I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 16


__ADS_3

Benar saja apa yang ia cemaskan itu akhirnya terjadi juga. Belum sempat ia menyelesaikan niatnya di kamar mandi, ia sudah dikagetkan dengan teriakan Yola yang menjerit memanggil namanya. Secepat mungkin bu Erni keluar dari kamar mandi untuk melihat apa yang telah terjadi dengan nona kecil kesayangannya.


Betapa kagetnya dia ketika melihat Yola yang sedang menangis sambil memegang tangannya yang sudah terlihat memerah.


"Nona kecil! Apa yang terjadi?" tanya Bu Erni dengan nada cemas sambil berjalan cepat.


"Bu ... aduh, tanganku sakit." Yola bicara sambil menahan rasa perih di tangannya.


"Ya Tuhan ... kenapa bisa seperti ini, nona kecil. Aduh, matilah aku kalau nona kecil kenapa-napa."


"Santi! Santi!"


Seorang perempuan muda berjalan tergopoh-gopoh dengan langkah besar datang menghampiri dapur. "Ya bu Er, apa ada?"


"Ya Tuhan ... ada apa dengan nona?" tanya perempuan itu ikut cemas.


"Jangan banyak tanya, Santi. Sekarang, cepat kabarkan tuan muda kalau nona kecil terluka. Tangannya tersiram minyak panas. Aku akan bawakan nona kecil ke rumah sakit terdekat untuk segera diobati."


"Baik, bu Erni. Saya akan kabarkan tuan muda sekarang juga."


"Iya, Santi. Cepat lakukan!"


"Baik, Bu." Santi berjalan cepat meninggalkan dapur.


"Nona kecil, ayo kita berangkat sekarang."


Yola tidak menjawab. Rasa perih dan panas yang semakin lama semakin terasa kuat itu membuat dia tidak bisa berpikir banyak selain mengikuti apa yang bu Erni katakan. Merekapun beranjak meninggalkan dapur untuk pergi ke rumah sakit.


Untungnya, bu Erni perempuan yang serba bisa. Ia dengan sigap mengemudikan mobil menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Gesit dan lincah, itulah gambaran untuk bu Erni saat ia menyalip mobil-mobil yang ada di hadapan mereka agar dia bisa segera sampai ke rumah sakit.

__ADS_1


Akhirnya, mobil sampai di depan rumah sakit dengan durasi waktu yang kurang dari tiga puluh menit. Dengan cepat, Bu Erni membuka pintu mobil dan membantu Yola berjalan keluar.


"Tahan sebentar lagi, nona kecil. Tidak lama lagi, tangan nona kecil akan diobati."


"Perih, Bu. Perih dan panas sekali rasanya. Aku tidak tahan lagi." Yola berucap sambil menahan air matanya.


Anak manja. Wajar saja jika terluka tidak bisa menahan sakit. Tapi sebenarnya, itu memang terasa sangat perih. Bagaimana tidak, punggung tangan Yola sekarang terlihat memerah semua. Entah bagaimana caranya sampai minyak goreng yang panas itu bisa mengenai punggung tangan Yola. Yola sendiri juga tidak tahu bagaimana kronologi kejadian awalnya. Yang dia ingat, saat ia menjatuhkan ikan untuk yang kedua kalinya, minyak panas itu langsung muncrat ke punggung tangannya begitu saja. Hasilnya, ya seperti sekarang. Tangan Yola menjadi merah bak udang rebus yang baru saja di angkat dari air perebusan nya.


Mereka berdua berjalan dengan langkah cepat agar Yola segera diobati. Dengan Bu Erni yang terus memang wajah cemas dan tak lupa matanya terus memperhatikan Yola yang sedang menahan sakit.


Mereka tidak menyadari kalau dihadapan mereka sedang ada seorang laki-laki yang terlihat sedang cemas juga. Laki-laki itu bukan hanya terlihat cemas, melainkan, panik. Ya, dia panik sampai berjalan cepat setengah berlari, dan tidak memperhatikan orang yang ada dihadapannya juga.


Akhirnya ....


Bruk ... laki-laki itu menabrak bahu Yola dengan keras.


"Nona!" Bu Erni kaget bukan kepalang. Ia ingin marah pada laki-laki yang baru saja menabrak nona kecilnya. Tapi sayang, laki-laki itu sudah berlari kencang tanpa berucap sepatah katapun pada mereka. Jangankan kata maaf. Menoleh saja laki-laki itu tidak sama sekali.


"Hei! Dasar kurang ajar kamu, ya. Sudah nabrak orang, main tinggal gitu aja. Gak lihat apa, nona kecil sedang sakit."


"Hei! Laki-laki gak tahu diri kamu!"


"Udah, Bu. Biarkan saja. Aku gak papa juga kok. Bahu ini tidak sakit sama sekali. Yang sakit itu tanganku, Bu." Yola berucap dengan nada sedih sambil mengangkat tangannya.


Saat itulah baru bu Erni ingat akan tujuan mereka yang sebenarnya. Merekapun langsung melanjutkan langkah meninggalkan tempat tersebut.


___


"Untung saja dokter bilang kalau tangan nona gak papa. Kalau tidak, ibu akan merasa sangat bersalah pada nyonya dan tuan karena lalai dalam menjaga nona," ucap bu Erni dengan perasaan lega ketika dokter meninggalkan kamar tersebut.

__ADS_1


Belum sempat Yola menjawab apa yang bu Erni katakan, perhatian mereka berdua tiba-tiba teralihkan dengan kedatangan seseorang yang tak lain adalah Dewa. Ia datang dengan wajah tak kalah paniknya dari bu Erni tadi.


"Yolan. Apa yang terjadi? Mana yang sakit? Apa yang terluka? Kenapa bisa terluka, hah?"


Dewa menghujani Yola dengan banyak pertanyaan. Wajah panik itu terlihat dengan sangat jelas.


"Kak Dewa. Aku baik-baik saja kok, kak."


"Baik-baik saja apanya, Yolan? Santi bilang kamu terluka. Jika kamu kenapa-napa, bagaimana aku menjelaskan pada mama soal terlukanya kamu itu, hm? Aku bisa mama salahkan jika kamu kenapa-napa."


"Mama tidak akan menyalahkan kakak jika aku terluka, kak. Karena aku terluka bukan karena kakak. Aku terluka karena ulahku sendiri."


"Aku tegaskan padamu, Yolan. Jangan banyak kerjaan dan jangan berulah. Mulai sekarang, jangan coba-coba kamu sentuh yang namanya dapur. Jika kamu tidak ingin aku lapor mama papa, dan minta mereka menutup dapur kediaman kita."


Yola tidak menjawab. Ia hanya bisa memasang wajah manyun tanda kesal dengan apa yang kakak angkatnya katakan barusan.


'Kenapa tidak katakan saja kalau kamu itu cemas pada kondisi aku, kak Dewa? Kenapa harus bawa mama papa saat hati ini berharap, itu adalah rasa cemas yang murni datang dari hatimu sendiri.' Yola berucap dalam hati sambil menahan rasa kesal yang membuat hatinya merasa dongkol.


Saat itu pula, seorang suster masuk ke dalam ruangan tersebut untuk memberikan resep obat yang dokter tadi tulis buat Yola. Suster tersebut tak lain adalah Hanas. Ia baru mulai bekerja hari ini, setelah beberapa hari dia diam di rumah menangisi apa yang telah terjadi.


Mata Hanas membulat ketika melihat Dewa yang sedang berada di dalam ruangan tersebut. "Kak ... kak Dewa." Hanas berucap pelan.


Yola mendengar nama Dewa disebut oleh suster tersebut, matanya tak bisa untuk tidak menatap sang suster dengan tatapan tajam. Berusaha berpikir dan menebak, siapakah suster tersebut sebenarnya.


Sementara itu, Dewa yang juga tak kalah kaget ketika melihat Hanas, bibirnya tak bisa tidak membalas panggilan Hanas barusan.


"Hanas!"


Yola merasa kepalanya bagai dipukul dengan benda keras, ketika Dewa menyebut nama Hanas sambil melihat ke arah suster yang sedang berdiri tegak di depan pintu ruangan tersebut. Di tambah, tatapan sayu penuh cinta itu Dewa perlihatkan sambil melihat suster tersebut.

__ADS_1


__ADS_2