I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 45


__ADS_3

"Kania, sayang. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Aku paham bagaimana perasaan kamu saat ini. Tapi, sayang ... kamu tidak bisa seperti ini pada Yola. Dia tidak salah, sayang."


"Dia emang tidak salah, Pa. Tapi aku yang salah. Aku tidak ingin mengingat hal itu lagi. Kejadian itu sungguh sangat memilukan."


"Kania. Aku tahu kamu masih trauma dengan kejadian itu. Tapi, sayang ... coba kamu pikirkan baik-baik. Sejak kejadian itu, kamu malah jadi orang yang tidak peduli sama sekali dengan peninggalan keluarga kamu."


Mendengar kata-kata itu, Kania langsung menoleh ke arah Brian. Ia langsung memberikan tatapan tajam pada Brian yang ada di samping.


"Kamu bilang apa barusan? Aku tidak peduli dengan peninggalan keluargaku? Kamu yang benar saja. Apa kamu lupa apa yang sudah aku lakukan, hm?"


"Sayang, tenang. Bukan itu maksudku."


"Lalu apa?" tanya Kania dengan kesal.


"Ya Tuhan ... kenapa kamu jadi marah padaku, Sayang? Aku hanya ingin bilang, kamu tidak pernah datang ke desa lagi sejak kejadian itu. Kamu tidak pernah melihat bagaimana perkembangan desa itu secara langsung."


"Kania, aku yakin, keluargamu pasti sangat menginginkan kamu datang untuk melihat taman yang sekarang sudah menjadi ladang itu. Dan ... biarkan Yola yang meluluskan permintaan almarhumah nenekmu."


"Maksud kamu apa?"


"Bukankah nenekmu menginginkan ulang tahun yang ke dua puluh tahun kamu diadakan di desa tempat kelahiran ibumu? Tapi sayang, itu tidak kesampaian, bukan? Jadi, bagaimana kalau kita lulus kan permintaan almarhumah nenekmu itu dengan menggantikan Yola yang menepati janji berulang tahun di sana? Bukankah itu ide yang bagus, sayang?"


Kania terdiam mendengarkan penjelasan dari Brian. Perlahan, kata-kata itu ia coba mencerna satu persatu dengan teliti. Benaknya membenarkan hal itu. Hatinya menginginkan melakukan apa yang Brian katakan, tapi ... trauma itu masih menghantui hati Kania sampai detik ini.


"Sayang .... " Brian memangil sambil menyentuh lembut pundak Kania. Itu ia lakukan untuk menyadarkan istrinya dari lamunan.


"Pa, aku ingin meluluskan permintaan nenek. Tapi .... "


"Tapi apa, Sayang? Apa yang menjadi halangan buat kamu? Katakanlah!"


"Aku ... aku tidak bisa lewat jalan itu. Tidak. Aku tidak bisa lewat. Bagaimana caranya aku bisa pergi ke desa jika aku tidak bisa melewati jalan itu, Brian?"


Kania bicara dengan air mata yang berlinangan. Brian tahu apa yang istrinya rasakan sekarang. Trauma berat yang mengakibatkan istrinya kehilangan orang yang paling ia sayang, itu tidak mudah. Karena dia juga pernah mengalami hal yang sama.


Brian segera membawa Kania ke dalam pelukannya. Ia peluk erat tubuh Kania, dan berusaha memberikan rasa nyaman agar istrinya bisa tenang.

__ADS_1


"Sayang, aku akan membawa kamu ke sana tanpa kamu harus melewati jalan itu. Kamu tenang saja."


"Bagaimana caranya, Brian? Bukankah kamu tahu, kalau hanya ada jalan itu akses satu-satunya menuju desa? Tidak ada jalan lain selain jalan itu, Brian."


"Hei! Kamu lupa siapa suami kamu ini, Kania sayang? Kamu tenang saja. Kita tidak akan pergi lewat jalan karena kita akan pergi lewat udara."


"Le--lewat udara?" tanya Kania sambil bangun dari pelukan Brian.


"Ya. Kita akan pergi dengan jet pribadi, papa. Kamu lupa? Kita datang dengan jet pribadi papa, sayang? Jadi, itu tidak akan jadi halangan."


"Selain itu, aku juga akan membangun jalan lain untuk pergi ke desa Mekar. Agar kamu bisa ke sana kapanpun kamu mau. Tanpa harus melewati jalan itu lagi nantinya."


"Tidak perlu, Pa. Aku tidak ingin ke sana setiap saat. Cukup saat-saat penting saja. Jadi, aku rasa kamu tidak perlu melakukan hal yang berlebihan seperti membangun jalan baru."


"Kamu yakin?"


"Ya, aku yakin. Bahkan, sangat yakin."


"Baiklah. Jika itu yang kamu katakan, maka aku akan dengarkan dan ikuti dengan senang hati."


"Ya sudah, sekarang, masalahnya sudah terselesaikan. Kita harus temui Yola untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi. Aku yakin, dia pasti membutuhkan penjelasan dari kita atas sikap kamu tadi."


Saat tiba di kamar Yola, bu Erni menyapa kedua majikannya dengan sopan dan ramah.


"Tuan Brian, nyonya Kania. Kalian ingin bertemu dengan nona kecil ya?"


"Iya, Bu. Apakah ibu tau di mana Yola sekarang? Kelihatannya, dia gak ada di kamar."


"Tau, tuan Brian. Nona kecil ada di taman belakang. Dia baru saja pergi ke sana beberapa menit yang lalu."


"Oh, baiklah. Kami akan ke sana sekarang juga."


"Baik, tuan."


Kania dan Brian segera beranjak meninggalkan kamar. Mereka berjalan bersama menuju taman belakang.

__ADS_1


Benar saja, di taman belakang ada Yola yang sedang duduk termenung di atas kursi kayu.


Kania dan Brian segera menghampiri anak mereka.


"Yola .... " Kania menyentuh pundak Yola dengan lembut.


"Mama, Papa."


"Kamu sedang apa, Nak?"


"Duduk aja, Pa."


"Duduk apa melamun?" tanya Brian dengan nada menggoda.


"Kayaknya ... dua-duanya benar deh, Pa."


"Sayang, mama minta maaf sudah bicara dengan nada tinggi padamu tadi. Mama .... "


"Gak papa, Ma. Mama gak perlu minta maaf. Mama gak salah, kok. Semua orang punya alasannya tersendiri. Aku yakin, mama juga sama."


"Mama tenang saja, aku gak akan merayakan ulang tahun di desa itu. Kita rayakan di sini saja."


"Apa yang kamu katakan anak manis ku? Kita tidak akan merayakan ulang tahun di sini. Tapi ... di desa Mekar. Tempat yang kamu inginkan."


"Apa? Apa maksud mama?" tanya Yola dengan wajah bahagia. Sangking bahagianya dia, matanya sampai berbinar-binar.


"Seperti yang kamu inginkan. Kita akan merayakan ulang tahun kamu di tempat yang kamu inginkan. Kamu tenang saja, dan harus selalu bahagia."


"Benarkah mama, papa? Apakah kalian benar-benar akan menuruti apa yang aku inginkan?"


"Tentu saja," ucap Kania sambil tersenyum lebar.


Melihat keyakinan yang mama dan papanya berikan, Yola begitu bahagia. Ia segera memeluk mama dan papanya secara bersamaan.


"Terima kasih, Mama, Papa. Kalian selalu memberikan apa yang aku inginkan. Aku janji, setelah ini, aku akan belajar jadi anak yang lebih baik lagi Tentunya, aku akan belajar jadi wanita yang lebih dewasa untuk mama dan papa."

__ADS_1


"Anak nakal papa ingin belajar dewasa? Tapi sepertinya, itu tidak cocok buat kamu. Karena selamanya ... papa ingin kamu tetap menjadi gadis kecil papa yang periang."


"Papa ini gimana sih? Ih ... bilangnya malah gitu. Lupa, kalau gadis kecil kita sudah bukan gadis kecil lagi? Dia sudah dewasa, Pa. Sudah jadi istri orang malahan."


__ADS_2