
🍁 Happy Reading 🍁
"Aku kangen kamu Sayang." ucap Shakila sambil membenamkan wajah-nya di punggung Juna.
Untuk beberapa detik tubuh Juna membeku. Juna kaget luar biasa dengan kedatangan Shakila tiba-tiba.
Juna pun melepaskan tangan Shakila yang melingkar di pinggangnya lalu memutar tubuh-nya.
"Kamu kok ada disini? Bukannya kamu bilang-"
"Aku mau ngasih surprise Sayang, makanya aku sengaja bohongin kamu kamaren itu." potong Shakila.
Entah kenapa mendengar itu Juna sama sekali tidak senang.
"Kenapa muka kamu kok kayak gitu? Kamu gak senang aku pulang?" tanya Shakila.
"Seneng kok, seneng." jawab Juna lalu menggiring Shakila menuju sofa.
"Jadi kamu kapan nyampe?" tanya Juna sembari mendaratkan bokongnya di sofa.
"Tadi jam enam, terus aku langsung kesini." jawab Shakila.
"Berarti kamu capek banget dong sekarang? Aku anterin kamu pulang yah, biar kamu istirahat."
Shakila menggeleng.
"Begitu lihat kamu capek aku hilang, Sayang." ucap Kila sambil gelendotan di lengan Juna.
Jika biasanya Juna senang jika Shakila bermanja-manja seperti ini padanya, tapi sekarang ia merasa risih saat Shakila bersikap manja padanya, ingin rasanya Juna menepis kepala Shakila yang sedang menempel di pundaknya tapi Juna tidak sanggup.
"Kamu udah sarapan?" tanya Juna.
"Udah tadi di bandara." jawab Shakila.
"Beneran kamu gak capek? Memangnya kamu gak jetlag?" tanya Juna lagi.
__ADS_1
"Gak Sayang, kan aku dari Singapore dulu baru kesini. Dua hari yang lalu aku udah sampe Singapur." jawab Kila.
"Oh..." Juna hanya membulatkan mulutnya. Ia bingung alasan apalagi yang harus ia pakai untuk membuat Kila pergi dari kantornya.
"Jun..."
"Hemh..."
"Aku minta maaf yah soal di Bali waktu itu." ucap Shakila.
"Udah lah Kila gak usah di bahas lagi. Kan udah lama juga. Aku udah lupain semua itu." jawab Juna.
"Ya... Tapi aku gak enak aja. Aku terus kepikiran Sayang, aku takut karena penolakan aku waktu itu kamu jadi menyerah sama hubungan kita dan kamu selingkuhin aku." ucap Kila.
Jleb...
Ucapan Shakila berhasil menusuk hati Juna yang paling dalam.
Wajah Juna pucat seketika. Takut-takut kalau Shakila memang sudah tahu hubungan panasnya dengan Sitha.
"Temen aku juga dulu katanya pernah ngalamin hal yang sama kayak hubungan kita. Mantan pacarnya bolak-balik ngelamar dia tapi dia selalu nolak karena terlalu mengejar ambisi-nya ingin menjadi balerina internasional. Tapi disaat temen aku sudah berhasil meraih ambisi-nya, ternyata mantan pacarnya udah nikah sama perempuan lain." cerita Kila.
"Temen aku bilang, dia bener-bener nyesel udah ngelewatin kesempatan berharga bahkan lebih berharga daripada menjadi balerina internasional. Dia gak sadar kalau selama ini mantan pacarnya itu udah merasakan lelah dengan hubungan mereka yang jalan di tempat. Makanya dia nasehatin aku, kalau ada laki-laki yang bener-bener tulus mencintai aku jangan buat laki-laki itu merasa lelah menjalani hubungan dengan aku, kalau aku gak mau menyesal seperti temen aku." kata Kila lagi.
Juna hanya diam mendengarkan cerita Shakila.
"Jun..."
"Hemh..."
"Kamu gak lelah kan dengan hubungan kita?" tanya Shakila.
Juna terdiam sambil menatap mata Shakila dalam-dalam. Ia bingung jawaban apa yang harus ia berikan pada Shakila.
Lelah? Mungkin iya, Juna sudah merasakan lelah dengan hubungannya dengan Shakila yang jalan di tempat makanya Sitha bisa dengan mudah-nya masuk kedalam hati Juna.
__ADS_1
"Mmm... Kila-"
Tok... Tok... Tok...
Tiba-tiba pintu ruang kerja Juna ada yang mengetuk.
Juna yang ingin bicara serius tentang perasaannya pun jadi mengurungkan niatnya untuk bicara pada Shakila.
"Masuk." jawab Juna.
🍁 🍁 🍁
Sebelum pintu ruang kerja Juna terketuk.
Sitha yang baru kembali dari ruang pemotretan produk pun langsung didatangi salah seorang karyawan senior.
"Sit, di panggil Pak Juna tuh keruangannya." ucap si karyawan senior yang tadi diberi pesan oleh Juna.
"Untuk apa Pak Juna manggil saya?" tanya Sitha.
"Gak tahu, Pak Juna juga gak bilang." jawab si karyawan senior.
"Oh... Iya makasih yah, Pak." balas Sitha.
Karyawan senior itu pun berlalu dari hadapan Sitha.
Mau ngapain Juna nyuruh gue keruang kerja-nya? Apa dia mau pamerin tunangannya sama gue? gumam Sitha bertanya-tanya dalam hati.
Sitha menghela nafasnya kasar. Kalau bukan karena dia orang yang menjunjung tinggi profesionalisme, Sitha ogah menemui Juna di ruang kerja-nya.
Mau tak mau, suka tak suka, Sitha pun berjalan menuju ruang kerja Juna.
🍁 🍁 🍁
Bersambung...
__ADS_1