
🍁 Happy Reading 🍁
Jam kerja pun usai, Sitha cepat-cepat membereskan meja kerja-nya lalu cepat-cepat pergi dari ruangannya. Ia tidak ingin sampai bertemu dengan Juna lagi. Setengah hari ini Sitha benar-benar menghindar dari Juna. Juna juga menyadari kalau Sitha yang sedang berusaha menghindar darinya.
Pukul 19.00
Apartemen Juna.
Kini Juna sudah berada di depan pintu unit apartemennya lalu membuka-nya.
Ceklek.
"Astaga..." pekik Juna begitu ia membuka pintu karena melihat Kila yang berdiri di belakang pintu hanya dengan menggunakan lingerie berwarna merah. Sudah memakai lingerie yang bagian dada-nya hanya berbentuk seperti saringan teh, Kila juga tidak memakai kacamata kain yang menutupi gundukan kembarnya hingga memperlihatkan dengan jelas bentuk si gundukan kembar.
"Selamat malam Sayang." sapa Kila dengan gaya erotis kemudian gelendotan di tangan Juna.
"Kamu ngapain pake pakaian kayak gini Kila?" tanya Juna.
"Kan kamu tadi yang nyuruh aku pake pakaian seksi menyambut kamu pulang." jawab Kila.
"Iya, aku kan cuma suruh pake pakaian seksi bukan pake lingerie, Kila." balas Juna.
"Ganti sana pakaian mu! Aku gak suka lihat kamu pakai begituan!" kata Juna lagi.
"Gak usah lah, kan mau di buka juga nanti." jawab Kila sambil mengerlingkan sebelah matanya.
__ADS_1
Juna menghela nafasnya kasar sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Kila. Juna tidak yakin kalau tubuh-nya masih bisa bergairah dengan Kila.
Mereka pun berjalan menuju ruang tengah.
"Mau makan dulu atau mandi dulu?" tanya Kila.
"Memangnya kamu udah nyiapin makanan?" tanya Juna sambil mendaratkan bokongnya di sofa.
"Udah dong Sayang. Tapi bukan aku masak, aku cuma pesen online." jawab Kila.
"Ya udah makan dulu kalau gitu." jawab Juna. Juna pun membuka sepatu-nya. Setelah Juna membuka sepatunya, Kila pun meletakkan sepatu Juna di tempat sepatu dan mengambil sendal rumah untuk Juna.
Mereka pun berjalan menuju ruang makan.
"Siro udah kamu kasih makan kan?" tanya Juna.
Juna terdiam sejenak. Juna tahu apa penyebabnya. Apalagi kalau bukan karena Siro sudah terbiasa dengan Sitha.
"Mungkin karena kamu udah lama gak kesini, makanya dia ngerasa kamu kayak orang lain." jawab Juna.
"Masa sih? Ini kan bukan pertama kali-nya aku lama dateng kesini, tapi Siro gak pernah lupain aku. Lagian, anjing kan punya feeling yang kuat, sekalipun bertahun-tahun gak ketemu pasti dia masih ingat sama tuan-nya." balas Kila.
"Ya gak tau lah Kil, mungkin dia lagi ngambek sama kamu karena kamu sering-sering ninggalin dia." balas Juna.
"Cih... Itu sih kamu Sayang yang ngambek." balas Kila.
__ADS_1
Bukan hanya ngambek, tapi udah hambar. Jawab Juna dalam hati.
🍁 🍁 🍁
Satu jam kemudian.
Kini Juna sudah selesai mandi dan sedang berada di ruang kerja-nya. Bukan untuk bekerja tapi untuk menghindari Kila yang sejak tadi sedang berupaya menggoda-nya.
Juna benar-benar sedang tidak selera bercinta dengan Kila. Dipikiran Juna sekarang hanya Sitha, Sitha dan Sitha.
Juna menatap serius layar laptop di hadapannya, bukan melihat email laporan pekerjaan yang masuk melainkan sedang membaca chat Sitha dengan Farel.
Dari chat yang Juna baca, Farel dan Sitha nampak begitu akrab dan itu membuat Juna geram, rahangnya mengeras.
"Lihat aja, akan gue buat loe mental dari Sitha!" geram Juna.
Tok... Tok... Tok..
Tiba-tiba saja pintu ruang kerja Juna terketuk.
"Jun... Sayang, kok pintu-nya di kunci?" teriak Kila dari depan pintu. Sengaja memang Juna mengunci pintu ruang kerja-nya agar Kila tidak bisa tiba-tiba masuk.
Juna pun cepat-cepat mengganti tampilan layar laptopnya ke tampilan email, lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
🍁 🍁 🍁
__ADS_1
Bersambung...