
"Yolan! Apa yang terjadi? Apa yang sakit sekarang? Apakah .... "
"Aku baik-baik saja. Tidak ada yang sakit," ucap Yola dengan nada kesal memotong perkataan Dewa barusan.
"Yolan."
Dewa berjalan mendekat dengan perasaan bersalah. Ia tahu kalau Yola sekarang pasti sedang marah padanya. Bahkan mungkin, sangat marah.
Dewa memberi isyarat pada bu Erni untuk keluar dari kamar tersebut. Karena dia, hanya ingin berdua saja dengan Yola di kamar itu.
Bu Erni memahami isyarat yang Dewa berikan. Segera ia pamit pada Yola dengan alasan ingin membeli sarapan. Karena memang, dia belum makan apapun pagi ini.
"Bu Erni yakin mau pergi sendiri? Apa tidak minta kak Dewa saja yang pergi untuk beli sarapan?" tanta Yola pada bu Erni.
"Lho, kenapa malah aku yang harus beli sarapan, Yolan? Kan aku baru sampai. Lagipula .... "
"Kenapa kalau aku minta kak Dewa yang pergi belikan sarapan? Salah?"
Nada ketus terdengar jelas di setiap kata yang Yola ucapkan. Sebenarnya, ia sengaja melakukan hal itu, karena rasa sakit yang ada dalam hatinya saat ini. Ia sungguh sangat tidak ingin berhadapan dengan Dewa sekarang. Apalagi ... bicara empat mata dengan Dewa, lebih tidak mau lagi dia. Setidaknya, untuk saat ini.
Tidak ingin menambah rasa kesal di hati adik angkatnya. Dewa memilih mengalah.
"Baiklah. Biar aku saja yang pergi belikan sarapan untuk kamu. Katakan! Apa yang kamu ingin makan pagi ini, Yolan?"
"Aku tidak ingin makan apapun. Karena aku sudah kenyang makan hati tadi."
"Yolan. Apa yang kamu katakan? Aku minta .... "
"Kak Dewa bisa pergi sekarang! Belikan sarapan untuk bu Erni. Karena bu Erni pasti sudah sangat lapar. Pergilah!"
"Ibu tidak lapar kok nona kecil."
"Jangan bohong, Bu. Bukankah barusan, ibu ingin beli sarapan?" Yola berucap sambil melirik bu Erni untuk sesaat.
__ADS_1
"Tapi .... " Bu Erni malah melihat Dewa dengan tatapan tidak enak hati.
"Sudah. Gak papa. Biarkan aku yang pergi beli sarapan untuk kita semua. Kalian tunggu sebentar, aku akan minta Bimo membelikannya."
Dewa beranjak keluar untuk menemui Bimo. Tapi, sayangnya, Bimo tidak ada di depan kamar itu. Entah ke mana perginya, dia juga tidak tahu. Karena Bimo sama sekali tidak pamit tadi.
"Sial! Ke mana perginya si Bimo? Apa aku harus pergi sendiri untuk membeli sarapan? Tapi ... aku akan kehilangan kesempatan untuk bicara dengan Yolan sekarang."
"Ah, sudahlah. Masih ada banyak waktu untuk aku bicara dengan gadis kecilku itu. Sekarang, yang penting, turuti kemauan dia dulu. Biar dia gak semakin marah padaku karena tidak ada di saat ia butuhkan tadi malam."
Dewa memilih membeli sendiri sarapan untuk Yola. Ia berjalan menuju kantin rumah sakit yang berada di halaman samping rumah sakit tersebut.
Ketika ia melewati sebuah ruangan yang bertuliskan nama 'dokter Leo Adriano'. Ia mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya. Suara tangisan yang dia sendiri sungguh hafal siapa pemilik dari suara tersebut.
Sontak, pikiran negatif tiba-tiba menyelimuti hati dan pikiran Dewa. Tidak berpikir panjang lagi, karena cemas dan panik sedang menguasai hati. Dewa pun segera menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa ada rasa sopan santun sama sekali.
Seketika, perhatian orang yang ada di dalam ruangan itu teralihkan dengan kemunculan Dewa di hadapan mereka.
"Hanas! Kamu ... kenapa kamu menangis? Ada apa, hah? Apa yang terjadi?"
Tidak langsung menjelaskan apa yang terjadi. Hanas malah berjalan cepat menghampiri Dewa yang berada di ambang pintu ruangan tersebut. Kemudian, ia langsung menghambur ke dalam pelukan Dewa dengan air mata yang jatuh sangat deras tentunya.
"Kak Dewa. Aku ... aku dituduh, kak."
"Di tuduh? Di tuduh apa? Kenapa, Hanas? Katakan dengan jelas apa yang terjadi!"
"Aku ... kak .... "
Hanas bertingkah seolah-olah dia adalah korban yang sesungguhnya. Dia begitu menangis dengan tangisan yang amat sangat sedih sampai tidak bisa menjelaskan.
"Dokter! Ada apa ini? Jelaskan padaku apa yang telah terjadi!" Dewa bicara dengan nada tinggi sambil menatap dokter Leo dengan tatapan tajam.
Leo menarik napas panjang. Lalu kemudian, melepas napas itu dengan cara perlahan.
__ADS_1
"Anda ini sebenarnya makhluk dari mana? Datang tiba-tiba, tidak tahu sopan santun pula. Apakah anda tidak tahu adab jika ingin masuk ke ruangan orang? Tidakkah anda lihat, di depan ruangan itu tertera namaku?"
"Ruangan orang itu diibaratkan rumah bagi pemiliknya. Jika anda ingin masuk, maka harus permisi terlebih dahulu. Bukan malah nyelonong, terus ikut campur dalam urusan orang tersebut."
Mendengar kata-kata yang Leo ucapkan. Dewa mendadak semakin emosi. Ia langsung berniat ingin memberikan pelajaran pada dokter Leo yang terlalu banyak bicara ini.
Tapi ....
"Kak Dewa!"
Plak! Sebuah tamparan mendarat dengan sangat amat cantik di pipi Dewa. Tamparan yang disertai dengan sejuta emosi juga rasa kesal yang menumpuk itu membuat pipi Dewa berbekas merah seketika.
Dewa memegang pipinya sambil menatap orang yang sudah menghadiahkan dirinya tamparan cantik tersebut.
"Yolan. Apa-apaan ini? Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan padaku barusan? Kamu menampar aku dengan sangat keras, Yolan."
"Aku sadar. Sangat amat sadar."
"Tamparan itu aku hadiahkan untuk kak Dewa, biar kamu sadar, kak. Sadar akan siapa diri kamu yang sekarang ini. Biar kamu gak terus-terusan lupa ingatan, atau barangkali, biar ingatanmu yang telah hilang itu bisa kembali lagi."
Dewa menatap tajam adik angkatnya. Sebenarnya, ia sangat amat bingung dan sungguh tidak memahami apa maksud dari kata-kata yang Yola ucapkan barusan.
"Yolan, apa yang kamu katakan, hah? Kenapa bicara seperti itu padaku?"
"Oh, kak Dewa ternyata masih hilang ingatan rupanya. Sekarang aku tanya, ngapain kak Dewa ada di kamar ini, hah?"
Dewa terdiam beberapa jenak. Ia melirik ke arah Hanas yang berada di sampingnya. Hanas yang pura-pura tidak tahu apa-apa itu hanya menundukkan kepalanya saja. Padahal dalam hati, ia sedang tertawa bahagia dengan bertepuk tangan dan bersorak-sorai begitu meriahnya.
'Bagus. Sungguh pertunjukkan yang sangat amat bagus sekali. Aku begitu bahagia melihat keretakan yang akan menuju perselisihan ini. Aku senang dengan semua yang terjadi sekarang. Hal inilah yang sebenarnya aku cari dan harapkan.' Hanas bicara dalam hati sambil terus berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Kenapa kak Dewa diam? Aku barusan bertanya pada kak Dewa, bukan? Kenapa tidak dijawab, hah?"
"Oh, tunggu. Aku tahu apa sebab dan alasan kak Dewa berada di ruangan ini sekarang. Karena panggilan dari perempuan yang kak Dewa cintai ini? Iyakan?"
__ADS_1