
🍁 Happy Reading 🍁
Hari bahagia Sitha dan Juna pun tiba.
Keluarga besar dari kedua belah pihak juga datang untuk memberikan restu pernikahan Sitha dan Juna.
Mama Novita yang awalnya berat menerima Sitha karena sudah terlanjur sayang dengan Kila, akhirnya menerima Sitha dengan lapang dada, apalagi dirahim Sitha ada calon cucunya.
Selain keluarga besar, datang juga teman-teman Sitha dan Juna, termasuk Farel dan Neva.
Entah apa yang terjadi pada Farel dan Neva, saat pernikahan Sitha dan Juna mereka nampak sangat dekat, tidak seperti atasan dan bawahan tapi lebih terlihat seperti sepasang kekasih, tapi baik Farel dan Neva tidak ada yang mau mengaku hubungan mereka.
Setelah acara janji suci, acara pun lanjut ke resepsi yang diadakan ditaman sebuah hotel, hotel yang juga ditempati Sitha dan Juna menginap. Di tengah acara resepsi, Sitha mengeluh lelah, Juna pun mengantar Sitha sampai ke kamar lalu kembali ke tempat resepsi karena tidak enak meninggalkan acara yang belum selesai.
Pukul 17.00
Jam lima sore, para tamu undangan pun berpulangan, barulah Juna menyusul Sitha ke kamar hotel.
"Ceklek." Juna membuka pintu kamar lalu masuk keruang tidur.
"Udah selesai acaranya?" tanya Sitha yang sedang duduk di depan meja rias.
"Udah." jawab Juna sambil berjalan menuju sofa lalu membuka jas, dasi dan sepatunya.
"Aaargh... capeknya." kata Juna lagi sambil membaringkan badannya di sofa.
"Orangtua kita udah pada pulang?" tanya Sitha.
"Udah." jawab Juna.
"Jun..."
"Hemh..."
"Gue masih penasaran deh sama hubungan Farel dan Neva." ucap Sitha.
"Penasaran kenapa?" tanya Juna.
"Loe ngerasa gak sih mereka tuh kayak orang pacaran gitu? Tapi pacaran anak-anak ABG yang sok malu-malu." jawab Sitha.
"Loe ngapain sih ngurusin mereka. Mau mereka pacaran atau gak yah itu kan urusan mereka." balas Juna.
__ADS_1
"Tapi gue penasaran Jun." balas Sitha.
Juna bangun dari tidurnya lalu berjalan mendekati Sitha lalu memeluk Sitha dari belakang.
"Daripada loe urus urusan orang, mending loe urusin gue." bisik Juna.
"Urusin apa?" tanya Sitha pura-pura tidak tahu.
"Gak usah pura-pura gak ngerti loe!" jawab Juna.
Tiba-tiba saja Juna menggendong Sitha ala bridal style.
"Aaakkkh Jun... turunin gue! Turunin!" pekik Sitha sambil memukul-mukul dada Juna.
Juna tidak menghiraukan rontaan Sitha dan terus berjalan menuju ranjang lalu membaringkan Sitha di ranjang dengan perlahan kemudian menindih tubuh Sitha.
Saat Juna hendak mencium Sitha, Sitha langsung memalingkan wajahnya.
"Jangan menghindar! Ingat janji loe sama gue, kalau gue bisa nahan hasrat gue sampai kita nikah, loe gak akan pernah nolak gue kalau gue mau jenguk anak kita!" ucap Juna.
"Gue bukannya mau nolak Jun, tapi badan loe lengket semua, badan loe juga baunya aneh, bau keringet bercampur parfume gak enak banget di hidung gue. Sana mandi dulu." jawab Sitha.
Juna mengendus bau badannya.
"Ya iyalah bau badan loe sendiri, mana mungkin loe bilang bau. Kan gue yang nyium yang ngerasa bau. Udah sana mandi dulu. Gue juga mau siap-siap." ucap Sitha lalu mengerlingkan sebelah matanya genit.
Juna mengernyitkan keningnya.
"Apa yang mau loe siapin? Ini bukan yang pertama kali buat kita, jadi ngapain juga loe siap-siap?" tanya Juna.
"Ada deh, pokoknya gue gak bakalan ngecewain loe. Malam ini full servis dari gue." jawab Sitha sambil mengerlingkan sebelah matanya lagi.
"Makanya sana mandi loe." kata Sitha lagi sambil mendorong tubuh Juna.
"Oke, gue mandi dulu. Awas aja loe yah boongin gue, nanti gue selesai mandi, loe kabur lagi." jawab Juna lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Cih! Emangnya gue bisa kabur dari loe?" Jawab Sitha.
Pintu kamar mandi tertutup.
Setelah pintu kamar mandi tertutup Sitha pun beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju koper untuk mencari seragam dinas yang dia sudah persiapkan untuk malam pengantinnya dengan Juna.
__ADS_1
Walau ini bukan malam pertama mereka, tapi malam ini Sitha ingin membuat malam ini seolah malam pertama mereka.
Lima menit kemudian.
Sangking tidak sabarannya ingin menjenguk anaknya, Juna hanya mandi bebek.
Padahal Sitha belum selesai memakai lipstik merah darah-nya.
"Kok cepet banget mandinya?" tanya Sitha.
"Ngapain lama-lama, yang penting badan udah kena sabun, selesai. Toh nanti juga keringatan lagi." jawab Juna sambil berjalan mendekati Sitha di meja rias.
"Ngapain loe malem-malem pake lipstik?" tanya Juna.
"Kan gue udah bilang, malam ini full servis dari gue. Jadi gue mau berdandan ala-ala wanita penghibur buat nyervis loe." jawab Sitha.
"Sin.ting loe yah! Gak usah yang aneh-aneh! Gak usah dandan ala-ala wanita penghibur, loe udah buat gue puas kok." balas Juna.
Sitha memanyunkan bibirnya.
Juna menarik tali bathrobe yang Sitha pakai.
Mata Juna langsung membelalak lebar saat melihat seragam dinas yang Sitha pakai.
Lingerie berwarna merah transparan, hingga memperlihatkan jelas kulit tubuh Sitha. Melihat itu jelas saja hasrat kelaki-lakian Juna makin meronta-ronta.
"Loe niat banget yah ngajak begadang malam ini!" ucap Juna.
"Suka gak?" tanya Sitha.
"Suka. Tapi gue lebih suka loe langsung gak pake apa-apa." jawab Juna.
"Mesum!" balas Sitha.
"Biar aja, mesum sama istri sendiri ini!" balas Juna.
Juna yang sudah tidak sabaran pun langsung mencium bibir Sitha sambil tangannya menggerayang kemana-mana.
Begitu juga dengan Sitha, dia juga tidak mau kalah dengan Juna, tangannya juga bekerja membuka lilitan handuk Juna lalu memijat senjata pamungkas Juna.
Setelah beberapa menit saling mencumbu, akhirnya untuk pertama kalinya Juna menjenguk anaknya yang ada dalam rahim Sitha.
__ADS_1
🍁 🍁 🍁
Bersambung...