
Brak.
Suara pintu yang ditutup dengan sangat keras menggema di dalam rumah, tentu saja yang melakukannya adalah Nisa.
"Wanita si*alan! Lihat saja kau, aku akan segera menendangmu dan ibumu itu dari rumah ini!"
Nisa langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Dadanya terlihat naik turun karena menahan emosi, dengan napas yang tidak teratur. Dia lalu memejamkan kedua matanya sejenak, dan mencoba untuk menenangkan diri.
Tanpa disangka-sangka, bayangan seorang lelaki melintas dalam benak Nisa membuat senyum tipis tersungging diwajahnya.
''Cih! Bisa-bisanya aku membayangkan wajah tuan Abian.' ucapnya lalu membuka kedua mata dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Nisa segera menyiapkan air di dalam bathtub dan meneteskan aroma terapi ke dalamnya, agar bisa lebih merileksasikan tubuh. Dengan cepat dia membuka pakaian yang masih membalut tubuhnya, dan segera masuk ke dalam bathtub tersebut.
"Hah, segarnya." Nisa sangat menikmati momen seperti ini. Tidak seperti orang lain yang harus pergi healing ke tempat lain agar bisa tenang dan bahagia, baginya cukup seperti ini saja rasanya sudah sangat menenangkan.
"Apa Tuan Hery tadi serius, ya?" ucap Nisa saat mengingat perkataan bosnya saat di kantor tadi. "Tapi kalau memang benar, bagaimana?" dia merasa senang sekaligus bingung.
Beberapa saat yang lalu di perusahaan tempat Nisa bekerja ...
"Kita akan bergabung dengan perusahaan lain dalam mega proyek kali ini, dan saya akan menunjuk Anisa untuk menjadi perwakilan dari perusahaan kita,"
"Apa?" Nisa tersentak kaget saat mendengar ucapan sang atasan, sementara yang lainnya bersorak dengan meriah. "A-apa Tuan tidak salah?"
Lelaki bernama Hery itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Kenapa, apa kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan?"
Nisa langsung menggelengkan kepalanya dan kembali duduk, karena dia tadi sempat berdiri sangking terkejutnya. "Saya bukan tidak percaya pada Anda, Tuan. Tapi saya tidak percaya dengan diri saya sendiri, apalagi masih ada teman-teman lain yang lebih bisa dan pantas untuk—"
"Tumben sekali kau banyak bicara, Nisa? Biasanya kau hanya akan menganggukkan kepala sambil berkata, baik, Tuan." Hery memperagakan apa yang biasa Nisa lakukan saat menerima perintah membuat beberapa orang yang ada di dalam ruangan rapat itu tertawa.
Nisa menundukkan kepalanya dengan wajah bersemu merah. Tentu saja dia merasa malu melihat apa yang atasannya lakukan, apalagi saat ini ada sekitar 10 orang di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Lihat, wajahnya bersemu merah!" seru Hery lagi yang suka sekali menggoda Nisa, membuat tawa yang lain pecah di ruangan itu.
'Dasar! Mati saja kau, Hery. Bisa-bisanya menggodaku seperti ini!' batin Nisa dalam hati, untung saja Hery itu adalah atasan Nisa, jika tidak mungkin wanita itu sudah mengeluarkan tanduknya.
"Hahaha, sudah-sudah. Walaupun saat ini adalah momen bersejarah yang belum pernah terjadi, tapi kita harus menghentikannya sebelum Nisa menjadi murka."
Semua orang langsung diam saat mendengar ucapan Hery, walaupun masih tampak tawa diwajah mereka.
"Sam akan fokus untuk menjalankan proyek kita yang ada di pulau salju, dan Romi juga akan fokus pada proyek kita yang akan bekerja sama dengan pemerintah. Untuk itu, saya serahkan mega proyek kali ini pada Nisa. Saya harap kalian semua bisa bekerja dengan baik, supaya perusahaan kita akan semakin maju dan berkembang."
Suara tepuk tangan kembali menggema di ruangan itu dengan raut bahagia dari semua orang, tetapi tidak untuk Nisa yang masih terkejut dengan semua ini.
Kembali lagi pada Nisa yang masih betah berlama-lama di dalam bathtub sambil memikirkan tentang pekerjaan.
"Baiklah. Besok aku akan kembali menanyakannya pada Tuan Hery. Aku harap dia mengubah keputusannya." tekad Anisa berinsiatif.
Anisa merasa tidak pantas untuk menjadi perwakilan dari perusahaannya dalam mega proyek itu, apalagi bekerja sama dengan perusahaan lain. Jika dia menjadi wakil kepala, atau asisten mungkin dia tidak akan menolaknya.
Tok, tok.
"Nisa!"
Nisa yang baru saja akan membaringkan tubuhnya ke atas ranjang langsung berdecak kesal saat mendengar panggilan seseorang. Dia lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Kau sudah makan malam?" tanya ayah Irwan yang langsung mendapat jawaban gelengan kepala dari Nisa.
"Bersiaplah, kita akan makan malam di luar."
Nisa mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan sang ayah. "Makan di luar?"
"Iya. Malam ini ada kolega bisnis ayah yang mengajak makan malam, dia juga membawa keluarganya. Itu sebabnya ayah mengajakmu juga." jelas ayah Irwan.
__ADS_1
"Ayah bisa mengajak istri dan juga anaknya itu," tolak Nisa secara halus. Dia sama sekali tidak berminat dengan makan malam itu, apalagi tubuhnya sangat lelah.
"Ayah memang mengajak mereka, dan ayah mau kau juga ikut dengan kami."
Nisa terdiam. Dia merasa aneh karena tidak biasanya sang ayah mengajak makan malam diluar, apalagi bertemu dengan kolega bisnis.
"Bersiaplah, ayah akan menunggumu di bawah." Ayah Irwan segera berbalik dan pergi dari tempat itu sebelum Nisa menolak ikut dengannya.
Nisa hanya bisa menghela napas kasar saja dan kembali masuk ke dalam kamar. Mau tidak mau dia harus mengganti pakaiannya, karena tidak bisa menolak keinginan sang ayah.
Setelah beberapa saat kemudian, Nisa sudah siap dengan setelan kemeja berwarna coklat muda dengan celana jeans warna hitam. Dia segera keluar dari kamar dan bergabung dengan yang lainnya.
"Cih, pakai baju kayak gitu aja lama!" seru Mira dengan kesal.
"Mira! Jaga sopan santunmu pada kakakmu sendiri," ucap ayah Irwan penuh penekanan membuat Mira langsung diam. Kemudian laki-laki paruh baya itu beranjak dari sofa untuk mendekati Nisa.
"Kenapa tidak pakai gaun? Pasti kau akan terlihat sangat cantik." tanyanya kemudian.
"Aku nyaman dengan pakaian seperti ini, Yah. Memangnya kenapa?"
Ayah Irwan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, hanya saja ayah sudah lama tidak melihatmu memakai gaun."
Kemudian mereka semua segera berangkat menuju restoran di mana sudah ada sekeluarga yang menunggu kedatangan mereka.
'Aku harap Nisa setuju,' doa Ayah Irwan dalam hati sambil melirik ke arah Nisa.
•
•
•
__ADS_1
Tbc