
🍁 Happy Reading 🍁
"Terus kamu tau Sitha sekarang dimana?" tanya Juna.
Erick menggelengkan kepalanya.
"Alasan dia resign mau ke Kalimantan ngurus pernikahannya, coba kamu tanya sama laki-laki yang namanya Farel itu, siapa tau aja laki-laki itu tau." ucap Juna.
"Saya udah tanya sama Bang Farel tapi dia gak tau." jawab Erick.
Juna pun mengeluarkan ponselnya mencoba membuka riwayat chat Sitha karena WhatsApp Sitha masih dalam penyadapan Juna. Tapi sayangnya, tidak ada riwayat apa-apa disana.
Karena tidak ada riwayat apa-apa, Juna pun mencoba menelpon Sitha tapi nomor Sitha sudah tidak aktif lagi.
"Sepertinya Sitha ganti nomor WhatsApp." ucap Juna pelan.
"Iya Pak, sejak Kak Sitha keluar dari rumah nomor Kak Sitha, mau itu nomor WhatsApp atau telepon biasa udah gak aktif lagi, makanya Mama stress mikirin itu." balas Erick.
"Kamu udah tanya temen baiknya Sitha?" tanya Juna.
Erick mengangguk.
"Sudah, tapi dia juga gak tau." jawab Erick.
Juna menghela nafasnya kasar.
"Gini, saya akan bantu kamu cari Kakak kamu. Kamu simpan nomor WhatsApp saya, nanti kita saling tukar informasi aja kalau nanti kamu tau kabar tentang Sitha." ucap Juna.
Erick menganggukkan kepalanya lalu menyimpan nomor WhatsApp Juna.
"Ya sudah saya pulang dulu kalau begitu." pamit Juna sambil berdiri dari duduknya.
"Tunggu Pak." cegah Erick.
__ADS_1
"Iya, ada apa?" tanya Juna.
"Tolong cari tau juga siapa laki-laki yang menghamili Kak Sitha, saya yakin laki-laki itu orang kantor Bapak yang memiliki jabatan dan pastinya sudah berkeluarga. Saya remukkan semua tulang-tulang laki-laki biadap itu!" geram Erick.
Juna menelan salivanya susah payah saya melihat tatapan Erick yang sangat tajam.
"Mmm... nanti saya akan usut juga." balas Juna.
"Ya sudah, saya pulang dulu kalau begitu." pamit Juna sekali lagi lalu cepat-cepat keluar dari dalam rumah sebelum gelagatnya yang mulai gugup karena ucapan Erick ketauan oleh Erick.
Begitu berada di dalam mobil, Juna langsung menghubungi kenalannya yang bekerja sebagai Intel untuk mencari Sitha. Setelah mengirim foto Sitha, barulah Juna melajukan mobilnya dari depan rumah Mama Ernita.
🍁 🍁 🍁
Malam harinya.
Pukul 20.00
Rumah Sakit.
Meski raganya ada di dekat Kila tapi pikirannya terus memikirkan Sitha, sampai jam segini intel yang Juna suruh untuk mencari Sitha belum juga memberikan kabar dan itu membuat Juna gelisah.
Kegelisahan Juna itu terlihat jelas oleh Kila.
"Kamu kenapa Jun, daritadi aku perhatiin kamu bolak-balik lihat hape kamu? Kamu lagi nunggu kabar dari siapa?" tanya Kila.
"Hah? Gak ada. Aku gak nunggu kabar dari siapa-siapa." bohong Juna. Mulut bisa berbohong tapi sorot mata dan gerak-gerik Juna tidak bisa berbohong.
"Apa kamu lagi nunggu kabar dari Sitha?" tanya Kila to the point.
"Gak kok. Kamu ngomong apaan sih, kok bahas dia lagi." bohong Juna lagi.
"Kamu-"
__ADS_1
Ceklek. Tiba-tiba pintu kamar rawat Kila terbuka. Dokter yang menangani Kila dan dua orang perawat masuk kedalam kamar. Terpaksa obrolan Juna dan Kila tertunda sejenak.
"Kita periksa dulu yah." ucap dokter.
Dokter pun mulai memeriksa Kila.
"Bu Shakila, apa Ibu sudah memutuskan kapan untuk melakukan operasi?" tanya dokter.
Karena tadi pagi saat Juna tidak ada, dokter menyarankan Kila untuk segera melakukan operasi pengangkatan rahim tapi Kila meminta waktu untuk berpikir dulu.
"Operasi pengangkatan rahim dok?" tanya Juna.
Dokter menganggukkan kepalanya.
"Operasi ini harus segera di lakukan Pak sebelum tumor semakin menyebar kemana-mana dan merusak organ yang lain." ucap dokter.
"Apa bisa operasinya sebulan lagi?" tanya Kila.
"Bu, semakin lama Ibu membiarkan tumor itu bersarang di rahim Ibu, semakin lama juga ibu merasakan sakit. Ibu juga yang akan tersiksa, perkembangan tumor ganas itu sangat cepat sekali, apalagi ibu sudah mengalami pendarahan, jangan sampe dalam waktu sebulan itu ada pendarahan kedua atau ketiga, karena kami tidak bisa menjamin nyawa ibu masih bisa selamat atau tidak kalau ibu pendarahan lagi." jawab dokter.
Mendengar jawaban dokter, Kila pun menangis.
"Tapi saya mau menikah dok, apa gak bisa menunggu saya nikah dulu baru melakukan operasi. Hiks... Hiks... Hiks..." ucap Kila sambil menangis..
"Dok, biar kami bicarakan dulu masalah ini. Nanti saya kabari dokter kalau Kila sudah membuat keputusan." ucap Juna.
"Baik. Saya tunggu kabarnya secepatnya, paling lama dalam waktu seminggu ini. Kalaupun Ibu Shakila tidak mau melakukan operasi di rumah sakit ini, yah tidak pa-pa tapi saya tetap menyarankan Ibu Shakila harus segera di operasi." balas sang dokter.
"Iya dok, saya paham." balas Juna.
Dokter dan perawat pun keluar dari kamar rawat Kila. Setelah dokter keluar Juna pun mendekati Kila dan mencoba menenangkan Kila.
🍁 🍁 🍁
__ADS_1
Bersambung...