
Yola masih tetap tidak berucap menanggapi apa yang Zaka katakan. Namun sebaliknya, ia malah bangun dari duduk, lalu berniat untuk beranjak meninggalkan tempatnya.
"Mau ke mana kamu, Yola?"
"Kak Zaka benar. Aku harus bicara baik-baik pada kak Dewa. Tentunya, aku harus bicara tanpa ego dan tanpa amarah."
"Pergilah! Semoga hubungan kalian kembali akur," ucap Zaka sambil tersenyum.
Yola membalas senyuman Zaka. Lalu kemudian, menganggukkan kepala dengan perasaan bahagia. Yola lalu bergegas meninggalkan halaman depan untuk mencari keberadaan Dewa.
Namun, belum sempat ia beranjak beberapa langkah meninggalkan Zaka yang masih diam di tempatnya, ponsel Zaka tiba-tiba berdering. Tidak ingin membuat si pemanggil menunggu lama, Zaka segera mengangkat panggilan tersebut sambil melihat Yola yang berjalan semakin menjauh.
"Halo, siapa ini?"
"Ini aku, Leo. Zaka." Terdengar suara yang tidak asing lagi bagi Zaka. Karena Zaka sering menghubungi dokter tersebut saat mamanya sedang sakit.
"Ya, dokter. Ada apa menghubungi aku? Tunggu! Apa mamaku ada masalah?" tanya Zaka dengan nada cemas.
"Oh, tidak. Bukan. Bukan soal mamamu aku menghubungi kamu. Tapi soal ... tunggu! Kamu sekarang berada di mana?"
"Aku di rumah kakek, Dok. Ada apa sih sebenarnya? Apa dokter ada masalah saat dalam perjalanan datang ke sini. Aku dengar, dokter juga diundang Yola, bukan?"
"Ya, aku adalah. Di mana Yola? Tolong berikan ponselmu padanya. Aku ingin bicara dengan dia. Aku sudah mencoba menghubungi dia beberapa kali, tapi dia tidak mengangkat panggilan dariku."
"Sepertinya masalah mendadak, dokter. Tapi ... Yola nya sedang tidak ada. Dia sedang sangat sibuk sekarang. Aku .... "
"Zaka. Aku ingin bicara soal penting. Ini soal kakak nya Yola yang sekarang berada di rumah sakit akibat kecelakaan."
__ADS_1
"Apa? Kakaknya Yola? Maksud dokter ... tu--tuan ... tuan muda Dewa?" Zaka bicara dengan suara gelagapan sangking kagetnya.
"Ya, tuan muda Dewa sedang berada di rumah sakit Palang Merah. Dia mengalami kecelakaan berat bersama ... katakan saja pada Yola kalau aku tunggu keluarga Aditama datang ke rumah sakit ini sekarang juga. Karena aku butuh persetujuan dari pihak keluarga untuk memindahkan pasien ke rumah sakit yang aku kuasai. Rumah sakit ini peralatannya kurang lengkap. Dan, aku tidak leluasa untuk melakukan tugasku di rumah sakit ini."
"Ba--baiklah. Akan aku katakan segera."
Zaka bergegas beranjak meninggalkan tempatnya. Ia berlari untuk mengejar Yola yang sedang berjalan di kejauhan tapi masih bisa ia lihat keberadaannya.
Sangking paniknya dia, ia lupa kalau di sekitanya masih ada keluarga Aditama yang lain selain Yola. Yang mudah ia jangkau dan ia kabari soal keadaan Dewa.
"Yola! Yola tunggu!"
"Ada apa, kak Zaka?"
"Itu ... aku punya kabar yang sangat mengejutkan buat kamu. Bukan. Buat keluarga Aditama tentunya."
"Kabar apa sih, kak? Ayo katakan dengan jelas! Jangan bikin aku penasaran."
"Apa!" Yola kaget bukan kepalang. Jantungnya terasa berhenti berdetak dan napasnya seperti tidak berhembus lagi. Tubuhnya seketika membeku akibat kata-kata yang Zaka ucapkan barusan.
"Ba--bagai ... bagaimana bisa? Kak Zaka jangan bercanda deh padaku. Aku .... "
Yola bicara sambil melihat wajah Zaka. Ia berusaha mencari celah untuk menemukan kebohongan dari wajah serius yang Zaka perlihatkan sekarang.
"Yola aku serius. Tidak bercanda sama sekali. Barusan dokter Leo menghubungi aku. Dia menunggu keluarga Aditama buat datang ke rumah sakit Palang Merah. Rumah sakit paling dekat dengan desa ini. Dia bilang .... "
"Tidak! Mama .... "
__ADS_1
Yola menjerit, memotong perkataan yang Zaka ucapkan dengan air mata mengalir deras. Lalu kemudian, berlari cepat meninggalkan Zaka menuju rumah.
Zaka yang tahu kalau sebentar lagi akan ada kehebohan di dalam rumah, segera mengekori Yola dari belakang. Benar saja apa yang ia pikirkan, bukan hanya teriakan histeris dari Kania, malahan, Kania juga jatuh pingsan selama beberapa saat.
Keluarga Aditama segera meninggalkan rumah tua itu dengan cepat. Karena tidak ada landasan untuk mendarat, mereka terpaksa menggunakan mobil untuk mencapai rumah sakit Palang Merah meski Kania tidak ingin melakukannya. Tapi, karena Dewa, ia terpaksa pergi dengan mobil.
"Mbak Ana, mas Jio. Maafkan aku ... aku tidak bisa menjaga anak kalian dengan, mbak, mas. Aku telah lalai .... "
Hanya ucapan itu yang terdengar sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Palang Merah tempat di mana Dewa berada. Kania tidak bisa berhenti menangis, karena rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya sekarang.
Hatinya begitu takut akan keselamatan Dewa. Ia tidak ingin Dewa mengalami hal yang sama dengan apa yang orang tua Dewa alami waktu itu. Jika kali ini Dewa juga celaka dengan cara yang sama, maka mungkin Kania tidak sanggup hidup lagi. Dia tidak kuat menahan rasa sedih dan rasa bersalah ini.
Sementara itu, Yola hanya bisa menangis sambil memeluk sang mama. Dia juga sedang dipenuhi rasa bersalah juga penyesalan.
'Tuhan ... kecelakaan ini terjadi karena salah aku. Andai saja aku bisa memaafkan kak Dewa, dan berbaikan dengan dia tadi. Semua ini pasti tidak akan terjadi, bukan? Dia pasti akan baik-baik saja sekarang. Dan ada bersamaku merayakan ulang tahun malam ini,' ucap Yola dalam hati sambil menyeka air matanya.
Benak Yola memutar kembali setiap kata yang Dewa ucapkan tadi sore. Semua senyum yang pernah ia berikan. Semua usaha yang telah ia lakukan untuk membuat hati Yola bahagia, sejak kecil hingga dewasa seperti sekarang.
Pikiran itu semakin membuat hati Yola merasa teriris. Kenapa dia begitu bodoh dengan tidak memaafkan Dewa atas kesalahan yang mungkin bukan murni kesalahan Dewa. Karena alasannya juga sudah jelas. Dewa dijebak oleh perempuan ******* itu. Tapi, hatinya malah terlalu egois dengan tidak memaafkan.
"Tuhan ... ini salahku .... " ucap Yola dengan suara lirih dan parau.
Akhirnya, mobil yang mereka kendarai sampai juga ke rumah sakit yang ingin mereka tuju. Semua yang ada di dalam mobil itu bergegas keluar, lalu berjalan cepat masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
Benar saja, Leo ada di sana. Dia sedang menantikan kedatangan keluarga Aditama sambil mengobrol dengan dokter yang bertugas di rumah sakit itu.
Saat melihat kedatangan keluarga Aditama, Leo segera menghampiri mereka. Belum sempat dia bicara, Kania sudah menghujani dia dengan banyak pertanyaan yang sulit untuk ia jawab semua pertanyaan itu dengan cepat.
__ADS_1
"Tenang semuanya. Aku minta kalian tenang sebenar, biar aku jelaskan bagaimana keadaan anak kalian."
Leo langsung menjelaskan keadaan Dewa saat ini. "Kondisi pasien sangat-sangat mengkhawatirkan. Dia kritis. Benturan keras di kepalanya membuat dia ... mungkin, jika pun dia bisa melewati masa kritis ini, dia akan koma dalam kurun waktu yang lama."