Hubungan Panas Setelah Reuni

Hubungan Panas Setelah Reuni
41. Juna Tegang


__ADS_3

🍁 Happy Reading 🍁


Tok... Tok... Tok...


"Masuk." jawab Juna dari dalam.


Sitha pun membuka pintu ruang kerja Juna. Begitu pintu terbuka, wajah Juna dan Shakila langsung bisa Sitha lihat. Melihat mereka duduk bersebelahan saja hati Sitha sudah kepanasan. Tapi Sitha berusaha keras untuk bersikap biasa saja.


Sitha pun masuk kedalam.


"Kata Pak Vito, Bapak manggil saya?" tanya Sitha.


Juna terdiam. Memang benar tadi ia menyuruh orang untuk meminta Sitha datang keruang kerja-nya tapi bukan untuk membahas pekerjaan melainkan karena ingin membicarakan masalah mereka yang kemaren karena dari kemaren Sitha tak kunjung menjawab pesannya.


Sekarang di ruang kerja-nya ada Kila, Juna pun bingung mencari alasan kenapa ia memanggil Sitha.


"Apa sudah selesai foto produknya?" tanya Juna. Akhirnya ia pun mendapat alasan.


"Sedang berlangsung, Pak." jawab Sitha.


"Oh... ya sudah, kalau begitu kita keruang pemotretan produk. Saya mau lihat langsung prosesnya." ucap Juna.


Niat Juna yang sebenarnya bukan karena ingin melihat langsung proses pemotretan produk, tapi karena Juna ingin menghindar dari Kila sekaligus ingin mencuri kesempatan untuk bicara dengan Sitha.


"Aku ikut, Sayang." sahut Kila.

__ADS_1


Sial, Kila malah minta ikut.


"Gak usah Sayang, kamu tunggu disini aja, aku cuma sebentar kok." tolak Juna.


"Tapi aku bosen disini. Aku ikut yah, aku gak bakalan ganggu kok, cuma mau lihat aja." rayu Kila.


Melihat interaksi Kila dan Juna, ingin sekali Sitha pergi dari ruangan itu dan berlari ke kamar mandi kemudian mencelupkan kepala-nya di air karena sekarang api cemburunya sudah sampai di ubun-ubun kepala-nya.


Juna menghela nafasnya kasar sambil melirik ke arah Sitha. Menyadari Juna sedang meliriknya, Sitha pun cepat-cepat mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Ya udah ayo." jawab Juna.


"Kalau begitu saya izin duluan ke ruang pemotretan, Pak." pamit Sitha.


"Eh... Tunggu, kita sama aja." sahut Kila.


"Ayo." Kila menggandeng tangan Sitha lalu keluar dari ruang kerja Juna.


Sitha sempat melirik Juna seolah meminta Juna untuk menyelamatkannya dari Kila. Tapi sepertinya Juna juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Juna pun menyusul Kila dan Sitha yang sudah hampir sampai di lift karena ruang pemotretan ada satu lantai dibawah lantai mereka saat ini.


Di dalam lift.


Kini Juna, Sitha dan Kila sudah berada dalam satu lift. Hanya ada mereka bertiga didalam lift sekarang dengan posisi Sitha dan Kila berdiri di belakang Juna.

__ADS_1


"Oh... Tadi kita belum kenalan kan?" tanya Kila membuka percakapan dengan Sitha. Sedangkan Juna, ia hanya diam sambil menajamkan pendengarannya untuk mendengar percakapan Kila dan Sitha.


"I-iya Bu." jawab Sitha gugup. Siapa yang tidak gugup kalau sekarang ia digandeng oleh tunangan teman tidurnya.


"Jangan panggil Ibu, panggil aja Kila." ucap Kila kemudian mengulurkan tangannya kehadapan Sitha.


"Shakila." Ucap Kila memperkenalkan dirinya secara resmi.


Sitha melihat pantulan wajah Juna dari pintu lift sebelum membalas uluran tangan Kila.


"Sitha." balas Sitha.


"Nama kamu cantik, sama kayak orangnya." balas Kila.


"Ibu bisa aja." balas Sitha semakin canggung.


Sitha tidak mengerti kenapa Kila begitu ramah padanya. Apa memang Kila adalah orang yang friendly atau jangan-jangan Kila sudah tahu hubungannya dengan Juna.


"Udah dibilang jangan panggil Ibu. Panggil Kila aja." protes Kila.


"Gak enak sama Pak Juna, Bu." balas Sitha.


"Kenapa harus gak enak? Kan yang atasan kamu, dia (sambil menunjuk Juna) kalau aku kan gak punya jabatan apa-apa disini. Eh... Lebih tepatnya belum sih. Kalaupun nanti aku udah jadi istri Juna, kamu juga gak usah manggil aku Ibu, tetap panggil Kila aja." balas Kila.


Sitha hanya tersenyum kecut mendengar kata-kata Kila. Begitu pun dengan Juna, wajah-nya langsung berubah tegang begitu mendengar kata-kata Kila.

__ADS_1


🍁 🍁 🍁


Bersambung...


__ADS_2