
🍁 Happy Reading 🍁
"Jadi kapan Kila bisa keluar dari rumah sakit dan pergi ke Singapura?" tanya Juna.
"Kila sudah keluar dari rumah sakit Pak tadi sore. Memangnya Kila tidak memberitahu Pak Juna?" jawab dokter Ibnu.
Mata Juna membulat lebar mendengar jawaban dokter Ibnu.
"Yang kasih izin Kila keluar dari rumah sakit siapa, dok?" tanya Juna.
"Saya, atas permintaan Kila." jawab dokter Ibnu.
"Kok dokter gak nanya-nanya dulu sama saya?" kesal Juna.
"Maaf Pak, tadinya saya mau menghubungi Pak Juna, tapi Kila bilang nanti dia sendiri yang akan memberitahu Pak Juna, karena saat ini Pak Juna sedang sibuk mengurus masalah perusahaan. Bahkan Kila juga sudah menandatangani surat persetujuan keluar dari rumah sakit. balas dokter Ibnu.
Mendengar itu, insting Juna mengatakan pasti ada yang tidak beres dengan Kila.
"Apa tadi Kila bilang, dia ke Singapura dengan siapa?" tanya Juna.
"Kila bilang, keputusan untuk operasi di Singapura adalah keputusan dari keluarganya. Katanya keluarganya juga sudah menunggu disana." jawab dokter.
__ADS_1
Keluarg Kila? Keluarga yang mana? Sejak kapan keluarga Kila peduli dengan Kila? Jangan kan mencarikan rumah sakit untuk Kila, menjenguk Kila di rumah sakit saja tidak pernah! Gumam Juna dalam hati.
Juna semakin yakin ada yang tidak beres.
"Ya sudah dok, saya coba hubungi keluarganya Kila dulu." ucap Juna.
"Oh iya Pak Juna, tadi perawat bilang kalau Kila ada menitipkan surat untuk Pak Juna." ucap dokter.
"Oh... Oke dok, nanti sampai di Jakarta saya langsung kesana." jawab Juna.
Panggilan pun berakhir.
"Loe udah percaya kan sama gue kalau Kila lagi sakit! Sekarang loe ikut gue balik ke Jakarta, gue akan menghadap ke keluarga loe." ucap Juna
Juna terdiam. Lagi lagi ini masalah kemanusiaan. Rasa kemanusiaan Juna benar-benar di uji.
"Gue akan coba ngomong baik-baik sama Kila dan gue juga akan ceritain semuanya ke keluarga gue tentang hubungan kita. Mau mereka gak terima dengan pilihan gue, gue akan tetap milih loe. Makanya gue sekarang butuh loe disamping gue buat ngasih gue kekuatan." balas Juna.
"Gue tetep gak bisa, Jun." balas Sitha.
Mendengar penolakan Sitha, tiba-tiba saja Juna mendekati Sitha lalu berlutut di hadapan Sitha.
__ADS_1
"Gue mohon Sit ikut gue pulang, izinkan gue bertanggung jawab sama loe dan anak kita. Mungkin loe emang gak butuh pertanggung jawaban gue, tapi anak gue? Anak gue pasti butuh pertanggung jawaban gue. Loe gak mikir gimana kehidupannya dia nanti? Dia pasti di bully karena gak punya bapak, dia pasti di katain yang gak-gak sama temen-temennya dan gue gak mau itu terjadi sama anak gue. Gue mohon Sit, hadirkan peran bapak dalam hidup anak gue." mohon Juna.
Seketika otak Sitha langsung membayangkan apa yang baru saja Juna katakan.
Sitha pernah mengalami pembullyan saat orangtuanya bercerai, padahal saat orangtua Sitha bercerai, Sitha sudah tergolong dewasa, tapi rasa sakit di hina sebagai anak broken home, sebagai anak dari laki-laki yang tukang selingkuh masih membekas dalam hati Sitha sampai sekarang, bahkan mental Sitha pernah down karena itu. Lalu bagaimana dengan nasib anaknya kelak yang sejak lahir tidak punya bapak, sudah pasti dari kecil anaknya akan mendapat hinaan sebagai anak haram oleh teman-temannya.
Baru membayangkan itu saja air mata Sitha sudah mengalir.
"Sit, gue mohon." mohon Juna selalu lagi.
"Huwaaa... kalau Kila gak mau lepasin loe gimana, Jun?" tanya Sitha sambil menangis.
"Gue akan tetap tanggung jawab, gue akan nikahin loe." jawab Juna mantap.
Sitha menatap mata Juna dalam-dalam, dari mata Juna, Sitha melihat keseriusan dalam diri Juna.
Sitha pun langsung memeluk Juna dan menangis dalam pelukan Juna.
"Iya, gue mau pulang, tapi gue mohon jangan kecewain gue lagi Jun atau gak loe gak akan pernah ngeliat gue dan anak loe seumur hidup loe!" ucap Sitha sambil menangis.
"Pasti... Pasti Sit, gue pastikan kali ini gue bisa tegas dengan diri gue sendiri." balas Juna sambil mengelus punggung Sitha.
__ADS_1
🍁 🍁 🍁
Bersambung...