I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 41


__ADS_3

"Bimo! Kamu yang datang jemput aku? Papa mama mana? Apa papa mama benar-benar pulang ke sini?"


"Nona Yola. Syukurlah. Akhirnya, nona keluar juga."


"Tuan Brian dan nyonya Kania ada di vila, nona. Mereka menantikan kepulangan nona sekarang."


"Benarkah papa dan mama ada di vila, Bimo?" tanya Yola memastikan apa yang Bimo katakan dengan wajah dan nada bicara yang sangat bahagia.


"Tentu saja iya, nona. Mereka datang tadi sore."


"Lalu, kenapa malah kamu yang jemput aku? Kenapa bukan mama papa? Apa mereka tidak kangen padaku?"


"Nona salah. Mereka sangat kangen pada nona. Oh ya, aku hampir lupa mengatakan sesuatu. Nona Yola, ada seseorang yang sedang menanti nona di dalam mobil. Ia sudah menunggu nona sejak tadi."


"Se--seseorang? Si--siapa?" tanya Yola dengan wajah yang berubah murung. Ia juga mundur beberapa langkah dari hadapan Bimo.


"Ada apa, Nona? Apa ada yang salah dengan kata-kata yang aku ucapkan barusan?" tanya Bimo mendadak cemas.


"Tidak ... tidak ada yang salah. Katakan pada orang itu, aku tidak ingin bertemu dengannya. Katakan juga sama mama papa, aku gak akan pulang malam ini. Jika mereka kangen padaku, maka mereka akan datang sendiri untuk melihat keadaanku di sini."


Selesai berucap kata-kata itu, Yola langsung memutar tubuh untuk meninggalkan Bimo, tanpa menunggu Bimo menjelaskan terlebih dahulu siapa orang yang ia maksud. Karena dalam hati, Yola sudah bisa menebak siapa orang yang Bimo maksudkan sekarang.


"Tapi nona. Kasihan tuan besar yang sudah menunggu nona sejak tadi."


Mendengar kata tuan besar, langkah Yola terhenti. "Tuan besar?"


"Kamu gak dengar Yola bilang apa? Dia gak ingin pulang, paham!" Kakek membentak Bimo dengan nada tinggi.


"Maaf, tuan. Aku kasihan dengan tuan besar yang sepertinya sangat ingin bertemu dengan nona Yola. Dia sampai datang sendiri untuk menjemput nona malam ini."


"Bimo. Kamu bilang siapa barusan? Tuan besar? Opa?" tanya Yola yang kembali menghampiri Bimo dengan wajah bahagia.


"Iya, nona Yola. Tuan besar Davidson ada di dalam mobil. Ia sudah menunggu nona kurang dari satu jam yang lalu."


"Ya Tuhan ... Bimo. Kenapa kamu tidak ngomong dari tadi kalau opa ada di sini. Ya ampun, aku kangen opa."

__ADS_1


Yola menghambur keluar dengan wajah yang penuh kebahagiaan. Berjalan cepat menuju mobil di mana opanya berada. Saking senangnya dia, ia sampai lupa untuk berpamitan pada kakek dan Zaka. Ia juga lupa untuk menunggu Bimo.


"Opa!"


Melihat cucu yang paling ia sayangi menghampiri mobil, opa David segera keluar dari mobil itu. Lalu ... bruk. Tubuhnya di peluk erat oleh cucu kesayangannya yang sangat ia rindukan. Ia pun membalas pelukan itu dengan pelukan erat juga.


"Sayangku ... opa kangen banget sama kamu, Nak." Opa David berucap sambil membelai lembut rambut panjang Yola yang masih berada dalam pelukannya.


"Aku lebih kangen lagi sama opa. Opa sih, asik keliling dunia. Gak ingat apa kalau opa punya cucu cantik kayak aku, hm?"


"Siapa yang gak ingat sayang, hm? Opa selalu ingat sama kamu. Hanya saja, kamu gak bisa opa bawa ke mana opa pergi. Kamu sih gak mau ikut."


"Gimana mau ikut? Hobi opa itu gak enak. Keliling dunia itu aku gak suka, Opa."


"Iya deh iya. Opa tahu kamu gak suka jalan-jalan kalau gak ada tujuannya. Ya udah, ayo pulang! Mama sama papa kamu pasti gak sabar nungguin kamu pulang ke vila."


"Oke." Yola bicara sambil mengacungkan jempol kanannya.


Opa David langsung meminta cucunya masuk ke dalam mobil. Yola mengikuti apa yang opanya katakan. Namun, saat satu kaki ingin menaiki mobik tersebut, ia ingat akan sesuatu.


"Ada yang kelupaan, Opa."


"Apa, Nak? Biar dia yang ambilkan," ucap opa David sambil menunjuk Bimo.


"Katakan nona! Apa yang perlu saya lakukan?"


"Tidak-tidak. Biar aku sendiri yang melakukannya."


"Opa tunggu sebentar ya. Aku gak akan lama."


"Hm ... baiklah."


Yola beranjak kembali menuju rumah kakek. Di depan pintu, kakek dan Zaka masih setia menjadi penonton sejak tadi.


"Zaka, kakek. Terima kasih banyak sudah mengizinkan aku mampir di sini. Aku pulang dulu. Nanti, aku akan ajak mama papa datang untuk ketemu sama kakek."

__ADS_1


"Hati-hati." Hanya kata itu yang mampu kakek ucapkan. Hatinya terasa perih saat melihat kedekatan Yola dengan opa David. Rasa cemburu yang menyusup, tidak bisa ia tahan. Besar keinginan, ia juga ingin memeluk Yola, bicara dengan bahagia seperti yang Yola lakukan dengan opa David barusan. Tapi sayangnya, itu adalah hal yang terdengar agak mustahil.


Yola melambaikan tangan sesaat sebelum mobil yang ia tumpangi berjalan. Kakek hanya bisa mengukir senyum paksa melepaskan kepergian Yola meninggalkan halaman rumahnya. Sampai mobil itu benar-benar lenyap dari pandangan, senyum itu langsung menghilang. Bahkan, air mata pula yang menggantikan senyum palsu itu.


"Kakek menangis? Ada apa? Apa yang salah, Kek?" tanya Zaka agak panik. Untuk pertama kali dalam hidupnya. Ia melihat orang tua ini menangis. Orang tua yang biasanya selalu dingin, ketus, juga keras, akhirnya sekarang menjatuhkan air mata. Sayangnya, dia tidak tahu penyebab dari air mata itu jatuh.


"Tidak ada yang salah. Sudah. Jangan banyak tanya. Juga jangan ikut campur. Kamu tidak tahu apa-apa. Jadi, diam dan lihat saja."


"Oh ya, sebaiknya kamu tidur. Hari sudah sangat larut malam. Besok pagi, kamu harus pulang pagi-pagi dari rumah ini. Kamu selalu bikin masalah."


'Ya Tuhan. Kambuh lagi sifat aslinya,' kata Zaka dalam hati dengan perasaan kesal.


"Sebenarnya, nona itu siapa, Tuan? Mengapa begitu banyak orang yang datang hanya untuk menjemput dia? Sampai kita tidak bisa tenang dibuatnya." Asisten rumah tangga itu akhirnya menanyakan apa yang sedari tadi ia simpan dalam hati.


"Dia anak dari pemilik tempat yang kita tinggali saat ini."


"Ap--apa! Dia anak nona Kania?" tanya asisten rumah tangga itu kaget bukan kepalang.


Bukan hanya ART itu yang kaget. Tapi juga Zaka. Sangking kagetnya dia, ia sampai tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat.


"Ka--kakek bilang apa barusan? Dia anak pemilik dari tempat yang kakek punya ini?" tanya Zaka memastikan apa yang dia dengar.


"Itu artinya .... "


"Jangan banyak bicara. Aku menyuruh kamu tidur secepatnya. Supaya kamu tidak bangun kesiangan agar kamu bisa segera meninggalkan rumah ini secepat mungkin."


"Tapi, Kek ....


"Zaka. Jangan buat aku semakin kesal atas ulah yang kamu buat terus menerus."


Zaka terdiam. Ia tidak berani bicara lagi. Selama ini, dia sudah susah payah mencari simpati dari sang kakek. Berusaha sekuat mungkin agar bisa diakui sebagai cucu. Itu butuh usaha dan kesabaran yang besar, hingga akhirnya, dia berhasil setelah sekian banyak usaha dan kesabaran yang ia berikan.


Ya walaupun tidak sepenuhnya dianggap sebagai cucu, tapi setidaknya, ia sekarang bisa diterima di rumah sang kakek walau dengan wajah ketus. Hal itu tidak mungkin ia buang hanya karena sebuah rasa penasaran, bukan?


Diam adalah pilihan terbaik untuk dia.

__ADS_1


__ADS_2