I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 10


__ADS_3

Saras menatap Dewa dengan tatapan tajam penuh dengan amarah dan kebencian. Dewa hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya saja. Meresapi rasa sakit yang ada dalam hatinya atas apa yang sedang terjadi pada Hanas, wanita yang paling ia cintai.


"Mama, aku tidak ingin melihat kak Dewa lagi. Suruh dia pergi dari sini sekarang juga. Katakan padanya, aku tidak ingin dia datang ke sini untuk melihatku, sekalipun tubuh ini sudah terbujur kaku tanpa nyawa."


"Hanas." Dewa memanggil dengan perasaan sangat sedih.


"Hanas! Apa yang kamu katakan, Nak. Jangan katakan seperti itu karena mama tidak sanggup jika harus kehilangan kamu, nak."


"Ma, aku sungguh tidak sanggup bertahan dengan penderitaan ini. Untuk itu, aku ingin pergi saja dari dunia ini buat selama-lamanya."


"Sayang .... " Saras berucap sambil memeluk Hanas dengan perasaan sedih. Air mata tentunya tidak bisa ia bendung lagi.


Beberapa saat lamanya, Dewa menyaksikan pelukan itu dengan hati yang sangat terluka. Tapi kemudian, tatapan dari Saras yang baru saja melepaskan pelukannya dari Hanas, menyadarkan Dewa akan keadaan saat ini. Keadaan canggung yang membuat ia merasa tidak nyaman untuk tetap berada di sini lagi.


"Sepertinya ... aku harus pergi sekarang," ucap Dewa sambil beranjak dari tempat ia berdiri sebelumnya.


"Tunggu tuan muda!" Saras menghentikan langkah Dewa dengan cepat.


"Iya tante," ucap Dewa sambil menoleh ke arah Saras.


"Ikut aku sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan dengan tuan muda."


"Baiklah."


Dewa mengikuti langkah kaki Saras keluar dari kamar Hanas. Mereka berjalan menuju ruang tamu yang letaknya berhadapan dengan kamar Hanas.


"Silahkan duduk tuan muda," ucap Saras ketika mereka telah berada di ruang tamu tersebut.

__ADS_1


Dewa mengikuti apa yang Saras katakan tanpa berkomentar sedikitpun. Karena rasa penasaran telah hilang akibat rasa bersalah yang telah menguasai hati.


"Tuan muda, aku ingin bicara sebagai seorang ibu dari anaknya yang begitu tersakiti sehingga ia kehilangan semangat untuk hidup, dan sekarang, ia lebih menginginkan kematian dari pada kehidupan."


"Aku adalah seorang ibu tuan muda. Aku tidak bisa membiarkan anakku terus merasakan penderitaan ini. Tolonglah aku tuan muda. Tolong berikan anakku sedikit saja harapan agar dia bisa melanjutkan kehidupannya," ucap Saras dengan nada sedih.


"Maafkan aku tante. Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk menolong tante. Karena sekarang, semuanya telah berubah."


"Kamu tidak mencintai Hanas, tuan muda?"


"Aku mencintai dia tante. Tapi sayangnya, tidak mungkin untuk aku dan Hanas bersama."


"Kenapa? Karena tuan muda sudah menikah sekarang? Iya?"


"Tante sudah tahu jawabannya. Tidak mungkin lagi untuk aku dan anak tante bersama sekarang," ucap Dewa dengan nada pasrah dan terdengar sangat putus asa.


Dewa melihat Saras dengan tatapan tak mengerti. "Apa maksud tante?"


"Pernikahan kamu dengan adik angkat mu itu hanya sebatas karena wasiat saja kan, tuan muda? Dalam wasiat itu tidak ada di katakan kalau kalian harus bersama selamanya. Maka, kamu hanya perlu menikahi nona Yola. Sedangkan selanjutnya, ya terserah padamu bukan? Mau kamu lanjut atau akhiri pernikahan kalian, itu juga terserah padamu kan?"


"Maksud tante, tante ingin aku mengakhiri pernikahan aku dan Yolan, begitu?"


"Tuan muda jelas tahu apa maksud dari kata-kata yang aku ucapkan barusan. Karena perkataan aku barusan itu sudah sangat jelas maksud dan tujuannya."


"Tuan muda. Jika kamu memang mencintai Hanas, maka tunjukkan rasa cinta itu. Perjuangkan dia. Berikan dia semangat agar dia tetap mau melanjutkan hidupnya," kata Saras lagi dengan nada penuh dengan semangat dan keyakinan.


Dewa tidak langsung menjawab. Ia menarik napas terlebih dahulu, lalu kemudian, melepas napas itu dengan kasar.

__ADS_1


"Tante, aku memang sangat mencintai Hanas dengan sepenuh hatiku. Tapi maaf, aku tidak bisa menunjukkan rasa cinta yang aku miliki dengan meninggalkan Yolan. Karena aku, tidak ingin melihat adik angkat ku sedih dan kecewa. Juga tidak ingin mengecewakan harapan orang tua angkat ku yang selama ini sudah sangat berjasa dalam hidupku ini. Untuk itu, aku hanya bisa mengucapkan kata maaf pada tante."


Dewa langsung bangun dari duduknya. Ia beranjak meninggalkan Saras yang sedang terdiam dengan tatapan kecewa dan amarah atas kata-kata yang baru saja Dewa ucapkan dengan sangat mantap penuh dengan keyakinan.


"Permisi tante. Sampaikan kata maaf ku pada Hanas. Katakan padanya, aku tidak bisa membuat ia bahagia. Maka dia harus bahagia dengan tetap semangat menjalani hidup ini. Masih banyak laki-laki lain yang bisa membuat dia bahagia. Tentunya, bukan laki-laki seperti aku yang sudah terikat dalam ikatan sakral sebuah pernikahan."


Hanas yang mendengarkan dengan jelas kata-kata itu, tidak sanggup untuk menahan air matanya lagi. Air mata itu tumpah deras membasahi pipinya. Tubuhnya yang lemah, kini ambruk jatuh ke lantai tanpa bisa ia tahan.


'Kenapa harus kalah lagi dan lagi dengan nona sialan itu, hah! Apa hebatnya dia? Apa lebihnya dia dibandingkan aku, hah! Tuhan ... katakan padaku apa kurangnya aku sebenarnya!' Hanas berteriak, menjerit dalam hati.


Rasa cinta itu sekarang sedikit demi sedikit sudah berubah menjadi benci. Benci yang menimbulkan rasa dendam dalam hatinya saat ini.


'Baiklah. Jika kamu inginnya begitu, kak Dewa. Maka aku akan turuti apa yang kamu katakan. Aku akan lupakan kamu sebagai orang yang aku cintai. Tapi ... aku akan ingat padamu sebagai musuh yang harus aku sakiti.'


'Kamu lebih mengutamakan adik angkat mu dibandingkan aku, perempuan yang kamu cintai. Maka jangan salahkan aku jika kamu akan menerima pembalasan yang sangat menyakitkan dari perempuan yang kamu cintai namun kamu tinggalkan ini, tuan muda Dewa,' kata Hanas dalam hatinya lagi sambil menggenggam erat tangannya.


Setelah terdiam beberapa lama. Saras bangun dari duduknya, lalu berjalan menuju kamar Hanas kembali.


Ia kaget saat membuka pintu kamar tersebut. Hanas dengan tubuh lemah itu ada di lantai dengan posisi terduduk sambil berurai air mata.


"Sayang! Kenapa kamu bisa duduk di sini, Nak? Apa yang terjadi, Hanas?"


"Ma ... rasanya sakit sekali. Perih .... " Hanas berucap sambil memegang dadanya.


"Sayang, katakan pada mama, apa yang sakit! Ayo kita ke dokter sekarang! Kita ke rumah sakit. Mama yakin kamu mampu bertahan karena kamu adalah suster. Suster itu .... "


"Ma! Aku tidak butuh ke rumah sakit. Karena yang sakit itu hatiku ... hatiku, Ma." Hanas memotong perkataan Saras dengan cepat sambil terus menangis.

__ADS_1


__ADS_2