I Love You Kakak

I Love You Kakak
Dari Rahasia Yang Terkuak


__ADS_3

Perhatian Kale teralih saat suara ketukan berbunyi. Brill, orang kepercayaannya masuk tak lama kemudian.


Brill menganggukkan kepala sebagai rasa hormat. Ditangannya terdapat selembar kertas.


"Berita apa yang kau bawa, Brill?"


"Tuan Samuel menghubungi saya, Tuan. Beliau menyampaikan jika Tuan Besar ingin Anda datang ke rumah sakit, sore nanti."


"Seberapa parah, sampai Ayah menyuruhku datang?"


"Lebih parah dari tahun lalu. Serangan jantung yang dialami Tuan Besar kemungkinan karena berita mengenai Nona Netra, Tuan. Sejak pernikahan Tuan Besar dan Nyonya Fathia, identitas Nona Netra berubah menjadi anak kandung." Brill mengambil jeda sejenak. Ia penasaran dengan reaksi tuan mudanya.


"Kenapa diam dan melihatku seperti itu?" Kale menatap Brill seolah mempertanyakan rasa ingin tahu macam apa yang ada di wajahnya. Ia yakin Brill bisa mengingat secara gamblang bagaimana tuan besarnya begitu menyayangi anak tirinya itu, yang sekarang bahkan berubah identitas menjadi anak kandung.


Sangat sempurna berperan menjadi ayah baru, yang bahkan tak berbuat apa pun saat Kale memutuskan tinggal bersama kakek nenek dari pihak ibunya.


Kale memang masih kecil saat itu. Usianya baru 8 tahun. Ia menyayangi ayahnya juga bayi kecil itu. Tapi ada rasa tak suka ketika sang ayah tampak lebih menyayangi bayi itu dari pada dirinya. Kale merasa diabaikan, apalagi kebersamaan dengan ayahnya juga baru saja dimulai.


Setelah perceraian kedua orangtuanya, Kale ikut sang ibu menetap di Singapura. Setahun setelahnya, sang ayah baru menjemput. Dalam perjalanan pulang itulah sang ayah bertemu dengan Fathia, istrinya yang sekarang.


Kale bahkan masih ingat wajah mungil di gendongan wanita itu. Bayi perempuan 3 bulan yang nampak lucu, menggerakkan bibir seolah sedang menyusu, padahal dia tertidur. Bayi itu tak terganggu sama sekali, bahkan ketika ibunya menangis.


"Nyonya, kau tidak apa-apa? Kenapa dari tadi kulihat Anda menangis?" Itu kalimat pertama yang diucapkan ayahnya. Kale masih ingat. Sangat jelas, bahkan hingga kini.


"Saya tidak akan meneruskannya jika Anda tidak nyaman Tuan."


"Kenapa aku harus tidak nyaman?" Brill tahu betul bagaimana tuan mudanya itu. Meski bukan type orang yang suka menarik omongan, tapi segala berita tentang Nona Netra adalah hal pertama yang dia hindari.


"Maaf, Tuan."


"Lanjutkan!" Brill mengangguk. Tangannya bergerak menyerahkan kertas yang dia pegang kepada Kale.


"Saat umur tujuh belas tahun, Nona Netra memutuskan untuk hidup mandiri. Diam-diam dia mencaritahu tentang kost dari teman-temannya. Tuan Besar yang tahu akan hal itu akhirnya membelikan apartement untuk Nona Netra yang ditempatinya hingga kini.


Lulus kuliah Nona bergabung di Surya Gemilang. Perusahaan yang bergerak di bidang pangan. Posisinya hanya HRD, beliau menolak saat Tuan Besar menawarinya gabung di Ciptamurian Grup. Dengan alasan ingin mandiri, Nona juga meminta untuk tidak menggunakan nama Murian di belakang namanya.


Selama bekerja di Surya Gemilang, Nona hanya terlihat dekat dengan dua pria. Yang pertama teman semasa kuliah, yang ke dua, pria bernama Asoka. Hubungan mereka terjalin selama dua tahun. Di tahun yang ke 3 ini rencananya mereka akan melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, namun ada suatu kebetulan yang memang membuat mereka harus berpisah."


"Apa itu?" Kale merespon cepat. Brill tersenyum melihatnya. Benci dan penasaran, dua rasa itu yang kini diyakini Brill sedang menjerat Kale.


"Mereka berpisah karena hubungan darah. Mereka kakak adik. Lelaki bernama Asoka itu ternyata anak dari Eric Laksama dan istri pertamanya. Sementara Nona Netra adalah anak kandung Eric Laksama dengan Nyonya Fathia sebagai istri kedua, yang menikah di bawah tangan."


"Apa? Eric Laksama? Pemilik perusahaan yang kemarin bersaing tender dengan milik kita?"


"Benar, Tuan."


"Lalu?"


"Hubungan darah itu terkuak, saat kedua keluarga bertemu untuk makan malam. Nyonya tentu saja mengenali mantan suaminya meski bertahun-tahun pisah. Nyonya menentang hubungan mereka dan tak ada pilihan lain selain mengungkap kebenaran. Seperti halnya Nona, pria bernama Asoka itu juga menyembunyikan identitas aslinya.


Asoka hanya dikenal sebagai asisten manager di anak perusahaan Purna Laksama Grup. Dari pertemuan itu tentu saja hubungan Nona Netra dan Asoka tidak dapat dilanjutkan. Yang lebih mengejutkan, Eric ternyata menyambut baik tentang Nona Netra yang ternyata adalah anak kandungnya. Ia meminta Nona Netra untuk tinggal bersamanya, dan akan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hukum untuk mengembalikan nama belakang Nona Netra sebagai anggota keluarga Laksama.


Semula Tuan Besar tidak mengizinkan apa pun tentang Nona Netra dikulik. Tapi Tuan Besar kecolongan dengan tingkah seorang wanita bernama Anne yang diam-diam mencocokkan DNA Tuan Asoka dan Nona Netra hingga keluar dengan hasil akurat. Nona Anne adalah orang yang sudah lama menaruh hati pada Tuan Asoka. Bahkan setelah kejadian ini, Nona Anne dikabarkan mengandung anak Tuan Asoka."


"Mereka menikah?"


"Belum, Tuan."


"Menjijikkan. Bagaimana mungkin anak Ayah bisa menjalin hubungan dengan lelaki seperti dia. Lalu, karena itu Ayah jadi sakit?"


"Itu salah satu sebabnya, Tuan."


"Menyusahkan saja. Lalu kenapa Ayah sampai mengutus Tuan Samuel kemari?"


"Tuan Samuel hanya meminta saya untuk memastikan kedatangan Anda."


"Aku tidak akan datang. Kau tidak lupa tugasmu, kan, Brill?"


"Tugas saya melayani Anda, Tuan."

__ADS_1


"Siapkan materi untuk rapat besok. Pastikan tidak ada jadwal yang keluar dari agenda, apalagi untuk hal yang tidak berguna."


"Siap Tuan."


"Satu lagi, beri yang terbaik untuk perawatan Ayah. Kau sudah masukkan dokter yang khusus menangani Ayah di rumah sakit itu, tanpa Tuan Samuel dan dokter Rahid tahu?"


"Sudah Tuan."


"Bagus, kau boleh pergi."


* * *


Lift berdeting. Kale berjalan ditemani Brill dan sekretaris perempuannya. Sore ini ada acara amal untuk korban bencana yang harus Kale hadiri. Kebetulan, salah satu anak perusahaannya ada yang bergerak di bidang kesehatan. Dan Kale diundang untuk membuka acara amal tersebut.


Baru saja keluar dari lift, gawai Kale yang berada di tangan Briil berbunyi.


"Ya, hallo." jawab Kale setelah menerima gawai dari Briil.


"Hallo, Kale, kau sudah bertemu dengan Samuel?"


"Brill yang bertemu dengannya. Aku sibuk, Ayah."


"Kalau begitu kali ini kamu harus bertemu dengan Samuel."


"Aku tak bisa, Ayah."


"Jangan tolak Ayah, Kale. Ayah mohon sekali ini saja. Ayah tak butuh dokter khususmu. Ayah hanya ingin bertemu denganmu. Cukup sepuluh menit saja. Anggap saja sekarang Ayah berlutut di kakimu." Suara lemah dari seberang hanya membuat Kale mendengkus. Dari jarak lebih kurang dari sepuluh meter, Kale melihat Samuel menganggukkan kepala, memberi hormat. Tangan lelaki berjas itu terulur membuka pintu mobil seolah berkata dengan bahasa isyrat, "silakan masuk, Tuan!"


"Kau mungkin salah kirim orang, Brill. Yang datang menangani Ayah itu bukan dokter khusus, ingat, dia bukan dokter khusus, tapi dukun." Kale berdecak sambil memberikan gawainya pada Brill. Brill menerbitkan senyum tipis, dia sudah menerka jika kali ini Tuan Mudanya akan kalah. Seorang Adi Dharma tidak mungkin membiarkan Tuan Samuel pulang tugas membawa kegagalan.


* * *


Netra memandang tangan Anne dengan ndongkol. Kecil, tapi banyak menarik perhatian pengunjung kantin saat Anne memukulkannya ke meja. Cukup keras, hingga minuman dingin yang ada di sana sedikit tumpah.


"Jaga sikapmu, jangan seperti wanita nelangsa, ini bukan lapangan."


"Sialan!" Netra mendesah. Mengacuhkan minuman yang niatnya mau ia sesap barang sedikit.


Sebetulnya Netra malas bertemu lagi dengan Anne. Bahkan jauh hari ia sudah mewanti stafnya untuk tidak mengizinkan wanita berambut pirang itu masuk ke ruangannya apa pun yang terjadi.


Tapi yang bernama Anne itu memang tidak mudah menyerah. Ia membuat geger dengan memukulkan sepatu hak tinggi ke kening staf Netra hingga keduanya berteriak.


Satpam yang datang pun bingung harus mengatasi yang mana. Satu sisi, Dinar, staf Netra, keningnya berdarah tak henti-henti. Tapi di sisi lain, Anne dengan perut buncitnya juga sangsi bila harus diseret paksa. Hingga mau tak mau, seorang lelaki muda itu tergopoh memanggil Netra di ruangan.


"Aku itu bingung dengan maumu sebenarnya. Kamu berulang kali menginginkan aku berpisah dengan Kak Soka, hingga bekerja keras dalam mengungkapkan kebenaran kalau kami saudara kandung. Kamu juga melarang kami untuk bertemu, baru bulan lalu 'kan? Bahkan kesombongan kamu itu lho, masih tersisa di meja ini. Lalu mengapa sekarang berubah? Apa surat tes DNA itu berubah angka kecocokannya hingga kamu meminta aku menemui Kak Soka? Ini dunia nyata, Anne, bukan facebook tempat manusia halu merakit cerita sepertimu."


"Terserah, sebetulnya aku pun malas menemuimu. Tapi karena memikirkan nasib janin ini, mau tak mau aku harus menemuimu. Mereka kembar, jika kamu ingin tahu. Jadi mana mungkin aku membiarkan si kembar ini lahir tanpa ayah."


"Apa maksudmu?"


"Asoka sakit. Dia menolak makan bahkan mengurung diri di kamar."


"Kenapa dia jadi kekanakan seperti itu." gumam Netra yang masih terdengar oleh Anne.


"Kamu yang bahkan membuatnya seperti itu!"


"Kamu tidak salah, Anne? Kalaupun iya, lantas kenapa kamu masih menemuiku? Aneh! Aku rasa, tidak ada gunanya pembicaraan kita kali ini." Netra membereskan tasnya, bersiap pergi hingga sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Netra, aku mohon, temui Soka untuk kali ini. Bujuklah dia, jangan sampai dia menyakiti dirinya lebih dalam lagi. Malam tadi dia mencoba bunuh diri untuk yang kedua kalinya."


Kalimat Anne seperti membawa obat bius untuk Netra. Kaki wanita itu lemas. Dia bahkan mencengkeram sudut meja dengan lebih kuat untuk bisa bertahan.


"Sebenarnya enggan aku mengatakan ini. Tapi dalam tidurnya, Asoka selalu menyebut namamu. Dokter memintaku untuk menemuimu. Aku benci Netra. Aku benci padamu, tapi demi anak-anak dalam kandunganku, aku tak akan menyerah. Sepahit apa pun itu, akan aku telan."


"Aku sudah berjanji pada Ayah untuk tidak lagi berhubungan dengan Kak Asoka dan keluarga Laksama." Mata Netra terpejam saat mengatakan kalimat itu. Bagaimanapun menghindar, kenyataan tentang dia dan Asoka adalah saudara sangat menyakitkan. Ia bahkan mengutuk rasa yang tumbuh. Bagaimana cinta itu subur sehingga membawanya pada hubungan yang entah, Netra tak sampai hati menyebut istilahnya.


"Dalam perjalanan kemari aku bahkan sudah berjanji untuk tidak pulang sebelum apa yang kuinginkan tercapai. Apa kamu butuh aku berlutut, Netra? Akan kulalukan asalkan tak melihat Asoka mati dengan mencoba bunuh diri lagi."


"Diam Anne!" Kini gebrakan meja kembali terdengar dari tangan Netra.

__ADS_1


"Kapan kamu akan menemui Asoka?"


"Kasih saja alamatnya. Aku akan menemuinya. Tapi tidak sekarang. Jadi kamu pergilah."


"Aku tidak akan pergi jika tidak denganmu."


"Dasar keras kepala."


"Kita sama, Netra."


* * *


"Aku sudah lebih dari delapan menit di sini, Tuan Samuel. Dan selama itu Ayah bahkan tak bicara sepatah kata pun padaku. Kalau Ayah hanya ingin memastikan aku sehat. Ya, aku tentu saja sehat, dan kuharap Ayah juga secepatnya bisa pulih. Minggu depan bahkan Ayah merayakan ulang tahun kan? Semoga Tuhan mengabulkan apa yang Ayah cita-citakan. Aku permisi." Suara kale terdengar pelan namun penuh penekanan.


"Tunggu, Kaleon!" Ayahnya bersuara lemah. Kale menghentikan langkahnya lalu berbalik.


Lelaki dengan rambut yang hampir semuanya memutih itu membuka mata pelan.


"Apa kamu akan memberiku hadiah ulang tahun, untuk minggu depan, Kaleon?"


"Apa yang Ayah butuh dariku? Brill bisa membantu mewujudkannya."


"Brill tidak bisa mewujudkan untuk yang satu ini. Kale! Ayah hanya ingin kamu, Ayah ingin kamu cepat menikah."


"Untuk sekarang aku belum berpikir untuk menikah, Ayah. Aku belum bisa." Kale bicara pelan sambil mendekati ayahnya yang kini berusaha untuk mengubah posisi berbaringnya.


Samuel bergerak tanggap. Ia ingin membantu mempermudah gerak majikannya itu, namun dengan sigap Kale mencegahnya. Ia terlebih dulu bergerak membantu. Membenarkan bantal juga selimut ayahnya.


"Kamu harus menikah Kale, Ayah ingin kamu menikah dengan Netra."


"Apa? Menikahi Net-tra?"


"Ayah, aku datang ...!" Seorang gadis dengan potongan rambut shaggy lob tetiba masuk ke ruangan. Meletakkan sup dan bubur buatannya di atas nakas. Lalu bergerak mencium tangan dan pipi sang ayah.


"Maaf Ayah, Netra baru datang. Ada urusan setelah jam kantor. Lalu pulang dulu untuk buat bubur. Astaga, Netra hampir lupa, dengan bubur yang Ayah minta. Maaf ya, ini bubur tersingkat yang pernah Netra buat, eits, tapi tetap enak pastinya. Siapa dulu dong Ayahnya!" Mata Netra berseri-seri. Ia segera membuka tempat bubur di hadapannya.


"Haduh, sendoknya lupa. Ah, maaf, bisa minta tolong panggilkan suster untuk mengantar sendok?" Netra menatap Kale, memintanya seperti dia biasa meminta tolong pada pengawal ayahnya.


"Nona, biar saya saja yang mengambilkan sendok." sela Tuan Samuel. Netra mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Kale diam di tempat. Hanya matanya saja yang sesekali berkedip menyaksikan gerak gerik gadis di hadapannya.


Gadis yang dulu tak pernah luput dari perhatiannya saat masih bayi. Dari gaya tidurnya yang lucu, hingga gerak mulut mungilnya yang selalu membuat penasaran. Gadis yang juga perlahan mengambil alih dunia ayahnya hingga lupa cara membagi kasih sayang.


Kale menarik napas panjang, lalu membuangnya pelan. Brill yang menyaksikan itu hanya mengalihkan pandangan ke arah jendela. Ia tahu, Kale berada pada posisi tidak nyaman.


* * *


"Bagaimana, enak, kan?" Ayahnya mengangguk. Mulutnya dipenuhi dengan suapan bubur dari Netra.


"Ayah harus cepat sembuh." Netra mengelap pelan sisa-sisa makanan yang menempel di sekitar mulut ayahnya.


"Pasti, Ayah pasti sembuh. Asalkan kamu nurut sama Ayah, ya? Ayah tidak ingin kehilangan Netra."


"Netra tetap di sini, Ayah. Tidak ke mana-mana. Ayah tidak akan kehilangan Netra."


"Kalau bagitu, kamu mau, kan, menikah dengan Kaleon?" ucap Ayah Netra terbata.


"Apa? Menikah dengan, Ka, ka, Kaleon? Kaleon, maksudnya Kak Kaleon anak Ayah?"


"Iya. Dia ada di sini." tunjuknya dengan isyarat gerak mata.


Netra mengikuti arah pandang ayahnya. Beberapa detik pandangan keduanya sempat bertemu. Netra tak menyangka orang yang dia kira salah satu pengawal ayahnya ternyata adalah Kaleon. Sosok yang penggambarannya hanya ia dengar dari cerita sang ayah.


Netra buru-buru meletakkan tisue yang masih ada di genggammannya, bergerak ingin memberi salam, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Kale.


"Sudah cukup, Brill. Sepuluh menit terpenting sudah lewat. Lebih dari itu bukan hal penting untuk didengar. Kita pulang sekarang."


"Baik Tuan."


Kale berjalan diikuti Brill di belakangnya. Brill sempat berbalik badan dan menganggukkan kepala tanda undur diri sebelum mencapai pintu.

__ADS_1


__ADS_2