
🍁 Happy Reading 🍁
Ruang penanganan.
Sudah satu jam Juna menunggui Kila disamping ranjang tapi Kila belum juga bangun.
"Eugh..." Kila melenguh.
Mendengar Kila melenguh, cepat-cepat Juna beranjak dari duduknya dan memanggil perawat.
Tak lama perawat pun datang bersama dokter yang menangani Kila ke ruang penanganan dan memeriksa kondisi Kila. Juna hanya melihat dari depan ranjang saat Kila sedang di periksa.
"Gimana keadaannya dok?" tanya Juna setelah dokter memeriksa Kila.
"Sudah membaik dan pendarahannya juga sudah berhenti. Saudari Shakila sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat." jawab dokter.
"Terimakasih dok." balas Juna.
"Sama-sama Pak." balas dokter itu lalu keluar dari ruang rawat.
Setelah dokter keluar, perawat pun menghampiri Juna.
"Mau di rawat di kamar kelas berapa Pak keluarganya?" tanya perawat itu.
"Di kamar VIP aja sus." jawab Juna.
"Baik Pak. Kami siapkan dulu kamarnya." balas perawat, setelah itu perawat itu pun keluar dari ruang penanganan.
Sekarang di ruangan itu tinggal Juna dan Kila. Juna pun berjalan mendekati ranjang Kila. Begitu Juna mendekati ranjangnya, Kila langsung mengalihkan pandangannya dari Juna.
"Hiks... Hiks..." terdengar Kila yang sedang menangis.
"Kila..."
"Kamu udah tau kan Jun?" tanya Kila sambil terisak.
__ADS_1
Juna menghela nafasnya kasar lalu duduk di kursi yang ada disebelah ranjang.
"Kenapa kamu gak pernah bilang sama aku?" tanya Juna.
"Aku juga baru tau kemaren Jun. Kemaren saat aku ingin memeriksa kesuburan ku, ternyata aku mendapatkan kalau rahim ku tidak sehat dan... dan... dan harus segera diangkat." jawab Kila. Tangisnya semakin keras.
"Kenapa kamu gak langsung bilang sama aku, Kila? Dan malah mengajak bercinta? Kamu tahu itu sangat bahaya kan? Dan sekarang kamu terbaring disini."
"Aku takut kamu ninggalin aku Jun kalau kamu tahu rahim aku akan diangkat. Aku gak mau kehilangan kamu, Jun." balas Kila.
Juna terdiam sambil memijat pangkal hidungnya.
"Aku mau berusaha mengandung anak kamu dulu Jun, tapi ternyata aku memang gak bisa mengandung anak kamu." kata Kila lagi.
"Jun... kamu gak akan ninggalin aku kan sekalipun rahim aku diangkat?" tanya Kila sambil memegang tangan Juna.
Juna pun menoleh kearah Kila dan menatap mata Kila, melihat mata Kila, mana mungkin Juna tega meninggalkan Kila dalam keadaan sakit seperti ini. Tapi orangtua Juna? Juna tidak yakin kalau orangtuanya bisa menerima keadaan Kila.
"Masalahnya gimana kalau orangtua aku tahu, pasti mereka gak akan terima. Kamu kan tahu mereka mengharapkan cucu dari aku." ucap Juna.
Juna menundukkan kepalanya sebentar lalu mengangkat kepalanya lagi dan kembali menatap Kila.
"Mm... aku gak akan bilang sama orangtua aku dan gak akan ninggalin kamu." ucap Juna. Juna sudah benar-benar pasrah dengan skenario hidupnya, sekarang Juna hanya menyerahkan skenario hidupnya sepenuhnya pada takdir.
Karena sekalipun orangtua Juna tau kondisi Kila, pasti mereka juga tidak akan tega menyuruh Juna untuk meninggalkan Kila dalam keadaan sakit seperti sekarang ini.
"Makasih Jun, makasih." balas Kila sambil mengecupi punggung tangan Juna.
🍁 🍁 🍁
Kantor Cabang Gardana Group.
Meninggalkan Kila dan Juna yang ada di rumah sakit.
Hari ini Sitha sudah memantapkan hati untuk resign dari Gardana Group sekalipun Neva belum memberikan kabar. Surat pengunduran diri pun sudah selesai Sitha buat dan tinggal menunggu jam istirahat baru Sitha akan menghadap ke bagian personalia untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya hari ini juga karena Sitha sudah membeli tiket pesawat ke Kalimantan dan besok pagi adalah jadwal penerbangan Sitha.
__ADS_1
Jam istirahat pun tiba.
Sitha langsung beranjak dari meja kerjanya dan cepat-cepat berjalan menuju ruangan manajer personalia sebelum manajer personalia keluar makan siang.
Untungnya saat Sitha sampai di ruangan manajer personalia, manajer itu masih ada di ruangannya.
"Selamat siang Pak." sapa Sitha.
"Iya siang. Ada perlu apa?" balas Pak Irwan.
"Begini Pak, saya mau menyerahkan surat pengunduran diri saya." jawab Sitha sambil menyerahkan surat pengunduran dirinya yang sudah ia masukkan kedalam amplop putih.
Pak Irwan pun mengambil amplop itu dari tangan Sitha lalu membuka amplop itu kemudian membaca isi surat pengunduran diri Sitha. Di dalam surat pengunduran diri Sitha tertulis alasan Sitha ingin mengundurkan diri karena ingin menikah dan mengikuti suami ke Kalimantan.
"Jadi kamu mau menikah?" tanya Pak Irwan.
"Iya Pak." jawab Sitha.
"Kapan?" tanya Pak Irwan.
"Sekitar dua Minggu lagi." jawab Sitha berbohong.
"Gak mau nunggu sampe hari H aja baru mengundurkan diri?" Pak Irwan mencoba bernegosiasi dengan Sitha.
"Maaf Pak, acara pernikahan saya akan di langsungkan di tempat tinggal calon suami saya, di Kalimantan, makanya saya mau mengundurkan diri dari sekarang biar bisa fokus mempersiapkan pernikahan saya." jawab Sitha.
Pak Irwan hanya bisa menghela nafasnya kasar.
"Ya sudah kalau begitu. Saya akan proses surat pengunduran diri kamu, nanti setelah jam istirahat selesai saya akan panggil kamu untuk mengurus administrasi kamu." ucap Pak Irwan.
"Terimakasih Pak. Kalau begitu, saya bisa permisi dulu." pamit Sitha.
Sitha pun keluar dari ruang kerja Pak Irwan.
🍁 🍁 🍁
__ADS_1
Bersambung...