I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 60


__ADS_3

Johan tersenyum memperhatikan wajah Brian yang tidak mempercayai setiap ucapannya. Tapi, di wajah itu juga terdapat rasa penasaran dengan kelanjutan dari ucapan yang belum terselesaikan.


"Tuan muda. Waktu itu, aku selalu menyalahkan Saras karena tidak kunjung hamil, padahal sudah menikah lama. Aku selalu marah-marah padanya. Rumah tangga kami akhirnya tidak ada ketenangan sama sekali. Tapi pada akhirnya, Saras dinyatakan hamil. Aku sangat senang dengan kabar itu."


"Tapi, satu bulan setelah kehamilan itu, aku pun mengetahui sebuah rahasia besar dari seorang dokter. Dokter itu mengatakan, aku tidak akan bisa punya keturunan seumur hidup. Saat itu, duniaku seperti berhenti berputar untuk beberapa saat. Karena aku mendapatkan kabar yang sangat menyakitkan buat hati ini."


"Lalu, bagaimana Saras bisa hamil jika kamu tidak bisa punya keturunan, Johan?"


"Di sinilah masalah besarnya, tuan muda. Setelah aku selidiki, ternyata, Saras tidak hamil benih dari aku. Melainkan, benih orang lain.


Mengetahui hal itu, aku marah bukan kepalang. Rasanya, ingin aku bunuh Saras detik itu juga. Tapi, penjelasan Saras membuat aku mati kutu untuk selamanya."


"Ternyata, Saras sudah tahu kalau aku mandul dan dia tidak ingin membuat aku malu karena hal itu. Makanya, dia memilih melakukan bayi tabung, katanya."


"Tapi, entah kenapa, aku masih merasa tidak puas hati dengan penjelasan yang Saras berikan. Aku ingin menemukan bukti dari kata-kata yang ia ucapkan. Lalu, aku menyelidiki semua itu secara diam-diam."


"Lalu, apa hasilnya?" tanya Brian tak sabaran.


"Aku menemukan sebuah fakta mengejutkan dari hasil penyelidikan itu. Ternyata, Saras tidak melakukan bayi tabung seperti yang dia katakan padaku. Dia melakukan hubungan terlarang dengan pria yang saat aku cari keberadaannya, ternyata, pria itu sudah mati karena keracunan."


"Bagaimana itu bisa terjadi, Johan? Apa kamu yakin kalau orang itu benar-benar keracunan?"


"Tidak, tuan muda. Aku tidak yakin, dan aku telah menyelidikinya. Dia mati karena diracuni. Bukan keracunan. Aku juga menyelidiki siapa pelakunya."


"Siapa? Apa kamu berhasil menemukannya?"


"Ya, aku berhasil. Siapa lagi dia kalau bukan Saras. Dia yang melakukan semua itu dengan dalih, biar hubungan kami tidak akan ada masalah lagi kedepannya."

__ADS_1


"Awalnya aku tidak terima. Tapi, perlahan, aku terpaksa menerima dan mengikuti jalan mainnya Saras. Karena aku tidak punya pilihan lain selain ikut dalam permainan itu."


"Aku berusaha memaafkan Saras dan menerima anak yang ada dalam kandungannya itu sebagai anakku. Namun, sayangnya hati ini tetap tidak bisa walau aku belajar belasan bahkan puluhan tahun. Dan, semua masalah terus menerus muncul sejak kelahiran anak itu. Bahkan, sampai dewasa, masalah semakin banyak saja ditimbulkan anak itu."


"Jadi ... dia benar-benar bukan anakmu, Johan?"


"Tentu saja bukan, tuan muda."


"Pantas saja dia sama sekali tidak mirip dengan kamu. Oh ya, aku lupa menanyakan padamu, bagaimana pertengkaran kalian bisa terjadi? Kenapa kamu sampai terluka separah ini?"


"Ini semua karena ulah anak bia*dab itu, tuan muda. Dia telah menyebabkan masalah. Dia juga memicu pertengkaran antara aku dan Saras, karena Saras sayang anaknya. Dan ... dia juga yang menyebabkan aku masuk rumah sakit seperti saat ini."


"Maksud kamu, ini bukan ulah istrimu? Bukan Saras yang melukai kamu hingga sampai seperti ini, Johan?"


"Tentu saja bukan, tuan muda. Aku bertengkar dengan Saras karena anak haram itu. Aku tidak sengaja mendorong Saras hingga terjatuh. Lalu, anak haram itu mengatakan kalau aku pembunuh. Aku yang marah, semakin merasa kesal dengan kata-kata yang ia ucapkan. Lalu aku mencekik dia dengan sekuat tenaga. Tapi, dia malah menusuk aku dengan gunting. Kemudian, dia memukul kepalaku dengan vas bunga. Lalu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya."


"Berarti, apa yang Dewa lihat saat itu benar. Anak itu kembali ingin berusaha mencelakai kamu saat tahu kamu masih hidup. Dan ... sekarang, Dewa kecelakaan karena anak itu," ucap Brian sambil tertunduk sedih.


Saat itu, ponsel milik Brian tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan masuk menghubungi nomornya. Ia segera mengeluarkan ponsel tersebut untuk melihat siapa yang sedang menghubungi dia sekarang.


"Tinggu sebentar, Johan. Aku angkat dulu."


"Silahkan, tuan muda."


Brian segera menggeser layar untuk menyambungkan panggilan. Itu adalah panggilan dari polisi yang biasa menghubungi dia sebelumnya.


"Halo, pak polisi."

__ADS_1


"Halo, tuan Brian. Maaf mengganggu. Saya punya kabar baru untuk saya sampaikan. Bisakah bapak segera datang ke kantor kami sekarang juga?"


"Maaf, pak. Saya sedang berada di rumah sakit. Tidak memungkinkan untuk saya datang ke kantor polisi sekarang. Kalau boleh saya tahu, kabar baru mengenai apa yang ingin bapak bicarakan dengan saya?"


"Ini soal kecelakaan keluarga tuan Johan. Kami telah menyelidiki anak perempuan tuan Johan beberapa hari yang lalu. Dan kami menemukan kejanggalan dari kejadian pembunuhan akibat ketidaksengajaan itu."


"Kejanggalan seperti apa, Pak? Oh ya, sebenarnya, Johan sudah sadar sekarang. Mungkin, penjelasan dia juga diperlukan untuk memutuskan kasus keluarganya."


"Baiklah kalau begitu. Jika tuan Johan sudah sadar, maka kami akan segera ke rumah sakit sekarang juga."


____


Polisi datang setelah Johan mendonorkan darahnya untuk Dewa. Sementara keluarga Aditama, bisa bernapas sedikit lega karena Dewa sekarang sudah bisa melewati masa kritisnya.


Namun sayangnya, prediksi Leo itu mungkin benar. Dewa bisa melewati masa kritis namun tidak bisa sadar dari koma dalam waktu dekat.


"Dewa ... kamu harus kuat ya, Nak. Mama akan selalu ada buat kamu, sayang." Kania berucap sambil membelai pelan wajah anak angkatnya.


"Kak Dewa. Aku minta maaf. Karena aku, kamu jadi begini," ucap Yola sambil mencium tangan Dewa dengan rasa penuh penyesalan.


"Tante, Yola, sebaiknya kalian istirahat dulu. Ini sudah sangat malam. Kalian terlihat begitu capek."


"Gak papa, kak Zaka. Aku masih kuat buat menemani kak Dewa sekarang. Mungkin mama, iya."


"Ma, sebaiknya istirahat saja duluan. Biar aku yang jagain kak Dewa sekarang."


"Mama juga masih kuat kok, La. Mama masih mau terap di sini buat nemani Dewa."

__ADS_1


"Ya udah tante. Jika masih ingin tetap di sini, sebaiknya tante mengistirahatkan diri di sofa biar agar tidak terlalu kelelahan. Kalian nanti tuan muda, jika kalian ikutan sakit, siapa yang akan merawat dia." Zaka berusaha membujuk Kania.


Akhirnya, Kania termakan bujukan Zaka juga. Dia mau meninggalkan Dewa untuk berbaring di atas sofa yang ada di ruangan itu juga. Sementara Yola, ia tetap memeluk tangan Dewa sambil melihat wajah tampan yang sedang terlelap dengan alat medis yang terpasang di beberapa bagian tubuh.


__ADS_2