
Lalu kemudian, Dewa menundukkan kepalnya dengan perasaan yang sangat sedih.
"Jika memang sudah ada orang lain, maka aku akan melepaskan kamu dari ikatan suci ini. Agar kamu bisa bahagia bersama orang itu. Aku akan melepaskan kamu meski dengan berat hati."
"Kenapa harus berat, hm? Bukankah kak Dewa harus bahagia? Karena dengan melepaskan aku, maka kamu dan perempuan yang kamu cintai itu bisa bersatu buat selamanya."
"Kamu salah. Karena orang yang aku cintai itu .... "
"Sudah cukup! Tidak perlu dilanjutkan lagi. Aku tidak punya waktu untuk membahas soal yang tidak penting seperti ini."
Yola kembali melanjutkan langkah kakinya untuk meninggalkan Dewa. Namun lagi-lagi, suara Dewa menghentikan niatnya itu.
"Perempuan yang aku cintai itu kamu, Yolan. Aku mencintai kamu."
Yola terdiam. Hatinya mendadak merasa bahagia. Tapi ... tiba-tiba, perasaan bahagia itu mendadak musnah seketika saat ingat kejadian malam itu. Saat di mana Dewa berjanji untuk belajar mencintainya. Tapi, malah pengkhianatan yang meremukkan yang ia dapatkan setelah janji itu Dewa ucapkan.
'Jangan percaya Yola! Dia bohong. Dia kembali datang untuk membohongi kamu. Mungkin, dia hanya mencoba memperbaiki hubungan kalian dengan mengucapkan kata-kata cinta. Jangan percaya, oke.'
Yola bicara dalam hati untuk menguatkan dirinya sendiri. Lalu kemudian, dia terus melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda sebelumnya.
Dewa melihat punggung Yola yang yang berjalan semakin menjauh meninggalkan dirinya. Ia tertunduk sedih saat punggung itu lenyap dari pandangan.
"Saat ini, kamu boleh tidak percaya dengan apa yang aku katakan padamu, Yolan. Tapi nanti, aku akan buktikan kebenaran dari kata-kata yang aku ucapkan ini. Semoga saat itu, kamu masih menyimpan aku dalam hatimu."
Plok! Plok! Plok!
Sebuah tepukan tangan tiba-tiba Dewa dengar dari arah belakang. Sontak, Dewa segera memutar tubuh untuk melihat siapa yang sudah memberikan dia tepuk tangan itu.
"Hanas!" Dewa kaget bukan kepalang ketika melihat Hanas yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.
"Kenapa ekspresinya gak enak banget, kak Dewa? Kayak kaget gitu saat melihat aku. Apa kak Dewa gak senang, aku ada di sini?"
__ADS_1
"Perempuan gila, kenapa kamu bisa ada di sini, hah? Untuk apa kamu datang mengikuti kami sampai ke sini?"
"Kak Dewa, gak punya hati banget sekarang. Bilang aku gila. Hei! Aku gak gila tahu?"
"Hm ... jika kamu tanya untuk apa aku datang ke sini. Tentu saja jawabannya kamu sudah tahu. Aku datang untuk merusak segalanya. Dan juga, untuk melenyapkan orang yang kamu sayang. Biar kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kamu cintai, kak Dewa."
"Kamu benar-benar sudah gila, Hanas! Ayo ikut aku sekarang!"
Dewa menggenggam tangan Hanas dengan erat, lalu menyeret Hanas secara paksa. Anehnya, bukan memberontak, Hanas malah mengikuti dengan tenang.
"Kamu mau bawa aku ke mana, kak Dewa? Mau ajak aku ketemu dengan keluarga Aditama? Iya?"
"Kalau begitu, hayo! Aku akan pergi dengan senang hati. Karena nanti, aku akan mengatakan kalau aku datang karena kamu yang memberitahu soal lokasi pesta ini. Aku juga akan mengatakan hal yang tidak-tidak tentang kamu pada keluarga Aditama."
"Akan aku katakan, kalau aku sedang hamil anak kamu. Aku juga akan katakan, kalau kamu bertahan dengan pernikahan ini hanya karena harta keluarga itu. Biar selamanya, kamu dibenci oleh keluarga itu."
"Kamu sudah gila. Benar-benar sudah gila, Hanas!"
"Kak Dewa gak jadi ajak aku ketemu keluarga, kak Dewa?"
"Masuk!" Dewa mendorong Hanas dengan kesal ke dalam mobil.
"Jangan galak-galak, kak Dewa. Apa kamu sudah lupa bagaimana kamu begitu lembut padaku kemarin?"
"Jangan banyak bicara, Hanas. Aku semakin muak dengan tingkah kamu saat ini."
"Kak Dewa muak dengan aku. Heh ... laki-laki buaya. Habis manis sepah dibuang."
Dewa mengabaikan apa yang Hanas katakan. Ia lalu menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobik itu secepat mungkin.
"Kak Dewa gak benar-benar ingin meninggalkan tempat ini, bukan? Jangan lupa lho, kak. Bentar lagi, acara ulang tahun adik sekaligus istri kesayangan kak Dewa akan dimulai. Gak ingin lihat acaranya ya?"
__ADS_1
"Diam!" Dewa berteriak keras pada Hanas sekarang. Karena ia sudah tak kuat lagi menahan rasa kesal dalam hatinya akibat kata-kata yang Hanas ucapkan.
"Uh, jangan galak-galak dong kak. Aku gak salah ngomong bukan?"
Dewa semakin menambah kecepatan laju mobilnya. Karena dia sekarang, benar-benar sudah terbakar emosi.
Memang apa yang Hanas katakan itu benar. Dia seharusnya tetap berada di sana untuk merayakan ulang tahu Yola. Juga menjalankan rencana yang sudah ia susun sebelumnya.
Rencananya, dia akan melamar Yola di depan umum. Cincin berlian sudah ia siapkan kemarin. Cincin yang ia desain secara khusus untuk Yola.
Tapi apalah daya, demi tidak membuat rusak acara ulang tahun orang yang ia sayang, juga demi keselamatan. Ia rela pergi meninggalkan acara itu untuk mengamankan si penyebab masalah.
Rencanannya, Dewa akan membawa Hanas ke kantor polisi untuk diamankan. Atau bahkan, ia akan membawa Hanas ke rumah sakit jiwa untuk di tahan. Karena sepertinya, perempuan itu sudah sakit jiwa sekarang.
Dengan berbekalkan GPS dari ponselnya, Dewa semakin melaju mobil yang ia kendarai. Tanpa tahu apa yang sebenarnya telah Hanas rencanakan.
Tepat saat melewati tikungan yang sedikit curam, Dewa berusaha memperlambat jalan mobil. Tapi sayangnya, rem mobil itu tidak berfungi sama sekali. Berulang kali ia injak, tetap saja tidak berpengaruh.
Dewa mendadak panik akibat hal itu. Sementara Hanas yang duduk di sampingnya, malah tertawa terbahak-bahak dengan semua itu.
"Kenapa, kak Dewa? Apa ada yang salah?" tanya Hanas dengan santai.
"Apa ... apa yang sudah kamu lakukan dengan mobil ini, Hanas! Perempuan gila kamu!"
"Ha ... ha ... ha .... "
"Sebelum aku pancing kamu menuju mobil ini, aku sudah merusak remnya, kak Dewa. Dengan begitu, kita akan mati bersama jika kamu membawa mobil ini dengan kecepatan tinggi."
Iya. Hanas mengubah rencananya untuk melenyapkan Yola dengan mati bersama Dewa. Itu ia lakukan karena dia tahu, jika ia berhasil mencelakai Yola, maka sama saja dengan ia menginginkan kehidupan yang hidup segan mati tak mau di tangan keluarga Aditama.
Hanas berpikir kalau itu bukan solusi tepat untuk ia membalas dendam pada Yola. Dia tidak akan bisa menyiksa Yola jika melenyapkan Yola secara langsung.
__ADS_1