Nak. Ayo, ikut ayah pulang!"
Nisa mengenyitkan keningnya mendengar ajakan sang ayah, dia lalu menghela napas kasar karena tahu kenapa laki-laki paruh baya itu melakukannya. "Tidak perlu, Yah. Aku sudah punya tempat tinggal sendiri." dia memang sudah berniat untuk tidak kembali ke rumah Irwan lagi.
__ADS_1
"Tempat tinggal sendiri, maksudmu di sini?" tanya Irwan dengan tajam.
Nisa menggelengkan kepalanya. "Tidak di sini, dan juga tidak di sana. Aku bisa mengurus diriku sendiri tanpa siapapun. Aku lebih dari mampu untuk berdiri di atas kedua kakiku sendiri, dan tidak butuh bantuan orang lain."
Aini menatap Nisa dengan sendu, sementara Irwan semakin emosi dengan apa yang Nisa katakan.
"Lihat, baru beberapa hari dia bersamamu. Tapi ucapannya sudah sangat kurang aja seperti itu." Irwan melirik ke arah Aini, lalu kembali melihat Nisa. "Apa kau pikir, ayahmu ini orang lain?"
Nisa terdiam mendengar apa yang ayahnya katakan, dan malas sekali rasanya bertengkar lagi dengannya.
"Cukup, Irwan. Kau tidak berhak membentak Nisa seperti itu!" ucap Aini dengan tajam.
"Kau yang diam, Aini! Nisa adalah putriku, dan aku yang sudah membesarkannya. Kau lah yang tidak punya hak untuk bertemu atau pun bicara dengannya, kau tidak punya hak sama sekali!"
"Apa? Tapi kau lah yang-"
"Cukup, sudah cukup!" teriak Nisa membuat kedua orang tuanya terdiam, dan mendadak suasana menjadi semakin mencekam.
Nisa mengepalkan tangannya penuh emosi melihat mereka, dan dia sudah muak dengan semuanya. "Cukup, hentikan semua ini sebelum aku menjadi gila!"
"Nisa, kau-"
"Diamlah, Ayah! Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan ini, hah?"
•
•
TBC
__ADS_1