
🍁 Happy Reading 🍁
Keesokan harinya.
Gardana Group.
Hari ini Juna kembali masuk kantor setelah kemaren tidak masuk karena harus menjaga Kila di rumah sakit.
Atas permintaan Kila, Juna tidak memberitahu orangtuanya kalau saat ini Kila dirawat di rumah sakit. Kalau orangtua Kila sendiri, Juna benar-benar tidak mengharapkan orangtua angkat Kila mau menjaga Kila dirumah sakit.
Karena pagi ini Juna masuk bekerja, Juna pun menitipkan Kila pada perawat untuk menjaga Kila selama Juna bekerja.
Ruang kerja Juna.
Tok... Tok... Tok...
Baru saja Juna membuka laptopnya tiba-tiba saja pintu ruang kerja Juna terketuk.
"Masuk." jawab Juna dari dalam.
Pintu pun terbuka dan masuk lah Dina, sekretaris Juna kedalam ruang kerja Juna.
Seperti biasa Dina datang untuk memberitahu Juna jadwalnya hari ini.
"Oh iya Pak, karyawati yang bernama Sitha yang Bapak pindahkan ke kantor cabang sudah mengundurkan diri." ucap Dina setelah memberitahu jadwal Juna.
Juna pun langsung mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke Dina.
"Mengundurkan diri?" tanya Juna sekedar memastikan kalau yang barusan ia dengar tidak salah.
__ADS_1
"Iya Pak." jawab Dina.
"Terus sudah di acc?" tanya Juna.
"Sudah Pak." jawab Dina.
"Siapa yang meng-acc pengunduran diri Sitha?" tanya Juna. Karena tanpa tanda tangan dari atasan jelas Sitha tidak bisa keluar dari perusahaan.
"Pak Angga yang langsung acc Pak karena kemaren saat Pak Juna tidak masu, Pak Angga yang menghandle semua." jawab Dina.
Juna mengeraskan rahangnya. Ia kesal karena Sitha tidak menepati janjinya untuk tidak keluar dari Gardana Group, karena menurut Juna, Sitha adalah karyawan yang sangat berpotensi dan selalu memberikan ide-ide yang cemerlang. Dan Papa Angga juga tidak menanyakan dulu pada Juna apa Sitha boleh mengundurkan diri atau tidak.
"Ya sudah kalau begitu." balas Juna.
Dina pun keluar dari ruang kerja Juna. Setelah Dina keluar, Juna pun menghubungi manajer personalia di kantor cabang tempat Sitha di pindahkan.
"Halo selamat pagi Pak Juna." jawab Pak Irwan.
"Selamat siang Pak Irwan." balas Juna.
"Ada yang bisa di bantu Pak?" tanya Pak Irwan.
"Saya dengar karyawati yang bernama Sitha mengundurkan diri kemaren. Apa benar itu Pak?" tanya Juna.
"Oh iya Pak benar." jawab Pak Irwan.
"Alasannya apa Pak dia mengundurkan diri? Bapak kan tau kalau Sitha itu karyawan yang sangat berpotensi tinggi, kenapa di lepas begitu saja?"
"Maaf Pak, kemaren saya sudah mencoba membujuk Sitha, tapi Sitha bilang keputusannya mengundurkan diri sudah bulat." jawab Pak Irwan.
__ADS_1
"Alasannya apa dia mengundurkan diri?" tanya Juna.
"Katanya mau nikah Pak." jawab Pak Irwan.
Deg. Nyes.
Jantung Juna terasa nyeri begitu mendengar jawaban Pak Irwan.
"Ma-ma-mau nikah? Ka-ka-kapan?" tanya Juna dengan suara bergetar.
"Katanya sih dua Minggu lagi Pak dan nikahnya di Kalimantan jadi Sitha mau fokus mempersiapkan pernikahannya di Kalimantan." jawab Pak Irwan.
Di Kalimantan? Apa Sitha beneran mau nikah sama Farel? gumam Juna dalam hati.
"Ya sudah kalau begitu Pak." balas Juna dengan suara yang lemah. Ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Maaf Pak kalau saya mengecewakan Bapak." ucap Pak Irwan merasa bersalah karena tidak bisa semaksimal mungkin menahan Sitha.
"Gak pa-pa Pak, lagian Pak Angga juga sudah acc, jadi mau gimana lagi." balas Juna.
Panggilan pun berakhir.
Mendengar Sitha mau menikah, kacau sudah pikiran Juna untuk bekerja, diotak Juna sekarang hanya di penuhi dengan Sitha, Sitha dan Sitha. Juna masih belum bisa ikhlas melepaskan Sitha untuk di pinang laki-laki lain.
Karena pikirannya kacau dan tidak bisa konsentrasi bekerja, Juna pun memutuskan untuk langsung mendatangi Sitha di rumah orangtuanya.
🍁 🍁 🍁
Bersambung...
__ADS_1