Hubungan Panas Setelah Reuni

Hubungan Panas Setelah Reuni
97. Bertemu Mama Ernita


__ADS_3

🍁 Happy Reading 🍁


Keesokan harinya.


Kini Juna dan Sitha sudah berada di rumah Mama Ernita.


Sebelum datang ke rumah Mama Ernita, diam-diam Juna menghubungi Erick dan memberitahu Erick tentang kedatangan mereka. Untungnya kondisi Mama Ernita sudah lebih baik dari waktu Juna datang ke rumah Mama Ernita.


Sepanjang perjalanan, Sitha terlihat sangat tegang, bukan takut di pukuli Mama-nya, tapi takut Mama-nya menolak kedatangannya dan Juna.


Melihat ketegangan di wajah Sitha, Juna mengambil tangan Sitha dan menggenggamnya.


"Gak ada yang perlu kamu takutin, percaya sama aku, semua akan baik-baik saja. Oke." ucap Juna.


Sitha hanya menganggukkan kepalanya.


Kini mobil Juna sudah sampai tepat di depan rumah Mama Ernita. Setelah memarkirkan mobilnya, Juna dan Sitha pun turun dari dalam mobil lalu memasuki halaman rumah.


Belum juga mereka sampai di teras, Erick sudah keluar dari dalam rumah.


Erick menatap Sitha sebentar, mendapat tatapan dari Erick, Sitha langsung menundukkan wajahnya.


"Masuk. Mama ada di ruang tengah." ucap Erick.


"Ayo." ajak Juna sambil mengandeng tangan Sitha lalu masuk kedalam rumah dan diikuti Erick dari belakang.


Juna dan Sitha berjalan ke ruang tengah. Sesampainya Juna dan Sitha di ruang tengah, Mama Ernita langsung berdiri dari duduknya.


"Sitha..." lirih Mama Ernita sambil berjalan mendekati Sitha.

__ADS_1


"Mama..." balas Sitha sambil menghampiri Mama-nya.


Mama Ernita dan Sitha pun berpelukan sambil menangis.


"Akhirnya kamu pulang juga Nak. Jangan pernah pergi lagi dari rumah yah Nak. Maafin Mama kalau Mama agak keras padamu waktu itu." ucap Mama Ernita sambil mengelus kepala Sitha.


"Sitha yang minta maaf Ma, karena Sitha udah buat malu Mama. Maafin Sitha Ma, maafin Sitha." balas Sitha.


Seketika suasana di ruang tengah itu menjadi haru. Erick sampai meneteskan air mata melihat Mama dan Kakaknya berbaikan.


Setelah beberapa menit berpelukan dan saling meluapkan perasaan mereka, Mama Ernita pun mengajak Sitha duduk.


Sitha dan Mama Ernita duduk bersama di sofa panjang, sedangkan Juna duduk di sofa panjang yang berhadapan dengan Sitha dan Mama Ernita.


"Makasih yah Pak Juna sudah membawa pulang Sitha kembali." ucap Mama Ernita.


"Sudah seharusnya saya mengantarkan Sitha, Tante." jawab Juna.


"Maaf jadi merepotkan Pak Juna, padahal Pak Juna banyak pekerjaan tapi Pak Juna rela meninggalkan pekerjaan demi menjemput Sitha dari Kalimantan." balas Mama Ernita.


"Saya sama sekali tidak merasa di repot kan Tante, karena memang sudah seharusnya saya menjemput Sitha dari Kalimantan karena saya memang harus bertanggung jawab atas Sitha." ucap Juna.


Mama Ernita mengernyitkan keningnya.


"Maksudnya?" tanya Mama Ernita.


"Tante, sebenarnya ayah dari bayi yang sedang di kandung Sitha itu adalah saya." ucap Juna.


Mama Ernita kaget bukan main. Erick yang baru masuk ke ruang tengah dengan nampan yang membawa minuman untuk Juna dan Sitha langsung menjatuhkan nampannya lalu menghampiri Juna dengan tatapan emosi.

__ADS_1


"Brengsek loe! Jadi loe yang udah ngancurin hidup Kakak gue!" teriak Erick lalu mendaratkan bogemannya ke wajah Juna. Juna sama sekali tidak membalas, ia terima Erick memukuli wajahnya sampai puas.


Melihat itu, Sitha langsung berdiri dari duduknya dan berusaha menjauhkan Erick dari Juna.


"Minggir Kak, biar gue kasih pelajaran laki-laki kayak gini! Loe udah mau nikah malah malah nanem benih sama Kakak gue! Loe mikirin perasaan Kakak gue gak!" teriak Erick.


"Ini semua gak sepenuhnya salah Juna, Rick, ini juga salah gue! Gue yang udah jatuh cinta sama dia, makanya gue mau ngejalanin hubungan sama Juna walau gue tau Juna udah punya tunangan." ucap Sitha.


"Loe gak salah Sit, gue yang salah." sahut Juna yang tak ingin Sitha ikut menanggung kesalahan.


"Sudah... Sudah... Sudah jangan ribut lagi! Sudah bukan saatnya menyalahkan siapa-siapa, sekarang saatnya memikirkan hubungan kalian kedepan." lerai Mama Ernita.


"Erick gak setuju kalau dia tanggung jawab!" ucap Erick.


"Erick! Pilihan ada di tangan Kakak kamu." balas Mama Ernita.


"Sebelumnya saya ingin meluruskan terlebih dulu. Saya dan tunangan saya, kami sudah putus dan membatalkan rencana pernikahan kami. Bukan karena Sitha hamil, tapi karena memang kami sudah sama-sama tidak memiliki perasaan apa-apa lagi dan keputusan untuk berpisah dari dia." ucap Juna.


"Oh... jadi kalau tunangan loe gak mutusin hubungan kalian, loe gak bakal tanggung jawab, iya, gitu maksud loe!" sindir Erick.


"Bukan gitu maksudnya. Intinya kami sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi. Sekalipun tunangan saya tidak memutuskan hubungan kami, saya tetap akan bertanggung jawab pada Sitha. Bahkan saya juga sudah memberitahu orangtua saya dan mereka setuju saya menikahi Sitha." jawab Juna.


Tok... Tok...


"Permisi..." tiba-tiba saja ada yang datang.


🍁 🍁 🍁


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2