Hubungan Panas Setelah Reuni

Hubungan Panas Setelah Reuni
92. Isi Surat Untuk Juna


__ADS_3

🍁 Happy Reading 🍁


"Muka loe kenapa? Kok ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Juna yang menyadari tatapan Sitha padanya.


"Segitu khawatirnya loe sama dia." jawab Sitha.


Juna terdiam dan mencerna kata-kata Sitha. Juna pun sadar kalau Sitha sudah salah paham dengan rasa khawatirnya pada Kila.


Juna mengambil tangan Sitha dan menggenggamnya erat.


"Gak usah mikir yang macem-macem, gue khawatir sama Kila karena dia sekarang sedang sakit dan gue sangat tau kalau keluarga angkatnya gak ada yang peduli sama dia dan Kila hanya berharap sama gue dan keluarga gue." ucap Juna.


"Tapi kalau soal hati, loe harus percaya sama gue, gue gak punya perasaan apa-apa lagi sama Kila dan gue mantap ingin mengakhiri hubungan gue sama Kila. Di hati gue cuma ada loe sekarang, Sit, dan Kila hanya gue anggap sebagai adik gue." kata Juna lagi.


"Cih! Mana mungkin loe bisa nganggep adek kalau loe udah pernah berhubungan intim sama dia!" balas Sitha sambil menepis tangan Juna.


Juna menghela nafasnya dan memilih untuk tidak membalas kata-kata Sitha.


Saat hendak menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba Juna teringat akan surat yang di titipkan Kila.


Juna pun mengeluarkan surat itu lalu membacanya.


Untuk Juna.


Aku tau kamu gak pergi ke Surabaya untuk bisnis. Aku tau kamu saat ini kamu sedang mencari Sitha.


Setelah aku pikir-pikir, aku ini sangat egois, meminta kamu untuk terus bersama ku padahal aku tau kamu begitu tersiksa meneruskan hubungan kita.


Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dengan hubungan kita dan melepas mu agar kamu bisa mencari kebahagiaan mu.

__ADS_1


Maaf kalau selama menjadi pacar mu aku sangat egois dan tidak pernah memikirkan perasaan mu. Aku sadar, bukan salah Sitha kenapa kamu sampai berpaling dariku, tapi ini semua karena kesalahan ku yang membuat mu jenuh dan akhirnya berpaling ke wanita lain.


Kamu gak usah mengkhawatirkan aku, aku pastikan aku akan baik-baik saja setelah perpisahan kita. Lebih baik kamu cari Sitha, kejarlah dia dan bahagiakan lah dia. Berjanjilah Jun, kamu dan Sitha harus bisa hidup bahagia agar aku juga tenang dan tidak di hantui rasa bersalah saat melanjutkan hidup ku.


Kamu gak usah cari aku, gak usah khawatirin aku, percaya sama aku, aku gak akan buat yang aneh-aneh dan bisa jaga diri aku. Aku janji akan menghubungi mu suatu saat nanti kalau tubuh ku sudah sehat. Dan aku harap saat kita bertemu lagi, kamu bisa mengenalkan anak-anak mu dan Sitha padaku.


Terimakasih Juna sudah mencintai dan menyayangi ku selama lebih dari lima tahun.


Shakila.


Itulah isi surat Kila untuk Juna.


Juna menghela nafasnya kasar sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


Sitha yang penasaran dengan isi surat itu pun menarik surat itu dari tangan Juna lalu membaca surat itu.


Juna menoleh ke arah Sitha lalu menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban kalau ia tidak akan mengejar Kila.


"Daripada ngejar Kila mending sekarang ngejar restu orang tua loe dan orang tua gue." ucap Juna.


"Terus Kila? Loe gak khawatirin dia lagi?" tanya Sitha.


"Dia udah bilang kan kalau dia gak akan buat yang aneh-aneh dan gue percaya kalau dia gak akan buat yang aneh-aneh. Gue tau banget siapa Kila." jawab Juna.


Sitha terdiam. Entah kenapa hatinya merasa panas karena Juna begitu mengerti Kila.


"Kenapa lagi, hah?" tanya Juna sambil menggenggam tangan Sitha.


"Loe begitu ngertiin dia, gue cemburu!" jawab Sitha jujur.

__ADS_1


"Gak ada yang perlu di cemburuin Sit, kalau gue masih punya perasaan sama Kila, mana mungkin gue mau jauh-jauh nyamperin loe ke Kalimantan, toh gue juga gak tau kalau loe lagi hamil anak gue. Tapi karena gue udah jatuh cinta sama loe, jangankan di Kalimantan, di Kutub Selatan sekali pun gue kejar loe." balas Juna.


"Udah yah jangan cemburu-cemburu lagi, loe harus percaya sama gue." kata Juna lagi dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Sitha.


"Gue juga gak tau kenapa perasaan gue jadi sensitif gini sekarang." ucap Sitha.


"Pasti bawaan anak gue deh nih makanya perasaan loe jadi sensitif dan cemburuan." balas Juna sambil mengelus perut Sitha lalu menurunkan wajahnya ke perut Sitha.


"Nanti malam Papa jenguk yah dek, biar adek gak sensitif lagi sama Papa." ucap Juna.


PLAK... Sitha langsung memukul punggung Juna pelan begitu mendengar kata-kata Juna.


"Kenapa sih? Emangnya salah kalau gue jenguk anak gue? Dari dia ada sampai sekarang kan gue belum pernah jenguk makanya anak gue jadi cemburuan." ucap Juna.


"Diem loe! Sekarang kita mau kemana lagi ini, cepetan berangkat!" balas Sitha ketus.


"Heleh..." balas Juna sambil menoel dagu Sitha.


Juna pun menyalakan mesin mobilnya. Saat Juna hendak melepas rem tangan mobil, tiba-tiba ponsel Juna berdering.


Juna pun mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.


Mama.


Ternyata Mama Novita yang menghubunginya.


🍁 🍁 🍁


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2