
🍁 Happy Reading 🍁
Tak lama Papa Leo pun datang bersama Erick.
"Sitha..." lirih Papa Leo saat melihat putrinya akhirnya menginjakkan kaki dirumahnya.
Sitha memalingkan wajahnya, dia masih enggan melihat Papanya.
Tapi tidak dengan Mama Ernita, dia berdiri dari duduknya dan menyambut kedatangan mantan suaminya. Mama Ernita dan Papa Leo pun bersalaman.
"Apa kabar Mas?" tanya Mama Ernita.
"Ya, seperti yang kamu lihat." jawab Papa Leo sambil mendaratkan bokongnya di sofa. Papa Leo tidak kuat lama-lama berdiri karena asam uratnya sedang kambuh.
Melihat Papa Leo duduk, Mama Ernita juga ikutan duduk.
"Kalian sendiri bagaimana kabar kalian?" tanya Papa Leo sambil melirik Sitha yang tidak mau melihat dirinya.
"Baik Mas." jawab Mam Ernita.
"Sit.." Mama Ernita menyikut tangan Sitha agar menjawab pertanyaan Papa Leo.
"Baik." jawab Sitha terpaksa dan masih tanpa melihat wajah Papa-nya.
Papa Leo tersenyum kecut. Ia sadar diri kenapa putrinya bersikap seperti itu padanya.
"Papa dengar dari Erick katanya kamu sudah putus dengan Daniel, apa benar?" Tanya Papa Leo basa-basi.
__ADS_1
"Hemh..." jawab Sitha.
"Sitha! Bicara yang sopan dengan Papa mu! Dan kalau ngomong itu di lihat wajah Papa mu!" tegur Mama Ernita.
Sitha menghela nafasnya kasar lalu menoleh ke arah Papa Leo.
"Pa, langsung aja. Kedatangan Sitha kesini cuma mau ngasih tau Papa kalau dua Minggu lagi Sitha mau nikah, tapi bukan sama Daniel! Terserah Papa mau dateng apa gak!" ucap Sitha tanpa basa-basi.
"Sitha! Ngomong yang sopan!" bentak Mama Ernita.
"Ini udah yang paling sopan Ma!" jawab Sitha.
"Sudah Er, sudah, jangan ribut. Aku maklum kalau sikap Sitha masih seperti itu padaku." ucap Papa Leo.
"Papa pasti dateng Sit ke acara pernikahan kamu." ucap Papa Leo pada Sitha.
Papa Leo menghela nafasnya sambil menatap Sitha.
"Kalau Sitha mau aku jadi walinya sudah pasti aku akan menjadi wali untuk Sitha. Tapi kalau Sitha tidak mau, yah tidak bisa kita paksakan juga kan." jawab Papa Leo.
"Kak Sitha, bilang dong ke Papa kalau loe mau Papa jadi walinya!" tegur Erick yang mulai geram dengan tingkah Kakaknya.
"Seandainya ada opsi lain, gue sama sekali gak mau Papa jadi wali gue! Tapi karena gue gak punya pilihan lain, ya mau gimana lagi, harusnya tanpa gue bilang juga udah pasti Papa yang akan jadi wali gue!" jawab Sitha.
"Sitha! Ingat gak kata-kata Mama sebelum kita kesini? Kita udah sepakat kan kamu akan bersikap baik sama Papa! Kenapa kamu malah bersikap seperti ini!" bentak Mama Ernita.
"Sitha juga maunya kayak gitu Ma! Tapi Sitha gak bisa kayak Mama yang pura-pura gak kenapa-kenapa! Begitu ngeliat muka Papa, Sitha jadi keinget lagi gimana tiap malem Mama nangis karena Papa. Sitha gak bisa ngelupain masa-masa itu begitu aja Ma!" balas Sitha.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Papa Leo berlutut.
"Maafin Papa, Sitha. Papa tau, gak akan mudah untuk kamu memaafkan Papa. Papa sangat berdosa sama kamu dan Mama mu. Papa memang pantas mendapat hukuman dari kamu. Kamu boleh menghukum Papa apa saja, Nak agar hati mu lega." ucap Papa Leo.
"Pa, bangun Pa, kaki Papa kan lagi asam urat. Ayo bangun Pa." ucap Erick sambil menarik tubuh Papanya, tapi langsung di tepis Papa Leo.
"Kamu boleh memaki Papa, kamu boleh memukul Papa, kamu boleh melakukan apapun yang ingin sekali kamu lakukan pada Papa, asal hati mu lega dan bisa memaafkan kesalahan Papa, asal kamu gak benci lagi sama Papa." kata Papa Leo lagi.
Sitha diam.
"Kak, loe gak kasihan sama Papa! Papa udah sampe berlutut demi loe maafin, padahal sekarang kaki Papa lagi asam urat! Respon dong Kak!" bentak Erick.
"Sitha! Sudah Sitha, jangan keraskan hati mu Sitha! Yang berlutut di depan kamu itu Papa kamu loh Sitha, maafkan Papa kamu, Nak! Papa mungkin tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Mama, tapi Papa adalah Papa yang hebat untuk kamu dan Erick. Coba kamu ingat lagi bagaimana dulu Papa mu memperlakukan mu. Saat kamu sakit, Papa mu rela begadang bahkan tidak pergi bekerja hanya untuk menjaga kamu. Apapun yang kamu minta selalu Papa turuti. Tengah malam kamu lapar, Papa kamu selalu siap sedia memasak mie instan untuk kamu. Papa juga rela meninggalkan pekerjaannya saat tau kamu jatuh di sekolah, padahal luka mu hanya luka kecil, tapi Papa mu begitu panik dan langsung membawa mu ke rumah sakit dan meminta dokter untuk merontgen tulang mu untuk memastikan kalau tulang mu tidak kenapa-kenapa. Dan masih banyak lagi yang Papa mu lakukan untuk mu. Apa kamu tidak ingat semua itu Sitha?" ucap Mama Ernita.
"Yang ada itu hanya mantan suami dan istri, Sitha, bukan mantan ayah, mantan ibu, mantan anak." kata Mama Ernita lagi.
Mendengar kata-kata Mama Ernita, Sitha tak sanggup menahan air matanya. Benar yang di katakan Mama Ernita, sebelum Papa dan Mamanya bercerai, Papa-nya adalah Hero untuknya, Papa Leo selalu menjadi garda terdepan untuk Sitha.
Sitha pun berdiri dari duduknya dan menghampiri Papanya kemudian memeluk Papanya.
"Maafin Sitha, Pa, maafin Sitha..." ucap Sitha sambil menangis.
"Maafin Papa juga Nak. Karena kesalahan Papa, kamu harus mengalami banyak cobaan." balas Papa Leo.
Cukup lama Papa Leo dan Sitha berpelukan dan saling mengungkapkan isi hati mereka. Dan akhirnya Papa Leo dan Sitha pun berbaikan.
🍁 🍁 🍁
__ADS_1
Bersambung...