Hubungan Panas Setelah Reuni

Hubungan Panas Setelah Reuni
98. Langsung Lamaran


__ADS_3

🍁 Happy Reading 🍁


Tok... Tok...


"Permisi..." tiba-tiba saja ada yang datang.


Erick pun bergegas menemui orang yang ada di depan pintu.


"Apa benar ini rumahnya Sitha?" tanya seorang pria paruh baya dengan setelan jas dan tiga orang di belakangnya sambil membawa bingkisan di tangan mereka.


"Iya. Bapak siapa yah?" tanya Erick.


"Saya-"


"Papa." ucap Juna dari belakang. Merasa mengenali suara orang yang mengetuk pintu, Juna pun menyusul ke ruang tamu. Dan betapa kagetnya Juna saat melihat Papa-nya yang ternyata berdiri di depan pintu.


Mata Erick membulat lebar mendengar Juna memanggil pria paruh baya itu dengan sebutan Papa.


"Saya Papanya Juna dan kedatangan saya kesini untuk melamar Sitha. Apa boleh saya masuk?" ucap Papa Angga.


Aura Papa Angga begitu tegas dan positif, hingga berhasil memadamkan emosi Erick. Erick pun secara tidak sadar memberi jalan pada Papa Angga untuk masuk kedalam rumah.


Juna menghampiri Papanya.

__ADS_1


"Papa kok kesini?" tanya Juna.


"Memangnya kamu mau melamar anak orang sendirian? Yah harus ada orangtua kan yang mendampingi!" jawab Papa Angga tegas.


Juna terdiam.


Iya sih, melamar wanita yang ingin di nikahi secara resmi harus di dampingi orang tua, tapi agenda hari ini bukan untuk lamaran resmi melainkan masih tahap memberitahu keluarga Sitha kalau dia lah ayah dari anak yang di kandung Sitha dan meminta restu untuk menikahi Sitha.


Papa Angga terus berjalan menuju ruang tengah dan di ekori Juna kemudian tiga orang yang membawa bingkisan lalu terakhir Erick.


Sesampainya di ruang tengah, mata Sitha membulat lebar kemudian melirik ke arah Juna seolah menanyakan "ada apa ini? Kenapa Papa mu datang membawa rombongan."


Juna yang paham bahasa telepati Sitha hanya menggedikkan bahunya.


Mama Ernita hanya menganga melihat kedatangan Papa Angga.


"Ma..." Sitha menyenggol lengan Mama Ernita agar sadar dari lamunannya.


"Oh iya, silahkan duduk kalau begitu Pak." ucap Mama Ernita setelah tersadar dari lamunannya.


Papa Angga pun menyuruh tiga orang yang membawa bingkisan itu meletakkan bingkisan di meja kemudian mengambil bingkisan yang lainnya yang masih ada dalam mobil kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Mama Ernita dan Sitha.


Selagi menunggu anak buahnya mengeluarkan semua bingkisan dari dalam mobil, baik Papa Angga, Juna, Mama Ernita, Sitha dan Erick sama sekali tidak melakukan interaksi mengobrol.

__ADS_1


Kini semua bingkisan alias seserahan sudah berada di ruang tengah. Kurang lebih dua belas bingkisan Papa Angga bawa untuk melamar Sitha.


"Maaf Pak, ini semua maksudnya apa yah?" tanya Mama Ernita.


"Ini seserahan Bu, kedatangan saya kesini untuk mendampingi putra saya melamar putri Ibu." jawab Papa Angga.


"Tapi Pak-"


"Ya saya tau kesannya sangat mendadak. Bukan hanya Ibu yang kaget, saya juga kaget waktu dua anak ini datang ke rumah dan memberitahu semuanya pada saya dan istri saya. Tapi saya sadar, tidak baik kita orangtua menghalang-halangi niatan baik anak-anak kita. Juna bilang akan bertanggung jawab dan menikahi Sitha, makannya saya langsung berinisiatif datang kesini dan membawa seserahan ini semua, tujuannya untuk mempermudah jalan anak-anak kita bersatu." potong Papa Angga.


"Sit, kamu gimana? Apa kamu memang mau Nak Juna bertanggung jawab atas kamu?" tanya Mama Ernita.


Sitha diam sambil menatap dalam wajah Juna. Melihat Sitha menatap wajahnya, jantung Juna mulai deg-deg'an, takut-takut Sitha berubah pikiran dan menolak dirinya.


Tak lama Sitha menghela nafasnya kasar.


"Iya, Sitha mau Ma." jawab Sitha.


Mendengar jawaban Sitha Juna pun menghela nafasnya lega.


Setelah mendengar jawaban Sitha, Papa Angga langsung membicarakan inti dari kedatangannya, yaitu membahas tanggal pernikahan Juna dan Sitha.


🍁 🍁 🍁

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2