
🍁 Happy Reading 🍁
Setelah kurang lebih satu jam membicarakan pernikahan Juna dan Sitha, akhirnya di tetapkan lah pernikahan Juna dan Sitha akan berlangsung dua Minggu lagi.
Atas permintaan Sitha, resepsi di gelar dengan sederhana dan tertutup dan hanya mengundang kurang lebih seratus lima puluh tamu undangan.
Setelah sepakat, Juna dan Papa Angga pun pamit pulang.
"Papa pulang yah, dua Minggu lagi Papa akan jenguk kamu di dalam, jadi bersiaplah." bisik Juna di depan perut Sitha dan langsung mendapat pukulan pelan dari Sitha.
"Jangan sembarangan ngomong!" omel Sitha.
"Siapa yang sembarangan! Kan dua Minggu lagi kita sah jadi suami-istri. Ingat janji loe, Sit." jawab Juna sambil menaik turunkan alisnya.
"Juna!!!" teriak Papa Angga yang sudah sampai di ruang tamu.
"Iya Pa, iya." Jawab Juna.
"Gue pulang yah." Pamit Juna.
Sitha menganggukkan kepalanya.
"Oh iya, barang-barang gue di hotel, jangan lupa bawa kesini." kata Sitha.
"Mmm..." jawab Juna.
Mata Juna celingak-celinguk untuk melihat situasi. Juna hendak mencium bibir Sitha sebelum pergi dari ruang tengah. Tapi baru juga Juna mendekatkan wajahnya ke wajah Sitha, tiba-tiba datang Erick menggagalkan niat Juna.
"Mau ngapain loe?" bentak Erick saat memergoki Juna yang hendak mencium Sitha.
__ADS_1
Sontak Juna langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Sitha.
"Udah sana loe pulang! Bokap loe udah nungguin!" kata Erick. Ia masih tidak terima kalau Juna akan menjadi Kakak iparnya.
"Gue pulang yah." pamit Juna sekali lagi lalu pergi dari hadapan Sitha.
Awas aja loe kalau gue udah jadi suami Kakak loe. Giliran gue yang monopoli Kakak loe. Gerutu Juna dalam hati begitu melewati Erick.
Sitha hendak mengantar Juna sampai di teras tapi langsung di larang oleh Erick.
"Loe disini aja, gak usah ikut nganter ke depan." larang Erick.
"Cih!" decih Sitha sambil memutar bola matanya malas lalu masuk ke dalam kamar Mama-nya untuk melihat kepergian Juna dari jendela kamar.
Setelah melihat Juna dan Papa Angga pergi, barulah Sitha keluar dari kamar Mama Ernita dan kembali berkumpul dengan Mama Ernita dan Erick di ruang tengah.
Sitha menghela nafasnya kasar.
"Apa gak bisa Erick aja Ma yang jadi wali Sitha? Sitha gak mau Papa yang jadi wali Sitha." jawab Sitha.
"Sit, sudah lah, kuburlah kemarahan mu pada Papa mu. Mama saja sudah mengikhlaskan semuanya, masa kamu tidak bisa mengikhlaskan semuanya sih? Mau sampai kapan kamu seperti ini? Manusia tempatnya salah, Sitha! Bukankah kamu juga sudah melakukan kesalahan?" balas Mama Ernita.
"Ayolah Sitha, maafkan lah Papa mu." bujuk Mama Ernita.
Sitha menghela nafasnya kasar.
"Oke, Sitha akan temui Papa dan memberitahu Papa tentang pernikahan Sitha." Jawab Sitha.
Mama Ernita bernafas lega.
__ADS_1
"Gitu dong. Mulai sekarang kita semua buka lembaran yang baru." ucap Mama Ernita.
🍁 🍁 🍁
Keesokan harinya.
Rumah Papa Leo.
Kini Sitha, Mama Ernita dan Erick sudah berada di rumah Papa Leo.
Rumah Papa Leo memang lebih besar dari rumah tempat tinggal Mama Ernita dan rumah ini lah rumah yang menjadi tempat Sitha tumbuh. Tapi setelah kedua orangtuanya memutuskan untuk bercerai karena Papa Leo yang suka selingkuh, Mama Ernita pun angkat kaki dari rumah itu. Sitha dan Erick juga ikut bersama Mama Ernita, hanya saja setelah Papa Leo sakit-sakitan mau tidak mau Erick tinggal bersama sang Papa untuk menjaga Papa Leo. Kalau Sitha tidak usah ditanya, jangankan menjaga atau mengurus, melihat wajah Papa-nya saja Sitha sudah tidak mau lagi setelah mengetahui Papa-nya tukang selingkuh.
Karena sudah lama tidak menginjakkan kaki di rumah megah itu, Sitha merasa seperti orang asing di rumah masa kecilnya.
"Erick panggil Papa dulu yah Ma." ucap Erick setelah mereka sampai di ruang tengah.
Mama Ernita menganggukkan kepalanya lalu mendaratkan bokongnya di sofa panjang. Sedangkan Sitha, dia berjalan melihat foto-foto keluarga mereka waktu masih utuh yang masih terpajang di bufet. Tidak ada satu foto pun yang hilang di bufet itu.
"Kenapa Papa masih pajang semua foto-foto ini? Kenapa juga dia gak pajang foto dia sama selingkuhan-selingkuhannya itu?" Celetuk Sitha.
"Sit, udah dong! Ingat tujuan kita kesini bukan untuk bahas masa lalu." tegur Mama Ernita.
"Iya Ma... iya." balas Sitha.
Sitha pun menyusul Mama-nya duduk di sofa dan menunggu kedatangan Papa Leo, seperti tamu yang menunggu tuan rumahnya keluar.
🍁 🍁 🍁
Bersambung...
__ADS_1