
Tubuh Tian langsung kaku saat berada dalam pelukan Nisa dengan jantung yang berdebar kencang. Namun, dia mencoba untuk menenangkan diri karena saat ini kondisi Nisa sedang tidak baik-baik saja.
Nisa sendiri terus menangis dengan tersedu-sedu sambil memeluk tubuh Tian, bahkan laki-laki itu bisa merasakan kalau saat ini tubuhnya bergetar dengan hebat.
Tian membalas pelukan Nisa dengan erat, tangannya melingkar tepat dipinggang wanita itu sambil mengusap punggungnya.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." ucap Tian berusaha untuk menenangkan Nisa.
"Tidak. Aku, aku, aku tidak-"
"Ssstt. Sudah, lupakan semuanya." Tian mengusap punggung Nisa dengan sayang dan penuh kelembutan. "Tenang saja, kau tidak sendirian, Nisa. Ada aku di sini, hem."
Nisa semakin merapatkan kepalanya di dada bidang Tian, dadanya yang semula bergemuruh kini mulai kembali tenang.
Setelah beberapa saat, akhirnya Nisa merasa tenang dan melepaskan pelukannya dengan wajah merah padam.
"Kau mau minum, hem?" tawar Tian yang dijawab dengan gelengan kepala Nisa.
"Tidak, Tian.'' jawabnya lirih.
"Ya sudah. Kalau gitu kita pulang yuk, di sini banyak debu." Tian mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah seolah-olah sedang mengusir debu-bedu jahat yang beterbangan.
Nisa menganggukkan kepalanya, dia lalu berjalan ke arah sepeda motornya berada sambil menahan malu karena tadi sudah memeluk Tian. "Dasar bod*oh! Kenapa aku sampai memeluk dia sih?" dia merutuki tingkah lakunya sendiri.
Pada saat yang sama, Aini dan juga Nita sudah sampai di halaman rumah Irwan. Terlihat Irwan dan juga keluarganya sedang berkumpul di ruang tamu, karena pintu rumah itu terbuka lebar.
"Sudah beberapa hari Nisa tidak pulang ke rumah, apa tidak sebaiknya kau mencarinya, Suamiku?" ucap Mona yang saat ini duduk di samping Irwan.
"Kenapa aku harus mencarinya? Dia sudah cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri."
"Bukankah itu tugas seorang Ayah?"
__ADS_1
Irwan, Mona dan juga Mira tersentak kaget mendengar suara seseorang, sontak mereka langsung melihat ke arah pintu di mana Aini dan juga Nita sudah berdiri di sana.
"A-Aini?" Irwan langsung beranjak dari duduknya saat melihat sang mantan istri, sementara Mona membulatkan matanya saat melihat wanita itu.
Aini masuk ke dalam rumah dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubunnya, dia bahkan tidak mengindahkan ucapan Nita untuk tetap bersikap tenang.
"A-Aini, kau di sini?" tanya Irwan dengan kaku, dia bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri saat ini.
"Tentu saja! Tentu aku harus datang ke sini karena kau sudah sangat menyakiti dan membuat anakku menderita." ucap Aini dengan tajam membuat suasana menjadi mencekam.
"Sabar, Ma." Nita memegang tangan Aini berusaha untuk menenangkannya, tetapi wanita paruh baya itu langsung menepis tangannya.
"Apa maksudmu, Aini? Aku tidak-"
"Tidak apa? Tidak salah lagi maksudmu?" pekik Aini membuat Irwan langsung terdiam.
Mona yang merasa tidak suka dengan kadatangan Aini langsung memajukan tubuhnya untuk berhadapan dengan wanita itu.
"Apa yang kau lakukan di sini, hah?" tanya Mona dengan nada suara membentak.
"Jangan ikut campur kau bilang? Ini adalah rumahku, dan kau sedang bicara dengan suamiku!" ucap Mona dengan tajam.
"Suamimu? Heh, sejak dulu kau memang sama sekali tidak punya malu dan harga diri ya, Mona." sindir Aini membuat Mona mengepalkan tangannya.
"Kau-"
"Diamlah, Mona! Dia datang untuk bertemu denganku, jadi jangan ikut campur." Irwan menatap Mona dengan tajam membuat wanita itu semakin murka.
"Aku istrimu, Irwan. Kenapa aku tidak-"
"Cukup! Jangan membuat aku mengulang ucapanku untuk yang kedua kalinya."
__ADS_1
"Cih." Mona membuang muka dengan sebal, dia lalu berdiri di samping Mira yang sejak tadi diam memperhatikan mereka.
"Kalian sudah selesai bicara?" tanya Aini sambil bersedekap dada.
"Duduklah dulu, Aini. Kita bisa membicarakan-"
"Tidak perlu, Irwan. Aku datang bukan untuk duduk, tapi untuk bicara dengan seorang ayah yang sudah membuat anaknya sendiri menderita."
Irwan menghela napas kasar dengan apa yang Aini ucapkan. "Aku tidak tau kenapa kau berkata seperti itu, Aini. Tapi apa yang kau katakan itu sama sekali tidak benar,"
"Tidak benar kau bilang? Heh." Aini tersenyum dengan sinis. "Sekarang ku tanya padamu, di mana Nisa?"
Deg.
Irwan terdiam saat mendengar pertanyaan Aini membuat wanita itu memandangnya dengan tatapan nyalang.
"Kenapa, kenapa, Irwan? Kenapa kau mengusir bahkan menyakiti anakmu sendiri, hah? Apa kau tidak ingat, kalau dulu kau sendiri yang memaksa Nisa untuk bersamamu, hah?" bentak Aini dengan mata berkaca-kaca.
Irwan terdiam sambil memandang Aini dengan sendu, sungguh dia sangat merindukan wanita itu.
"Aku tidak tau entah apa yang sudah kalian lakukan pada putriku selama ini. Tapi aku ingatkan pada kalian, jika sekali lagi kalian menyakitinya. Maka aku tidak akan tinggal diam." Aini menunjuk ke arah mereka semua membuat wajah Mona kian memerah.
"Kau tidak pernah memperhatikan Nisa, bahkan kau sama sekali tidak pernah peduli padanya. Kenapa tidak kau berikan saja dia padaku, hah?" teriak Aini kehabisan kesadarannya.
"Aku merelakan anakku untuk bersamamu, tapi apa yang kau lakukan? Bukannya menyayangi dan mengasihinya, kau malah sama sekali tidak memperhatikannya. Apa kau masih bisa disebut seorang ayah?"
"Cukup, Aini!"
Semuanya langsung terdiam di tempat sambil saling tatap.
•
__ADS_1
•
TBC