
🍁 Happy Reading 🍁
Rumah Orangtua Juna.
Mobil Juna sudah terparkir mulus di halaman rumah orangtuanya.
"Ayo." ajak Juna setelah melepas sabuk pengamannya.
"Gue tunggu di mobil aja deh Jun, kayaknya gue belum siap." tolak Sitha.
"Kalau loe kayak gini terus gimana masalah kita mau selesai? Loe mau kan masalah ini cepet selesai, jadi ayo kita hadapi sama-sama. Gue gak minta loe ngejelasin apa-apa sama orangtua gue, loe cukup berdiri di samping gue dan biar gue yang ngomong sama mereka." balas Juna.
Juna pun keluar dari dalam mobil lalu berjalan menuju pintu mobil di sisi kiri kemudian membukakan pintu mobil untuk Sitha.
Sitha menghela nafasnya begitu Juna membuka pintu mobil. Mau tidak mau Sitha pun membuka sabuk pengamannya lalu keluar dari dalam mobil.
Mereka pun berjalan memasuki rumah dengan tangan Juna yang terus menggandeng tangan Sitha.
"Den Juna, udah di tunggu Ibu sama Bapak di ruang tengah." ucap salah satu asisten rumah.
Juna menganggukkan kepalanya paham lalu meneruskan langkahnya ke ruang tengah.
"Ma... Pa..." sapa Juna begitu berada di ruang tengah.
Sontak Mama Novita dan Papa Angga pun menoleh ke arah Juna.
Tapi mata mereka bukan fokus melihat Juna melainkan melihat Sitha yang tangannya di genggam Juna.
Apa perempuan ini yang namanya Sitha? Gumam Mama Novita.
__ADS_1
"Duduk." Perintah Papa Angga.
Juna dan Sitha pun berjalan menuju long sofa lalu duduk disana.
"Apa yang terjadi di hubungan kamu dan Kila? Tadi Mama bilang Kila menelpon dan membatalkan pernikahan kalian. Apa ini ada hubungannya dengan perempuan yang kamu bawa itu?" tanya Papa Angga.
Juna melirik Sitha sesaat dan melihat wajah gugup Sitha. Melihat itu, Juna langsung menggenggam erat tangan Sitha seolah ingin mengatakan pada Sitha kalau Sitha harus percaya padanya.
"Kalau Papa pengen dengar jawaban versi Kila, Juna juga gak tau kenapa Kila membatalkan pernikahan kami. Tapi kalau Papa pengen denger jawaban dari versi Juna, iya. Tadinya Juna memang ingin membatalkan pernikahan dengan Kila karena perempuan ini." jawab Juna sambil menoleh ke arah Sitha.
"Juna!!!" bentak Papa Angga.
"Pa, Juna kan udah pernah bilang sama Papa kalau Juna udah gak punya perasaan apa-apa sama Kila, tapi Papa yang memaksa Juna untuk mempertahankan hubungan dengan Kila. Tapi apa Papa tau kalau itu bukan hanya menyakiti Juna dan Kila tapi juga menyakiti perasaan Sitha. Juna terpaksa melepas Sitha demi mempertahankan hubungan dengan Kila." balas Juna.
"Sekarang Kila yang memutuskan untuk menyerah, jadi gak ada lagi alasan Juna untuk tetap mempertahankan hubungan dengan Kila. Juna akan meneruskan hubungan dengan Sitha dan akan menikahi Sitha sekalipun Mama dan Papa gak merestui hubungan kami, karena sekarang Sitha sedang hamil anak Juna." kata Juna lagi.
Mama Novita langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Pantas saja Kila meminta Mama untuk merestui hubungan kamu dengan perempuan yang bernama Sitha, ternyata..." Mama Novita menggantung kata-katanya. Padahal ia ingin mengatakan kalau mungkin Kila membatalkan pernikahan karena Kila tau kalau Sitha sedang hamil.
Sedangkan Papa Angga hanya bisa menghela nafasnya kasar sambil memijat pangkal hidungnya.
"Kedatangan Juna kesini bukan untuk meminta restu dari kalian, kedatangan Juna kesini untuk mengenalkan Sitha pada Mama dan Papa." ucap Juna.
"Hubungi Kila sekarang. Minta dia datang kesini dan bicarakan masalah ini baik-baik, kita cari jalan tengahnya." balas Papa Angga.
"Kila memblokir nomor Juna dan Juna juga gak tau dimana Kila sekarang." jawab Juna.
"Maksud kamu apa, hah?" tanya Papa Angga.
__ADS_1
Juna mengeluarkan surat dari Kila lalu memberikannya pada Papa Angga.
Papa Angga dan Mama Novita pun membaca bersama surat itu.
"Kila sakit, ada tumor di rahimnya dan harus segera di operasi." ucap Juna selagi orangtuanya membaca surat dari Kila.
Mama Novita langsung mengalihkan pandangannya melihat Juna.
"Selama beberapa hari ini sebenarnya Kila ada di rumah sakit. Tapi dokter yang menangani Kila bilang, kemaren saat Juna sedang menjemput Sitha di Kalimantan, Kila ngotot mau keluar dari rumah sakit, alasannya karena keluarganya sudah mendapat rumah sakit di Singapura. Tapi pas Juna hubungi asisten rumah tangga Om Dennis, katanya Om Dennis dan Tante Alma sedang di Amerika karena istrinya Dieko melahirkan." kata Juna lagi.
"Juna udah coba menghubungi Kila berulang kali, tapi tetap gak bisa. Posisinya juga gak bisa di lacak, sepertinya Kila sengaja mematikan ponselnya biar gak bisa di lacak." lanjut Juna.
"Astaga Kila, kamu dimana Nak.." cemas Mama Novita.
"Kamu urus saja urusan mu, biar Papa yang mencari Kila." ucap Papa Angga.
"Papa setuju Juna sama Sitha?" tanya Juna.
"Apa ada alasan untuk Papa gak setuju? Pertama, Sitha sudah hamil anak kamu. Kedua, Kila juga sudah memutuskan mengakhiri hubungan kalian. Ketiga, Kila juga sudah meminta pada kami untuk merestui hubungan kamu dan Sitha. Jadi gak ada alasan buat kami untuk tidak merestui hubungan kalian. Walaupun sebenarnya Papa sangat kecewa dengan perbuatan mu." jawab Papa Angga.
"Kalian pergi lah dan urus apa yang harus kalian urus. Biar Papa yang mencari Kila." Kata Papa Angga lagi.
"Makasih Pa. Kalau begitu kami pergi dulu." balas Juna.
"Ayo Sit, kita pergi. Masih banyak yang harus kita urus." ucap Juna sambil menarik tangan Sitha.
"Om, Tante saya pulang dulu." Pamit Sitha dan hanya di balas dengan anggukkan kepala oleh Papa Angga, sedangkan Mama Novita masih menangisi Kila yang entah dimana keberadaannya sekarang.
🍁 🍁 🍁
__ADS_1
Bersambung...