Hubungan Panas Setelah Reuni

Hubungan Panas Setelah Reuni
91. Kekhawatiran Juna


__ADS_3

🍁 Happy Reading 🍁


Dua puluh menit kemudian.


Dokter Bisma melihat Kila sudah tertidur pulas.


Dokter Bisma pun memperbaiki selimut Kila dan berniat ingin langsung keluar dari kamar rawat Kila. Tapi entah kenapa rasanya berat bagi dokter Bisma untuk meninggalkan Kila sendirian di kamar rawat itu.


Dokter Bisma yang sudah sempat berdiri pun kembali duduk.


Dokter Bisma menghela nafasnya kasar sambil mengambil tangan Kila.


"Dulu mendiang istriku juga mengalami penyakit yang sama dengan mu. Dan itulah alasan kenapa aku menjadi dokter kandungan." ucap dokter Bisma seolah-olah Kila bisa mendengar curahan hatinya.


"Aku menyesal karena dulu selalu mengabaikannya karena saat aku menikah dengan istri ku, status ku masih KOAS yang waktunya lebih banyak di habiskan di rumah sakit. Aku tidak pernah peka saat dia selalu mengeluh kesakitan, bahkan sebagai dokter KOAS aku malah menyepelekan yang mendiang istri ku rasakan. Dan karena itu juga lah mendiang istriku merahasiakan penyakitnya dari ku sampai ajal menjemputnya." dokter Bisma menghela nafasnya lagi.


"Kata orang penyesalan selalu datang belakangan dan itu benar. Aku benar-benar menyesal sudah mengabaikan istriku, sudah menyepelekan rasa sakitnya. Karena itulah sekarang aku menjadi dokter kandungan demi menebus kesalahan ku pada mendiang istriku. Aku tidak mau para wanita yang memiliki penyakit sama seperti mendiang istriku patah semangat karena mereka tidak bisa hamil." ucap dokter Bisma.


"Kila, sekalipun kamu tidak bisa hamil lagi, tapi kamu tetap lah seorang perempuan yang memiliki naluri keibuan. Tidak bisa membesarkan anak yang lahir dari rahim mu sendiri, kamu bisa membesarkan anak yang di buang orang tua mereka. Kamu perempuan yang cantik dan berbakat, tidak ada alasan untuk mu tidak percaya diri hanya karena kamu tidak memiliki rahim, aku yakin di luar sana masih banyak laki-laki tulus yang bisa menerima dirimu apa adanya. Tetap semangat Kila." kata dokter Bisma lagi.


Dokter Bisma mengelus punggung tangan Kila beberapa kali sebelum beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamar rawat Kila.


🍁 🍁 🍁


Keesokan harinya.


Pukul 10.30


Sekarang Juna dan Sitha sudah sampai di Jakarta. Sesampainya di Jakarta mereka langsung mencari hotel untuk menyimpan barang-barang Sitha karena Sitha belum mau pulang kerumah Mama Ernita. Meski Sitha belum mau pulang ke rumah Mamanya, tapi Juna sudah menghubungi Erick dan memberitahu Erick kalau dirinya dan Sitha sudah berada di Jakarta dan meminta Erick untuk bersabar tidak menemui Sitha lebih dulu sampai nanti Juna yang akan mengantar Sitha pulang. Dan untungnya Erick setuju dengan saran Juna.


Karena Sitha belum mau pulang kerumah Mamanya, Juna pun membawa Sitha ke rumah sakit terlebih dulu untuk mengambil surat yang katanya di tinggalkan Kila.


Kini surat dari Kila sudah di tangan Juna. Juna tidak langsung membuka surat itu dan memasukkannya ke dalam kantong.


Juna juga sudah melihat surat-surat yang sebelumnya Kila tanda tangani. Surat keluarnya Kila dari rumah sakit dan surat pernyataan tidak akan menuntut jika terjadi apa-apa pada Kila setelah keluar dari rumah sakit itu.

__ADS_1


"Apa Kila tidak ada bicara apa-apalagi dok?" tanya Juna pada dokter Ibnu.


"Tidak ada. Kila hanya bilang keluarganya meminta dia untuk segera ke Singapura." jawab dokter Ibnu.


"Apa dokter melihat siapa yang menjemput Kila?" tanya Juna.


"Maaf Pak Juna, tidak. Tapi perawat yang mengantar Kila sampai ke pintu keluar bilang katanya Kila akan di jemput oleh orang suruhan keluarganya dan Kila langsung di antar ke bandara." jawab dokter Ibnu.


Juna diam sejenak. Ia masih belum percaya kalau keluarga Kila sepeduli itu pada Kila.


"Ya sudah dok, terimakasih atas informasinya. Saya coba hubungi keluarga Kila dulu kalau begitu." ucap Juna.


Juna pun pergi dari hadapan dokter Ibnu dan cepat-cepat berjalan menuju parkiran dimana saat ini Sitha sudah menunggunya di dalam mobil.


Kini Juna sudah berada di dalam mobilnya.


"Ada apa? Kenapa muka loe begitu?" tanya Sitha.


Juna menghela nafasnya kasar.


"Jangan suudzon dulu, coba loe hubungi keluarga Kila." balas Sitha.


Juna pun mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi nomor Papa Dennis tapi sayangnya ponsel Papa Dennis tidak bisa di hubungi. Kemudian Juna menghubungi ponsel Mama Alma, hasilnya juga sama tidak bisa di hubungi.


"Gimana?" tanya Sitha.


Juna menggelengkan kepalanya.


"Apa loe gak punya nomor yang lain selain nomor orangtua Kila?" tanya Sitha.


"Nomor asisten rumah tangga di rumah orangtua angkat Kila doang." jawab Juna.


"Coba hubungi dia, manatau dia tau sesuatu." balas Sitha.


Juna menganggukkan kepalanya dan mencoba menghubungi asisten rumah tangga yang bekerja di rumah orangtua angkat Kila.

__ADS_1


"Halo." jawab Mbak Pur.


"Halo Mbak, ini saya Juna." balas Juna.


"Iya Mas Juna, Mbak tau. Ada apa yah Mas?" tanya Mbak Pur.


"Ummmm... Apa Mbak tau Om Denis dan Tante Alma dimana sekarang?" tanya Juna.


"Pak Denis dan Bu Alma kan sekarang ada di Amerika, Mas. Istrinya Den Dieko kan melahirkan." jawab Mbak Pur.


"Amerika? Bukan di Singapura?" tanya Juna.


"Bukan Mas." jawab Mbak Pur.


"Terus yang di Singapura siapa?" tanya Juna. Juna sudah sangat khawatir sekarang.


"Mana Mbak tau Mas. Emangnya ada apa yah Mas?"


"Gak ada apa-apa Mbak. Oh iya, apa Kila ada pulang ke rumah?" tanya Juna.


"Gak ada Mas." jawab Mbak Pur.


Juna memijat pangkal hidungnya.


"Ya udah Mbak makasih yah." ucap Juna.


"Ada apa sih Mas? Apa ada masalah sama Non Kila?" tanya Mbak Pur.


"Gak ada kok Mbak, gak ada apa-apa. Ya udah yah Mbak saya tutup teleponnya." jawab Juna sambil menutup teleponnya.


Wajah Juna yang khawatir terlihat jelas di mata Sitha dan itu membuat Sitha jadi ragu kalau Juna bisa menepati janjinya pada Sitha saat di Kalimantan kemaren.


🍁 🍁 🍁


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2