I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 31


__ADS_3

"Selama ini aku apa?" Leo memotong perkataan Hanas dengan cepat. Hanas terlihat sedang berpikir keras bagaimana cara agar dia bisa membawa Dewa pergi dari ruangan ini secepat mungkin. Karena, dia sangat tidak ingin Leo mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Hanas! Katakan! Aku apa, hm?"


"Dokter Leo, cukup. Jangan siksa aku lagi. Aku memang anak magang di rumah sakit ini. Tapi


kamu tidak berhak memperlakukan aku sesuka hatimu. Karena statusku yang baru anak magang ini. Anak magang juga manusia dokter Leo."


"Jika kamu merasa dirimu juga manusia, lalu kenapa kamu tidak punya hati seperti hatinya manusia, Hanas?"


"Dokter, cukup! Kamu tidak berhak bicara lagi dengan orang ku sekarang. Kamu tidak tahu siapa aku, hah!"


Dewa angkat bicara setelah beberapa saat ia terdiam. Hatinya terasa semakin berkecamuk saat ini. Satu sisi, ia mencemaskan keberadaan adik angkat sekaligus istrinya yang telah pergi. Sedangkan di sisi lain, ia mencemaskan Hanas yang tidak mungkin ia tinggal sendirian di sini.


Mengingat, apa yang baru saja gadis itu alami.


Leo tersenyum menyeringai. Tepatnya, senyuman yang dipenuhi dengan ejekan untuk Dewa.


"Aku tahu siapa kamu tuan muda. Kamu adalah tuan muda yang sangat tidak punya hati dan pikiran. Iyakan?"


"Cukup, dokter! Aku juga punya batas kesabaran. Kamu jangan lupa kalau adikku adalah pemilik rumah sakit ini. Aku akan bikin perhitungan dengan kamu nantinya."


"Oh iya aku lupa. Nona Yola adalah pemilik rumah sakit ini. Aku di perintah olehnya untuk membuang kamu dari dunia medis selama-lamanya, Hanas. Hampir lupa soal itu. Terima kasih tuan muda sudah mengingatkan aku soal tugas yang nona Yola berikan."


"Jangan macam-macam kamu dokter lak*nat. Adikku tidak bermaksud mengatakan hal itu dengan sepenuh hati. Ia hanya bicara saat marah padaku saja. Dia pasti akan mencabut kata-katanya setelah aku bicara dan minta maaf padanya nanti."


"Kenapa anda begitu terlihat sangat yakin kalau nona Yola akan menarik kata-katanya, tuan muda? Apa anda tidak lihat betapa marahnya nona Yola pada anda barusan? Karena anda adalah kakak yang tidak punya hati. Bukannya membela adikmu yang jelas-jelas korban, tapi malah membela orang yang sudah menyakiti adikmu sendiri. Benar-benar kasihan nona Yola."


"Tapi ... aku lebih kasihan padamu lagi dari pada pada adikmu. Dia adalah perempuan yang sangat pintar dan sangat teliti. Tidak seperti kamu, punya mata tapi tidak bisa melihat dengan baik. Mana yang baik dan mana yang buruk saja tidak bisa kamu bedakan. Lebih memilih membela pengkhianat dari pada keluarga. Pantasnya kamu ini langsung di depak dari keluarganya saja."

__ADS_1


Selesai bicara seperti itu, Leo beranjak ingin meninggalkan Dewa dan Hanas. Sementara Dewa, ia terlihat diam dengan wajah penuh tanda tanya. Ia berusaha terus mencerna setiap kata yang Leo ucapkan barusan. Kata pengkhianat, korban, menyakiti, terus saja memutar di benaknya saat ini. Sampai pada akhirnya ....


"Tunggu!" Dewa berteriak mencegah langkah kaki Leo untuk terus melangkah.


Leo mengikuti apa yang Dewa inginkan. Berhenti melangkah, lalu memutar tubuh untuk melihat Dewa dan Hanas kembali.


"Apa lagi? Apa anda masih belum puas berdebat dengan aku? Jika iya, maaf, aku sudah tidak bisa menemani anda berdebat lagi. Karena aku masih banyak urusan untuk aku selesaikan."


"Katakan padaku apa maksud dari ucapan kamu barusan itu!"


"Ucapan yang mana, hm?"


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi di sini! Dan, ada apa dengan Yolan sebenarnya!"


"Kak Dewa. Ayo kita pergi saja, kak! Aku merasa .... "


"Diam Hanas! Aku ingin bicara dengan dokter ini sekarang. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Aku bilang diam!"


Hanas kaget bukan kepalang. Untuk pertama kalinya, Dewa bicara dengan nada tinggi padanya. Selama ini, Dewa adalah laki-laki yang selalu bicara dengan nada lemah lembut pada dirinya.


"Kak Dewa .... " Hanas berusaha mengeluarkan senjata andalan miliknya. Yaitu, menangis dengan wajah penuh kesedihan dan tersiksa.


"Hanas!"


Ternyata, kali ini senjata itu tidak berguna. Dewa sama sekali tidak terpengaruh oleh senjata itu. Membuat Hanas mati kutu dan harus bersikap pasrah tanpa bisa melakukan apa-apa selain diam.


"Dokter Leo, cepat katakan apa yang terjadi! Kenapa kamu malah diam saja, hah!"

__ADS_1


"Hei! Aku diam karena wanita kamu ini berisik. Masa aku juga harus ikut-ikutan berisik?"


"Jangan banyak bicara lagi dokter. Cepat katakan apa yang terjadi!"


"Kenapa baru sekarang kamu menanyakan apa yang terjadi di sini? Kenapa tidak dari tadi saja, hah? Tapi karena kamu terlihat sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi, maka aku akan menjelaskan semuanya."


"Kamu tahu, nona Yola alergi obat?"


"Dia alergi karena perempuan yang ada di sampingmu saat ini. Aku sudah menulis resep obat yang baru, tapi dia malah tetap menebus obat dengan resep yang pertama aku tulis. Padahal dia tahu, kalau aku menulis ulang resep obat karena nona Yola tipe orang yang punya kulit sensitif."


"Itu bukan salah aku, dokter Leo. Kamu tidak bisa menyalahkan aku karena obat yang aku terus. Bukankah .... "


"Bukankah apa? Kamu meminta resep obat pertama padaku dengan dalih untuk membuangnya ke tong sampah, bukan? Tapi sayangnya, kamu malah membuang resep obat yang kedua dengan menggantikan resep obat yang pertama ke dalam saku bajumu. Apakah itu kebetulan? Atau ... kamu sengaja."


"Kak Dewa. Ini tidak bisa membuktikan aku yang bersalah. Setiap orang punya kelemahannya masing-masing bukan. Bisa saja, itu karena aku tidak sengaja membuang yang kedua, tapi malah menyimpan yang pertama. Iyakan?"


"Anggap saja kamu tidak sengaja di sini. Untuk tidak memperpanjang masalah, anggap saja kamu diberhentikan karena keteledoran kamu dalam bekerja."


Leo langsung beranjak setelah berucap kata-kata itu. Dia sudah sangat bosan berada di ruangannya ini. Karena ada dua orang yang menurutnya, begitu membuat hatinya merasa kesal.


Sekarang, tinggal Dewa dan Hanas di dalam ruangan Leo. Dewa yang masih terdiam mematung, dengan tatapan yang melihat lurus ke depan.


"Kak Dewa."


"Katakan padaku, Hanas! Apa alasan kamu melakukan itu pada Yolan? Apa karena kamu marah padanya?"


"Kak Dewa ngomong apa sih? Aku tidak marah atau punya niat apapun pada nona Yola. Itu terjadi karena ketidaksengajaan dan mungkin benar yang dokter Leo katakan, aku teledor dalam menjalankan tugas. Aku .... " Hanas menangis dengan perasaan yang ia buat sangat sedih. Padahal sebenarnya, itu hanya pura-pura.


"Jangan menangis, Hanas. Aku tidak ingin menyelesaikan masalah ini dengan air mata. Kamu sudah membuat aku kecewa sekarang. Demi kamu, aku rela marah-marah pada Yolan. Karena kamu, aku dan Yolan bertengkar. Paham!"

__ADS_1


"Kak Dewa ... kamu ... kamu menyalahkan aku atas apa yang telah terjadi?"


__ADS_2