
🍁 Happy Reading 🍁
"Umm... Nev, malam ini boleh gak gue nginep di hotel bareng Juna." tanya Sitha.
Dan pertanyaan Sitha langsung mendapat tatapan tajam dari Neva dan Farel.
"Gak boleh!" jawab Neva dan Farel kompak.
Kompak banget! celetuk Sitha dalam hati.
"Kalau gitu Juna nginep di sini malam ini boleh?" tanya Sitha lagi.
"Gak boleh!" kali ini hanya Farel yang menjawab.
"Apa hak loe jawab emangnya ini rumah loe!" balas Juna ketus dan langsung mendapat tatapan tajam dari Farel dan Sitha.
Juna masih saja cemburu dengan Farel.
"Emangnya loe gak bisa nginep di hotel sendiri?" si pemilik rumah membuka suaranya.
"Kalau gue nginep di hotel ribet, besok jam tujuh udah harus di bandara berarti jam enam lah harus udah berangkat, belum lagi jemput Sitha disini, kan makan waktu banyak. Sukur-sukur kalau besok jalanan gak macet." jawab Juna.
"Ya ketemuan di bandara aja lah kalau gak mau ribet!" celetuk Farel.
"Gak percaya gue! Bisa aja kan pas gue di hotel, loe nyuci otak Sitha buat kabur!" jawab Juna.
"Cih!" decih Farel.
"Udah... udah... Ini kok jadi kalian yang berdua yang berantem." ucap Neva menengahkan, sedangkan Sitha hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah duo bocil.
"Ya udah, loe boleh nginep disini. Tapi loe tidur disini yah dan gak boleh banyak protes kalau nanti banyak nyamuk atau punggung loe sakit karena gak tidur di spring bed!" akhirnya Neva mengizinkan Juna menginap di rumahnya.
"Kok kamu izinin Va?" Bisik Farel.
__ADS_1
"Ya udah lah biarin aja, orang cuma malem ini doang." jawab Neva berbisik.
Farel mengeraskan rahangnya, ia tetap tidak terima Juna menginap di rumah Neva.
"Kalau begitu aku nginap juga disini." ucap Farel.
Sontak semua mata langsung menoleh ke arah Farel.
Huuuh... cobaan apalagi ini tuhan???? teriak Sitha dalam hati.
Ia stress melihat tingkah dua pria itu. Yang satu cemburan yang satu juga suka memantik api cemburu.
Setelah beberapa menit adu mulut Juna, Farel, Sitha dan Neva akhirnya di putuskanlah kalau Farel juga di izinkan menginap di rumah Neva.
🍁 🍁 🍁
Pukul 23.30 WITA
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, tapi Juna belum bisa tidur. Bagaimana mau tidur kalau di sebelahnya ada Farel yang tidur mendengkur. Mending dengkuran halus ini dengkuran keras seperti mesin disel yang kurang oli.
Juna menghela nafasnya kasar lalu menatap langit-langit ruang tamu sekaligus televisi itu.
Ia kembali teringat dengan kata-kata dokter Ibnu yang mengatakan Kila memilih melakukan operasi di Singapura atas suruhan keluarganya.
Kok gue ngerasa ada yang gak beres yah? gumam Juna dalam hati.
Huuh... mudah-mudahan Kila gak berbuat nekat. gumamnya lagi.
Drt... Drt...
Tiba-tiba saja ponsel Juna bergetar. Juna pun mengambil ponselnya ternyata ada pesan dari Sitha. Sitha sudah membuka blokirannya atas nomor Juna dan Farel.
Sama seperti Juna, Sitha juga tidak bisa tidur. Sitha membayangkan apa yang akan terjadi padanya esok hari. Apa Kila bisa menerima kehamilan Sitha, lalu bagaimana dengan reaksi keluarga Juna jika mereka tahu Sitha sedang mengandung anak Juna, apa mereka bisa menerima atau malah menyuruh Sitha menggugurkannya.
__ADS_1
[Sitha] : Belum tidur?
[Juna] : Gimana mau tidur kalau orang di sebelah gue mengeluarkan polusi suara, ngoroknya gede banget.
[Sitha] : Pencet hidungnya terus miringin badannya biar gak ngorok lagi.
Juna pun melakukan yang di katakan Sitha, pertama ia memencet hidung Farel, Farel pun berhasil megap-megap, saat sedang megap-megap, cepat-cepat Juna memiringkan badan Farel. Dan hasilnya tidak ada lagi suara dengkuran Farel.
Di dalam kamar, Sitha yang juga tidak lagi mendengar suara dengkuran Farel pun kembali mengirim pesan pada Juna.
[Sitha] : Berhasil kan?
[Juna] : Iya.
[Sitha] : Ya udah tidur sana.
[Juna] : Tapi tetep aja gue gak bisa tidur.
[Sitha] : Apalagi yang salah? Punggung loe sakit? Kan loe yang mau nginep disini!
[Juna] : Bukan itu, tapi gue gak bisa tidur kalau bukan loe yang ada disamping gue.
[Sitha] : Cih! Udah tidur! Jangan ngeres otak loe! CEO suka banget ngeres otaknya!
Juna terkekeh kecil membaca pesan Sitha.
Awas aja loe yah Sit, gue buat mengerang berkali-kali loe nanti! gumam Juna dalam hati.
[Juna] : Ya udah, loe juga tidur yah. Tapi kalau loe mau gue jengukin anak gue dulu, ayok lah.
[Sitha] : Sinting loe! Udah yah gue tidur.
Juna pun tak lagi membalas pesan Sitha lalu meletakkan ponselnya di sebelahnya kemudian memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur.
__ADS_1
🍁 🍁 🍁
Bersambung...