
Seketika, suasana mendadak hening saat kata-kata Dewa berakhir. Mata mereka juga saling tatap untuk beberapa saat. Lalu kemudian, mereka segera memalingkan pandangan masing-masing secara bersamaan.
"Segitu bencinya kah kamu sama aku sekarang, Yolan? Sampai kamu tidak ingin duduk di sampingku lagi? Apakah aku benar-benar menjijikkan di mata kamu?"
"Jangan banyak bicara lagi, kak Dewa. Jalankan saja segera mobilnya. Aku ingin segera sampai ke rumah sakit," ucap Yola dengan pandangan yang ia buang keluar.
Dewa menoleh ke arah Yola hanya untuk melihat wajah adik angkatnya. Sakit! Rasa itu terasa sangat jelas dalam hati Dewa sekarang. Karena selama pertemuan mereka, ia tidak pernah diperlakukan sedingin ini oleh Yola. Ia kehilangan senyuman dari wajah cantik itu sekarang.
Semakin ia merasa sakit, semakin kuat pula rasa takut untuk kehilangan. Untuk itu, ia akan berusaha bertahan sekuat mungkin untuk memperbaiki hubungan mereka yang sudah retak.
Dewa lalu mendekatkan dirinya ke Yola yang sedang duduk dengan pandangan ke arah luar. Merasa Dewa yang berada sangat dekat dengan dirinya, Yola segera memalingkan pandangan.
"Kak Dewa apa-apaan sih? Ngapain, hah!"
"Reaksinya kok gitu? Aku cuma ingin memasangkan sabuk pengamannya doang, Yolan. Gak ngapa-ngapain."
"Aku bisa sendiri. Tinggal bilang, udah. Tidak perlu turun yang sekalian."
"Yolan ... kita seperti orang asing sekarang. Biasakan ... aku memang melakukan hal itu jika kita berpergian bersama. Kenapa sekarang kamu jadi mempermasalahkan hal itu?"
"Karena kamu yang menciptakan suasana berbeda di atara kita, kak Dewa. Kamu yang membuat kita menjadi orang asing, tau!"
"Aku memang salah. Untuk itu, maafkan aku. Berikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan itu. Aku mohon, Yolan."
"Kak Dewa ingin aku berikan kesempatan kedua? Lalu ... seterusnya, kak Dewa akan melakukan hal yang sama untuk yang kedua kalinya. Iya, begitu bukan?"
"Yolan .... "
"Jalankan mobilnya atau aku keluar sekarang?"
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan jalankan mobilnya sekarang juga."
Dewa menjalankan mobil itu sesuai keinginan Yola. Mereka lalu meninggalkan vila menuju rumah sakit.
Tidak ada satu katapun yang terucap selama perjalanan. Dewa yang melihat wajah kesal Yola, enggan untuk memulai obrolan walau hanya sepatah kata.
Setelah beberapa lama, akhirnya, mobil sampai di rumah sakit yang ingin Yola datangi. Itu tentu saja rumah sakit yang sama dengan rumah sakit sebelumnya, tempat di mana ia di rawat kemarin.
Yola bergegas turun dari mobil itu. Lalu kemudian, dengan cepat ia melangkah meninggalkan Dewa yang masih berada di dalam mobil.
Dewa membiarkan Yola melakukan apa yang ia ingin lakukan. Karena Dewa sadar, terlalu memaksakan keinginan adalah sesuatu yang tidak baik. Bukannya akan memperbaiki hubungan mereka, tapi malah akan semakin memperburuk.
Dewa memperhatikan ke mana arah tujuan Yola. Ia mengikuti adik angkatnya dari jarak yang agak jauh. Sementara itu, Yola berjalan cepat menuju ruangan seorang dokter. Tentu saja Dewa tahu siapa pemilik dari ruangan tersebut. Siapa lagi kalau bukan, dokter muda, dokter Leo Adriano.
"Ngapain Yola ke ruangan dokter brengsek itu? Mau apa dia?" tanya Dewa pada dirinya sendiri.
Ia percepat langkahnya setelah Yola masuk ke dalam. Kemudian, ia diam di depan ruangan sambil memasang kuping baik-baik.
"Nona, Yola. Kapan datang? Kok datang gak bilang-bilang dulu."
"Baru saja. Gak sempat ngomong. Lagian, mau ngomong lewat apa? Lewat surat, apa lewat angin?"
"Ya Tuhan ... ternyata, kamu masih ngeselin, Nona. Aku kira, saat jadi pasien saja kamu bikin aku kesal. Tapi taunya ... sekarang semakin bertingkah."
"Oh ... tidak! Aku tidak mungkin bertingkah semakin imut dihadapan kamu dokter. Kamu adalah dokter yang paling banyak bicara soalnya. Mana bisa aku bersikap baik padamu.".
Yola dan Leo terus saja bercanda sambil sesekali di selingi dengan tertawa renyah dari keduanya. Hal itu bisa didengar dengan sangat jelas oleh Dewa yang sedari tadi berada di depan pintu.
Entah kenapa, ia begitu merasa kesal dan semakin merasa sakit hati saat mendengar candaan Yola bersama lelaki lain.
__ADS_1
'Kenapa kamu begitu dekat dengan laki-laki lain sementara dengan aku menjauh, Yolan? Aku tahu aku salah. Tapi rasanya sangat sakit sekarang. Bahkan, teramat sakit sampai aku tidak tahan lagi untuk tetap berada di depan pintu ini.'
"Dokter Leo, sebaiknya kamu jangan panggil aku nona lagi. Kamu panggil aku dengan namaku saja. Dengan begitu, obrolan kita akan semakin terasa nyaman."
"Benar juga. Kalau begitu, jangan panggil aku dokter lagi mulai dari sekarang. Panggil saja aku dengan sebutan, kak. Lebih enaknya, kak Leo. Bagaimana?"
Brak! Bunyi gebrakan pintu yang terbuka secara paksa. Di depan pintu itu, berdiri tegak Dewa sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
"Tidak! Yola tidak boleh memanggil orang lain dengan sebutan kakak. Selain aku, maka tidak boleh ada yang dia panggil dengan panggilan kakak. Apa kamu mengerti dokter brengsek!"
Plak! Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Dewa dengan cepat. Dewa lalu memegang pipinya. Dengan tatapan tak percaya, ia tatap Yola yang berada dihadapannya saat ini.
"Yolan ... kamu tampar aku lagi karena dia? Apa begitu pentingkah dia sekarang bagi kamu?"
"Penting atau tidak, itu bukan urusan kak. Aku tidak ingin kak Dewa ikut campur urusan aku mulai dari sekarang."
"Tuh, dengar gak? Dia gak mau kamu ikut campur urusan dia. Lagian, kamu ini tipe laki-laki yang rakus ya ternyata. Kemarin kamu sibuk bela suster yang jelas-jelas salah. Sekarang, kamu malah marah-marah lagi padaku hanya karena aku minta dia panggil aku kakak. Mau kamu itu apa sih sebenarnya?"
"Jangan banyak bicara. Kamu tidak tahu urusan orang, maka jangan ikut campur."
"Yolan, ayo pulang! Aku ingin bicara dengan kamu di rumah," ucap Dewa sambil memegang erat tangan Yola.
"Kak Dewa apa-apaan sih? Lepaskan tanganku sekarang juga! Aku tidak ingin pulang."
"Pulang, Yolan! Aku ingin bicara!" Dewa bicara dengan nada tinggi sambil terus memegang tangan Yola.
"Kak Dewa! Kamu egois! Kami jahat! Kamu hanya mementingkan perasaan kamu dan tidak pernah memikirkan apa yang aku rasakan. Aku semakin benci padamu, kak Dewa!"
Yola bicara dengan nada tak kalah tinggi dari nada bicara Dewa sebelumnya. Tentu saja dengan disertai air mata yang mengalir secara perlahan dari kedua mata sayu nya.
__ADS_1
Perlahan, genggaman itu melonggar dan akhirnya, terlepas. Dewa melemah dengan tatapan semakin bersalah. Sementara Yola, ia segera meninggalkan ruangan tersebut setelah Dewa melepaskan genggaman dari tangannya.