
🍁 Happy Reading 🍁
Keesokan harinya.
Pukul 05.00
Saat ini Sitha sudah berada di kamar mandi dengan lima testpack yang ikut ia bawa. Kelima testpack itu sudah berada di dalam wadah yang berisi air seni-nya.
"Negatif, negatif, please negatif." lirih Sitha berdoa agar garis merah yang keluar hanya satu garis.
Tapi doa Sitha mental begitu saja saat kelima testpack itu mengeluarkan dua garis merah. Tubuh Sitha lemas seketika melihat dua garis merah itu. Sangking lemasnya Sitha sampai terduduk di kloset.
"Astaga, gimana ini?" lirih Sitha sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Tok... Tok... Tok...
"Sit, Sitha..." panggil Mama Ernita sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya Ma." jawab Sitha.
"Kamu ngapain di dalam? Kok gak ada suaranya? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Ernita.
__ADS_1
"Iya Ma, Sitha lagi boker." jawab Sitha.
"Oh, Mama kirain kamu kenapa-kenapa." balas Mama Ernita.
Tak lama terdengar suara kompor yang berbunyi, itu tandanya Mamanya sudah pergi dari depan pintu kamar mandi.
Sitha pun cepat-cepat membereskan testpack lalu membuang air seni yang ada dalam wadah, setelah itu baru mandi.
Kini Sitha sudah selesai mandi dan sudah berada di dalam kamarnya. Sitha memasukkan lima testpeck itu kedalam plastik lalu memasukkannya kedalam tas kerjanya. Setelah itu ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Juna, ia ingin memberitahu Juna kalau saat ini dirinya tengah hamil.
Tapi baru juga ia mendapatkan nomor Juna, Sitha langsung mengurungkan niatnya karena tiba-tiba teringat kalau Juna dan Kila akan menikah. Berita pernikahan Juna dan Kila sudah sampai ketelinga Sitha karena para karyawan di kantor cabang terus membicarakan tentang Juna dan Kila.
"Gak, gak, gak! Gue gak boleh kasih tau Juna dulu. Gue harus periksa kedokter dulu untuk mastiin. Habis itu baru gue cari jalan keluarnya." monolog Sitha.
🍁 🍁 🍁
Pukul 10.00
Kini Sitha sudah berada di ruang tunggu poli kandungan dan sedang menunggu namanya di panggil. Demi memastikan kalau dirinya hamil atau tidak, hari ini Sitha kembali izin tidak masuk kantor.
"Ibu Elsitha Putri." panggil perawat dari depan pintu ruangan dokter kandungan.
__ADS_1
Sitha pun berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju ruangan dokter. Saat ini jantung Sitha berdegup sangat kencang dan kakinya juga sangat lemas, dalam hatinya dia selalu berdoa agar hasil pemeriksaan dokter tidak sama dengan hasil kelima testpack.
Sesampainya di ruangan dokter, dokter kandungan itu pun meminta Sitha langsung berbaring untuk melakukan USG. Setelah melakukan pemeriksaan, hasilnya benar kalau saat ini ada nyawa yang hidup di rahim Sitha yang saat ini sudah jalan tiga minggu. Makin bergetar saja tubuh Sitha.
Setelah melakukan pemeriksaan, Sitha pun keluar dari ruangan dokter. Dengan langkah gontai, Sitha berjalan dari poli kandungan menuju pintu keluar. Sitha benar-benar bingung sekarang apa yang harus ia lakukan. Pilihannya hanya dua, satu menggugurkan janinnya dan yang kedua memberitahu Juna, tidak ada pilihan lain selain kedua pilihan itu bagi Sitha karena Sitha tidak mau mempertahankan janin itu tanpa seorang suami, karena ia tidak mau membuat malu Mamanya.
Saat sedang berjalan menuju pintu keluar, tanpa Sitha sadari, Sitha berpapasan dengan Kila yang hendak berjalan menuju poli kandungan. Walau Sitha tidak menyadari, tapi Kila menyadarinya setelah beberapa langkah melewati Sitha.
Kila pun membalikkan badannya lalu memanggil Sitha.
"Sitha..." panggil Kila.
Sitha yang sedang melamun sambil jalan pun akhirnya sadar dari lamunannya lalu celingak-celinguk mencari orang yang memanggilnya.
"Sit..." Kila menepuk pundak Sitha dari belakang.
Sitha pun membalikkan badannya, tubuhnya langsung kaku begitu melihat Kila yang sedang tersenyum padanya.
"Ki-Ki-Kila..." lirih Sitha gugup.
Bagaimana tidak gugup, Juna pernah bilang kalau Kila sudah tahu hubungan gelap Juna dan Sitha ditambah lagi sekarang Sitha sedang mengandung anak Juna.
__ADS_1
🍁 🍁 🍁
Bersambung...