Hubungan Panas Setelah Reuni

Hubungan Panas Setelah Reuni
56. Juna Tertekan


__ADS_3

🍁 Happy Reading 🍁


Satu Minggu berlalu, Juna tak lagi mengganggu Sitha. Tapi bukan berarti Juna tidak memantau hubungan Sitha dengan Farel.


Dalam seminggu ini Farel sangat rutin mengantar dan menjemput Sitha. Bahkan saat Sitha keluar makan siang, Farel sudah standby di depan lobi.


Cemburu? Jelas! Juna sangat cemburu melihat hubungan Sitha dan Farel yang semakin mesra di tambah lagi chat Sitha dan Farel yang sudah mengarah ke pembicaraan hubungan yang serius.


Aku gak mau nyari pacar, aku lagi nyari istri.


Sama aku juga gak mau nyari pacar, capek pacaran, aku mau langsung cari suami.


Itulah salah satu pesan Sitha dan Farel yang tak bisa membuat Juna tidur tenang, makan tak selara dan kerja pun tak semangat.


Hari ini hari Sabtu, sejak pagi tadi Juna tidak keluar-keluar dari apartemennya. Bahkan untuk sekedar menjawab telepon dari Kila pun Juna malas.


Juna sangat uring-uringan hari ini karena malam ini Sitha dan Farel akan pergi malam mingguan.


Bip... Bip... Bip... Bip... Bip... Bip. Bunyi password pintu apartemen.


Mendengar seseorang sedang memasukkan password pintu apartemennya, Juna hanya menghela nafasnya kasar dan malas berjalan ke pintu menyambut orang yang hendak masuk ke apartemennya. Juna membesarkan volume televisi agar ia punya alasan kenapa ia tidak menyambut orang itu.


Ceklek. Pintu terbuka. Orang yang tadi menekan password pintu pun memasuki apartemen. Baru juga di depan pintu, suara televisi sudah sangat menggelegar.


Orang itu pun berjalan memasuki ruang tengah.


"Astaga Jun, telinga kamu gak sakit apa denger suara yang besar gini?" omel orang itu.

__ADS_1


Juna tidak menjawab dan terus menatap ke layar televisi.


Karena Juna tidak menjawab, orang itu pun merampas remote yang Juna pegang lalu mengecilkan suara volume televisi kemudian mematikan televisi.


"Kenapa dimatiin tivi-nya? Sini remote-nya." protes Juna sambil menyodorkan tangannya pada orang itu.


Bukannya memberikan remote itu pada Juna, orang itu malah melempar remote ke sofa yang lain.


Juna menghela nafasnya kasar lalu berdiri dari duduknya dan hendak berjalan menuju kamar-nya. Tapi baru juga Juna melangkah beberapa langkah orang itu langsung memeluk Juna dari belakang.


"Aku kangen kamu Jun." ucap orang itu.


Ya, orang itu adalah Kila.


"Aku lagi gak enak badan Kil, aku mau istirahat dulu." balas Juna halus sambil melepaskan tangan Kila yang melingkar di pinggangnya lalu kembali meneruskan langkah-nya.


"Karena Sitha makanya kamu sampe gak enak badan?" tanya Kila.


"Aku lagi gak mau ribut Kil. Lagian kan kamu yang mau terus menjalani hubungan ini, bukan aku! Jadi tolong jangan menuntut apa-apa dari aku." ucap Juna lalu kembali meneruskan langkah kaki-nya menuju kamar.


Setelah Juna pergi, Kila hanya bisa terduduk di sofa dan menangis.


"Aku harus apalagi Juna buat kamu kembali sama aku? Aku gak mau lepasin kamu, aku butuh kamu." ucap Kila sambil menangis.


Sedangkan di dalam kamar, Juna langsung membaringkan tubuh-nya kasar di atas ranjang.


Lima belas menit kemudian, tiba-tiba ponsel Juna berdering. Panggilan telepon dari Mama Novita.

__ADS_1


Melihat nama Mama-nya yang menelpon Juna hanya bisa menghela nafasnya kasar. Pasti Kila sudah mengadu pada Mama Novita.


Dengan malas Juna menggeser tombol hijau di layar ponsel-nya.


"Halo Ma." jawab Juna.


"Kila sudah sampe disitu?" tanya Mama Novita.


Dari pertanyaan Mama Novita, jelas Kila tidak memberitahu apa-apa pada Mama Novita.


"Iya Ma, dia ada di ruang tengah. Juna lagi di kamar sekarang." jawab Juna jujur.


"Kenapa tidak kamu temani Kila?" tanya Mama Novita.


"Juna lagi gak enak badan Ma." jawab Juna.


"Jun, berbaikan lah dengan Kila. Gimana hati mu mau kembali pada Kila kalau kamu sendiri membangun tembok besar dalam hati mu. Coba kamu aja Kila jalan-jalan, nonton atau dinner romantis atau liburan sekalian." ucap Mama Novita.


"Tapi Ma-"


"Jun, jangan sakiti Kila! Ingat selalu bagaimana perjuangan mu dulu meyakinkan Mama dan Papa untuk menerima Kila. Masa Sekarang Mama dan Papa sudah sayang sama Kila, kamu malah mau ninggalin dia hanya karena perasaan mu sudah hambar! Apalagi sih yang mau kamu cari Juna? Bukannya dulu kamu selalu bilang sama Mama dan Papa kalau Kila adalah tipe wanita idaman mu, wanita yang sangat ideal jadi pendamping hidup mu? Ingat yang selalu Papa bilang Juna, laki-laki yang dipegang itu omongannya." potong Mama Novita.


Juna hanya diam.


"Ya sudah, Mama tutup teleponnya yah. Ingat, perlakukan Kila dengan baik! Dan Mama tunggu kabar rencana pernikahan kalian." ucap Mama Novita lagi.


Mama Novita pun menutup teleponnya dan Juna menjambak rambutnya kasar karena sebagai laki-laki ia tidak bisa tegas dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


🍁 🍁 🍁


Bersambung...


__ADS_2