
Tiga bulan kemudian. Di kamar rawat Dewa. Yola sedang mengganti bunga hidup yang berada di samping ranjang Dewa. Bunga itu akan ia ganti setiap harinya supaya Dewa bisa mencium aroma segar setiap saat.
Selesai mengganti bunga, Yola langsung duduk di samping Dewa. Memegang tangan, lalu mencium tangan itu dengan penuh kasih sayang.
"Kak ... udah tiga bulan kak Dewa mengabaikan aku dengan diam seperti ini. Apa kak Dewa gak bisa maafin aku sampai sekarang, kak? Aku tahu aku salah, tapi jangan seperti juga dong kak."
"Bangun, kak! Katakan padaku kalau kamu marah. Kamu bisa memarahi aku sepuas hatimu. Tapi jangan diam seperti ini. Aku merasa sangat tersiksa dengan diam mu ini, kak Dewa."
Yola menangis lagi sambil memeluk tangan Dewa. Air mata yang ia jatuhkan, mengenai tangan Dewa. Seperti hari-hari yang telah lalu. Ia juga melakukan hal yang sama seperti saat ini. Menangis, bicara dengan Dewa walau ia tahu, tahu itu tidak akan ada hasilnya.
"Aku rindu suara kamu memanggil namaku, kak. Aku rindu tatapan dan senyuman yang selalu kamu siapkan untukku. Aku rindu kamu, kak Dewa."
Perlahan tapi pasti, tangan yang Yola peluk itu bergerak. Awalnya, Yola tak percaya dengan gerakan itu. Namun, setelah ia memastikan lagi, ternyata, Dewa benar-benar menggerakkan tangannya. Bukan hanya itu, Dewa juga perlahan membuka mata.
"Kak ... kak Dewa."
"Kak ... kamu ... kamu bangun?"
"Yo ... Yolan." Terdengar suara berat namun jelas dari mulut Dewa.
Hal itu membuat Yola sangat amat bahagia. Ia ingin segera meninggalkan Dewa untuk memanggil dokter dan memberi tahukan pada papa dan mamanya, kalau Dewa sudah siuman sekarang.
Tapi, tangannya di tahan Dewa dengan cepat. Dewa terlihat tidak ingin Yola meninggalkannya lagi sekarang.
"Jangan pergi lagi, Yolan? Kamu ... kamu adalah hidupku," ucap Dewa pelan tapi pasti.
"Kak Dewa tenang aja. Aku gak akan pergi dari kak Dewa. Aku cuma ingin memanggil dokter untuk memeriksa keadaan kak Dewa. Gak akan lama, karena aku hanya memanggil mereka dari depan pintu saja."
Mendengar ucapan itu, Dewa perlahan melepaskan genggaman tangannya. Ia membiarkan Yola pergi meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Dokter Leo akhirnya datang karena kabar dari suster. Ia langsung memeriksa Dewa dengan cekatan tanpa memikirkan apa yang pernah mereka lalui sebelumnya.
"Ini sungguh luar biasa, Yola. Dia bangun sangat cepat ternyata. Meleset jauh dari apa yang aku perkirakan sebelumnya."
"Aku harus bangun cepat agar kamu tidak bisa menggambil untung dari apa yang aku alami.
Aku tidak rela jika istriku kamu dekati saat aku tidak bisa menjaganya."
"Oh Tuhan ... apakah pikiranmu tidak bisa berpikir yang baik-baik tentang aku. Untung aku masih memikirkan Yola. Jika tidak, aku pasti sudah menelantarkan kamu dari sejak kamu kecelakaan. Biar kamu tahu rasa bagaimana diabaikan."
"Kak Leo, apa-apaan sih? Kamu gak boleh ajak kak Dewa berdebat. Dia masih sakit tahu. Gak boleh emosi," kata Yola segera memarahi Leo.
"Lah, kok aku yang di salahkan sih? Bukannya yang mulai duluan dia. Suami kamu itu .... "
"Kamu ya .... "
"Kak Dewa udah. Abaikan saja apa yang dokter Leo katakan, ya. Ada aku di sini. Aku akan jagain kak Dewa."
"Alah ... palingan bohong lagi."
"Kak Leo ... jangan ikut campur.
"Aduh ... baiklah. Aku tidak akan ikut campur. Kalian bisa berduaan saja di sini. Aku akan pergi sekarang. Tidak ada guna juga aku di sini. Pasti akan dijadikan obat nyamuk yang tidak berguna. Diabaikan begitu saja."
Leo akhirnya beranjak pergi. Yola hanya tersenyum, sedangkan Dewa malah cemberut.
"Jangan tersenyum lagi. Aku tidak suka dengan senyuman yang kamu berikan untuk laki-laki lain. Rasanya ... sungguh sakit, Yolan."
"Kak Dewa ngomong apa sih? Udah ah. Jangan mikir yang enggak-enggak. Kak Dewa ingat, kakak masih sakit. Masih butuh istirahat yang banyak juga ketenangan yang banyak. Lupa agak yang kak Leo katakan barusan? Kalau kakak gak boleh emosi. Apalagi terlalu emosi."
__ADS_1
"Yolan sayang. Tolong jangan panggil orang lain dengan sebutan kakak. Karena aku sungguh sangat sakit mendengarnya. Kamu hanya boleh memanggil aku dengan sebutan itu. Karena kata itu sangat spesial bagi aku."
"Kak Dewa .... "
"Aku memang terdengar sangat egois bukan? Tapi, selama kita hidup bersama, orang paling spesial itu cuma kamu dalam hidupku."
"Tunggu! Sepertinya, aku lupa satu hal. Yolan, aku minta maaf untuk kesalahan yang telah aku buat. Aku .... "
"Sstt ... jangan bicara soal itu lagi, kak Dewa. Aku sudah memaafkan kakak. Juga ... aku sudah tahu semuanya tentang kehidupan kakak sebelumnya."
"Apa maksud kamu? Apa yang kamu tahu .... "
Saat itu, tiba-tiba Kania dan Brian datang. Perhatian mereka segera teralihkan dengan kedatangan Brian dan Kania ke kamar tersebut.
"Dewa ... Oh, syukurlah. Akhirnya kamu sadar juga, Nak. Mama kangen banget sama canda tawaku anak mama," ucap Kania sambil merangkul tubuh Dewa yang masih terpasang beberapa alat medis.
"Sayang, tolong jangan lakukan itu. Kasihan Dewa. Dia baru saja bangun dari koma, masa sudah kamu rangkul seperti itu." Brian mencoba mengingatkan.
"Oh iya, ya. Maafkan mama, Dewa. Sangking bahagianya, mama lupa kalau kamu masih belum sembuh total."
"Gak papa, Ma. Aku gak papa. Aku udah sembuh, kok. Udah baik-baik saja."
"Kamu merasa baik-baik saja sekarang, Dewa? Tapi itu bukan berarti kamu sudah pulih seperti sebelumnya, bukan? Kamu masih perlu banyak istirahat juga pengobatan. Karena kecelakaan yang kamu alami, bisa dikatakan, sangat parah."
"Aku tahu, Pa. Terima kasih banyak sudah mengkhawatirkan aku. Terima kasih juga, untuk kalian yang sudah merawat aku dengan susah payah. Maaf, aku selalu merepotkan kalian semua sebagai anak .... "
"Sayang, kamu anak mama. Wajar jika mama merawat, khawatir, dan selalu mencemaskan kamu. Jangan coba ngomong yang tidak-tidak, ya."
"Terima kasih banyak, Ma. Aku tidak tahu harus bilang apa selain kata terima kasih buat mama, papa, dan ... terutama, kamu Yolan. Terima kasih masih ada di sini setelah semua yang aku lakukan padamu sebelumnya."
__ADS_1
"Kak Dewa ngomong apa sih? Kenapa harus bilang makasih padaku. Harusnya, aku yang bilang maaf pada kak Dewa. Aku udah mengabaikan kak Dewa, tidak mau mendengarkan penjelasan dari kakak yang jelas-jelas itu semua hanya fitnah."