
🍁 Happy Reading 🍁
Ruang dokter.
Kini Kila sudah berada di ruangan dokter Bisma setelah melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui kesuburannya, dokter Bisma adalah dokter yang berbeda dengan dokter yang menangani Sitha tadi.
Dokter Bisma nampak menghela nafasnya kasar setelah membaca hasil laboratorium Kila.
"Apa selama ini siklus datang bulannya normal?" tanya dokter Bisma.
"Mmm... gak sih dok, kadang sebulan dua kali, kadang dua bulan sekali." jawab Kila.
"Biasanya berapa hari?" tanya dokter Bisma lagi.
"Kadang lima hari, kadang hanya tiga hari dok, tapi pernah juga sampe sembilan hari, dok." jawab Kila.
"Setiap datang bulan sakit gak?" tanya dokter lagi.
"Senggugutan parah dok. Pinggang juga rasanya mau remuk." jawab Kila.
"Apa sudah lama seperti ini?" tanya dokter Bisma.
"Sekitar dua tahun terakhir sih dok." jawab Kila.
Lagi dan lagi dokter menghela nafasnya kasar dan itu terlihat oleh Kila.
"Ada apa yah dok? Apa ada masalah?" tanya Kila.
Dokter menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dari hasil pemeriksaan, saya melihat ada tumor yang ukurannya cukup besar di rahim Anda."
Mata Kila membulat lebar mendengar informasi yang dokter berikan.
"Apa itu berbahaya dok? Apa saya gak bisa hamil karena itu?" tanya Kila dengan suara yang bergetar.
"Berbahaya atau tidaknya harus kita lakukan biopsi dulu untuk mengetahu jenis apa tumor yang bersarang di rahim Anda, apa itu tumor ganas atau tumor jinak." jawab dokter Bisma.
"Kalau itu tumor ganas bagaimana dok?" tanya Kila.
"Kami tidak berani mengira-ngira, karena opini yang keluar dari mulut kami akan sangat berpengaruh pada psikologis Anda. Jadi Anda berdoa saja yang baik-baik dan selalu berpikir positif." jawab dokter Bisma.
Kila diam saja, dari wajahnya nampak sekali Kila sedang linglung sekarang karena informasi yang dokter Bisma berikan.
"Kalau Anda bersedia melakukan biopsi di rumah sakit ini, Anda bisa menandatangani surat persetujuan." ucap dokter Bisma.
"Baik dok." jawab si asisten dokter.
"Mari Bu ikut saya." ucap si asisten dokter pada Kila.
Masih dalam keadaan linglung, Kila pun berdiri dari duduknya lalu keluar dari ruangan dokter Bisma.
🍁 🍁 🍁
Keesokan harinya.
Pagi ini Kila datang lagi kerumah sakit untuk mengetahui hasil biopsi dan disinilah Kila sekarang, di ruangan dokter Bisma.
"Bagaimana dok hasilnya?" tanya Kila.
__ADS_1
"Nona Shakila, dengan berat hati saya mengatakan kalau ini termasuk tumor ganas." jawab dokter Bisma.
Duaaaar.
Bagai tersambar petir di siang hari, Kila kaget bukan main, dunianya runtuh seketika mendengar hasil biopsi. Airmata Kila mengalir begitu saja dari mata indahnya.
"A-a-apa masih bi-sa di-sem-buhkan,dok?" tanya Kila terbata-bata.
"Bisa, hanya saja caranya kita harus mengangkat rahim Anda karena tumor ini sudah menjalar kemana-mana." jawab dokter Bisma.
Tangis Kila pun pecah seketika mendengar kata-kata dokter Bisma.
Asisten dokter Bisma pun langsung menghampiri Kila dan menangkan Kila sedangkan dokter Bisma memberikan tissue pada Kila.
"Saya gak mau rahim saya diangkat dok, saya harus bisa memberikan anak untuk Juna, tolong jangan angkat rahim saya dok." ucap Kila di sela-sela tangisnya.
"Seandainya Anda melakukan pemeriksaan saat Anda mengalami sakit saat datang bulan, mungkin tumor Anda tidak akan seganas sekarang dan masih bisa diatasi tanpa pengangkatan rahim, tapi sekarang ini tumor itu sudah besar dan ganas dan sudah menjalar kemana-mana, jadi hanya opsi itu yang bisa kami berikan." balas dokter Bisma.
"Apa gak bisa saya hamil dulu dok baru melakukan pengangkatan rahim? Paling gak saya harus memberikan Juna satu anak." tanya Kila.
Dengan berat hati dokter Bisma menggelengkan kepalanya.
"Sayang sekali tidak bisa, karena benih tidak akan bisa tumbuh subur di rahim Anda yang bermasalah." ucap dokter Bisma.
Kila pun makin histeris mendengar jawaban dokter Bisma.
🍁 🍁 🍁
Bersambung...
__ADS_1