
Plak! Hanas tidak tahan lagi. Ia memberikan sebuah tamparan ke wajah Dewa.
"Cukup, kak Dewa. Cukup! Jangan jelaskan semua yang hanya akan semakin membuat hatiku menjadi sakit. Jika kamu benar-benar mencintai perempuan lain, maka aku akan lenyap kan perempuan. Camkan apa yang aku katakan!"
Selesai bicara seperti itu, Hanas langsung berlari meninggalkan Dewa. Sedangkan Dewa, ia berusaha menangkap Hanas. Namun sayangnya, dia kalah cepat. Hanas sudah keburu menjauh dari jangkauan tangannya.
"Tunggu Hanas! Perempuan gila! Tunggu kamu. Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti adikku lagi."
Hanas tidak menghiraukan apa yang Dewa katakan lagi. Yang ia lakukan adalah, melarikan diri sejauh mungkin dari Dewa mumpung tidak ada orang lain di sana selain mereka berdua.
Tapi sayangnya, Hanas tidak tahu satu hal. Di tempat itu bukan hanya ada mereka berdua. Melainkan, ada seseorang yang sedang mendengar, juga merekam pembicaraan mereka.
Hanas terus berlari hingga ia tidak kuat lagi. Ia pun terpaksa menghentikan langkah kakinya.
"Huh ... semoga saja dia tidak mengejar aku sampai ke sini." Hanas berucap sambil memegang dadanya dengan napas yang terengah-engah.
Sayup-sayup ia mendengar pembicaraan yang datang dari depan ruangan tempat ia berhenti. Ia mendongak untuk melihat ruangan tersebut. Di depan pintu ruangan itu tertulis nama dokter Leo.
Karena rasa penasaran, Hanas semakin mendekat ke pintu. Lalu, menempelkan kupingnya di pintu itu untuk mendengar dengan lebih jelas pembicaraan orang yang ada di dalam.
Dokter Leo sedang membahas soal undangan ulang tahun Yola pada susternya. Ia juga mengatakan posisi acara ulang tahun di adakan.
"Jadi, wanita jahat itu akan mengadakan pesta ulang tahun di desa Mekar?" tanya Hanas pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, senyum manis terkembang di bibir Hanas. Karena ide jahat muncul secara spontan dalam benaknya barusan.
"Baiklah. Aku akan buat pesta ulang tahun ini sebagai pesta terakhir buat kamu, Yola. Nikmati saja keberhasilan kamu mendapatkan apa yang telah aku punya."
______
Dua hari kemudian, semua keluarga Aditama berangkat menuju desa Mekar dengan jet pribadi milik opa David. Desa itu geger karena kedatangan jet pribadi yang sangat jarang bahkan tidak pernah sama sekali muncul secara langsung di desa mereka.
__ADS_1
Para warga berkerumun menyaksikan kedatangan jet itu yang penumpangnya tak lain adalah pewaris dari ladang bunga yang tersohor di seluruh kota. Mereka bahagia, karena setelah puluhan tahun, akhirnya bisa melihat si pewaris secara langsung.
Dari sekian banyak warga yang berkerumun, kakek adalah orang yang paling tak percaya dengan apa yang matanya lihat. Dia mematung ketika melihat Kania yang turun dari jet itu.
Perlahan, buliran bening jatuh tanpa bisa ia cegah. Buliran itu semakin turun dengan cepat ketika melihat Kania berjalan menghampirinya.
"Ka ... Kania."
"Papa." Berat untuk diucapkan, tapi terasa ringan setelah ia ucapkan.
Mendengar Kania memanggil namanya dengan sebutan papa lagi. Burhan segera memeluk tubuh itu dengan erat.
Untuk beberapa saat lamanya, mereka terdiam dengan posisi saling peluk satu sama lain. Hingga akhirnya, suara Yola membuyarkan dan membuat pelukan itu berakhir.
"Mama ... Kakek. Kalian ... kalian saling kenal?" tanya Yola kebingungan.
"Yo--Yola. Maafkan mama. Mama tidak pernah menceritakan soal kenangan masa lalu padamu selama ini. Dia ... dia adalah kakek kandung kamu. Orang tua kandung mama."
Kania mengangguk dengan air mata yang membasahi pipi.
"Maafkan mama yang tidak sempat bercerita padamu tentang semua ini."
Yola tidak ingin mendengarkan lagi apa yang mamanya katakan. Ia langsung saja menghambur ke dalam pelukan kakek Burhan dengan cepat. Kakeknya membalas pelukan itu dengan penuh kasih sayang.
Setelah saling melepas kerinduan masing-masing, dan bercerita soal segala yang telah mereka lewati. Akhirnya, rombongan yang Brian bayar untuk menyiapkan dekor seadanya pun samai juga. Mereka langsung mengerjakan tugas mereka menghias rumah itu untuk merayakan pesta ulang tahun Yola.
Sementara itu, Yola pergi jalan-jalan berkeliling ladang sendirian. Sedangkan yang lainnya, sibuk menyiapkan apa yang perlu mereka siapkan.
Mengetahui Yola sedang sendirian, Dewa tidak ingin melewati kesempatan itu. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan mereka. Kebetulan tempat yang mendukung, ia berharap rencananya akan lancar kali ini.
Dari kejauhan Dewa bisa melihat Yola yang sedang tersenyum sambil mencium bunga mawar pink di bawah pohon ara. Lalu kemudian, Yola berpindah menikmati bunga matahari yang sedang mekar menguning di tanah lapang.
__ADS_1
Saat itulah, Dewa langsung mendekat.
"Yolan."
Seketika, senyuman bahagia yang Yola perlihatkan barusan tiba-tiba menghilang. Kini, wajahnya beralih kesal dengan tatapan tajam seperti hewan yang sedang bertemu musuh.
"Mau apa kak Dewa ke sini?"
"Yolan. Kenapa harus selalu seperti ini sih sikapmu padaku? Bukankah kamu sudah tahu kalau kejadian itu, bukan keinginanku? Aku dijebak oleh perempuan itu, Yolan."
"Oh, kak Dewa dijebak. Aku butuh kak Dewa, kak Dewa malah dijebak oleh orang lain. Oke, aku bisa memaklumi hal itu. Lalu, apakah saat di rumah sakit, kak Dewa juga dijebak oleh perempuan itu, hah? Kak Dewa mati-matian membela dia. Padahal jelas-jelas, dia sudah mencelakai aku, kak."
"Yolan ... saat itu, aku juga masih belum tahu di mana letak permasalahannya. Aku hanya .... "
"Hanya apa? Hanya berusaha membela orang yang kak Dewa cintai? Iya?"
"Yolan. Berikanlah aku kesempatan kedua untuk membuktikan, kalau aku layak kamu percayai. Aku memang salah waktu itu. Tapi sekarang, aku sudah menyadari kesalahanku. Tolong Yolan."
"Aku butuh waktu untuk memperbaiki hatiku, kak Dewa. Jadi tolong, jangan ganggu aku dulu untuk saat ini."
"Baiklah. Aku berikan kamu waktu untuk memperbaiki hatimu juga memaafkan aku. Tapi tolong, jangan buat aku kecewa. Ingat statusmu saat ini. Kamu tidak sendiri. Kamu istri aku."
"Aku sudah lupa kalau aku istri kamu sejak kejadian itu kak Dewa. Aku merasa jijik untuk mengingat status kita sekarang."
Bagai disambar petir rasanya hati Dewa saat mendengar kata jijik yang keluar dari mulut Yola. Sakit perlahan tapi pasti menjalar ke seluruh penjuru hati. Namun, sebisa mungkin ia bersikap tegar.
Sementara itu, Yola beranjak meninggalkan Dewa setelah berucap kata-kata yang sangat menyakitkan buat Dewa barusan. Tapi, kata-kata yang Dewa ucapkan mampu membuat langkah kaki Yola terhenti seketika.
"Apa karena sudah ada orang lain yang mengisi hati kamu sekarang, Yolan? Kalau iya, katakanlah dengan jujur!"
"Itu bukan urusan kak Dewa. Mau ada atau tidak, kak Dewa tidak perlu ikut campur."
__ADS_1
"Jelas aku harus ikut campur, Yolan. Selain kamu adik angkat ku, kamu juga istriku."