I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 48


__ADS_3

"Ka ... kamu benci aku, Yolan?"


"Tidak! Jangan lakukan itu."


"Tentu saja dia benci kamu, tuan muda. Secara, kamu sudah sangat melukai hatinya yang tulus mencintai kamu. Kamu bela perempuan yang jelas-jelas telah mencelakai dia."


"Semua orang juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang Yola lakukan sekarang. Membenci kamu dengan sebenci-bencinya. Kalau perlu, melupakan kamu untuk selama-lamanya."


Tidak ada kata yang bisa Dewa ucap untuk melawan kata-kata dari dokter Leo. Karena saat ini, benaknya membenarkan apa yang dokter itu katakan.


Sementara itu, Yola yang berada di taman, disusul Zaka yang kebetulan melihat gadis itu dari kamar mamanya.


"Hei! Menangis lagi menangis lagi."


"Kak Zaka."


"Ada masalah apa lagi sih hari ini? Kenapa kamu bisa menangis lagi? Tunggu! Kamu panggil aku apa barusan? Kak Zaka? Benarkah?"


"Jangan ngelawak kak Zaka. Jelas-jelas gak lucu."


"Aku gak ngelawak nona cantik. Aku benar-benar kaget dan tak percaya saat kuping ini mendengar kata kak Zaka yang kamu ucapkan."


"Sekarang sudah tidak kaget lagi bukan?"


"Tentu saja ... masih."


"Ih, kak Zaka. Apakah kamu juga berniat untuk membuat hatiku kesal sekarang?"


"Tidak-tidak. Tentu saja tidak, Yola."


"Hm ... kebetulan kamu ada di sini sekarang. Apakah aku boleh minta sesuatu padamu kali ini? Untuk kali ini saja, Yola? Bolehkah?"


"Mau minta apa padaku? Katakanlah! Jika aku bisa, maka aku akan berikan dan lakukan permintaanmu itu."


"Aku ingin kamu bertemu dengan mamaku. Dia sangat ingin bertemu kamu, nona penyelamat."


"Bertemu mamamu?"

__ADS_1


"Iya. Dia ingin bertemu dengan kamu setelah aku bercerita padanya semua tentangmu. Dia sudah minta bertemu sejak kemarin. Tapi aku menangguhnya. Aku takut kalau kamu tidak bersedia bertemu dengan mamaku."


"Siapa bilang aku tidak bersedia, kak Zaka. Ayo kita ke kamar rawat mamamu sekarang juga!"


"Be--benarkah kamu bersedia bertemu dengan mamaku, Yola?" tanya Zaka dengan wajah yang sangat bahagia.


"Tentu saja. Sebenarnya, aku juga ingin bertemu mamamu sejak kemarin. Tapi, kesibukan yang aku miliki membuat niat itu terhalang."


"Ya sudah kalo gitu, ayo ke kamar mamaku sekarang juga!"


Mereka berdua segera beranjak menuju kamar rawat mama Zaka. Kamar itu terletak di lantai dua rumah sakit tersebut.


Ketika ingin naik lift untuk pergi ke lantai dua, mereka berpas-pasan dengan Dewa yang kebetulan baru turun ke lantai dasar. Mata Dewa kembali melotot melihat Yola yang tersenyum saat bicara dengan Zaka.


Rasa sakit tidak bisa ia pungkiri saat Yola lagi-lagi mengabaikannya. Ia seperti orang asing di mata Yola sekarang. Tidak ada tegur sapa sama sekali saat bertemu. Jangankan tegur sapa, melirik sedikit saja tidak.


"Ayo cepat, kak Zaka! Masuk!" Yola mendorong tubuh Zaka saat Zaka terdiam melihat Dewa.


"Ah, iya-iya."


Pintu lift pun tertutup ketika mereka berdua masuk ke dalam. Sementara Dewa, ia terdiam mematung di depan lift. Ingin rasanya ia menarik tangan Yola untuk memisahkan antara Yola dan Zaka. Tapi, ia tidak bisa melakukan hal itu. Karena itu akan membuat hubungannya dengan Yola semakin buruk nantinya.


Sementara di dalam lift, Yola terdiam mematung. Sebenarnya, ia juga merasakan hal. yang dengan yang Dewa rasakan. Rasa sakit akibat berjauhan. Juga rasa tidak nyaman saat bertemu bak orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain.


"Yola." Zaka memanggil sambil menyentuh pelan pundak perempuan yang ada di sampingnya sekarang.


"Eh, iya." Sebisa mungkin ia tarik senyum tipis dari sudut bibir. Walaupun rasanya sangat hambar.


"Kenapa diam?"


"Tidak ada."


"Hm ... maaf sebelumnya. Aku tidak berniat ikut campur dalam urusan kalian. Tapi ... apakah tidak sebaiknya kalian berdua saling bicara, Yolan? Aku lihat, kalian berdua sepertinya sama-sama terluka."


"Kak Zaka tidak tahu apa masalah kami sebenarnya, bukan? Bicara dengan kak Dewa itu sangat sulit buat aku, kak."


"Aku memang tidak tahu titik permasalahan kalian yang sesungguhnya, Yola. Tapi, sebagai sesama laki-laki, aku paham apa yang tuan muda rasakan. Dia sedang berusaha menahan rasa sakit dalam hatinya."

__ADS_1


"Biarkanlah dia menahan rasa sakitnya sendiri. Karena di sini, bukan hanya dia saja yang sedang menahan rasa sakit. Aku juga."


"Aku heran pada kalian berdua. Adik kakak kok bisa bertengkar hebat seperti ini. Yang paling membingungkan itu lho, sebabnya. Kalian bertengkar hebat hanya karena seorang perempuan yang jelas-jelas orang lain."


"Dia bukan orang lain, kak Zaka! Perempuan itu orang yang kak Dewa cintai."


"Lho, apa yang salah jika kakakmu mencintai perempuan lain, Yola? Bukankah wajar dia punya cinta dalam hidup. Itu tandanya, kakakmu normal sebagai laki-laki."


"Hah? Wajar? Normal? Yang benar saja kalau bicara."


Ting ... pintu lift terbuka membuat perhatian keduanya teralihkan. Zaka yang merasa aneh, kini tidak menghiraukan lagi apa yang dia rasakan sebelumnya.


"Ayo, Yola! Kita sudah sampai. Kamar rawat mamaku ada di depan sana." Zaka berucap sambil mengarahkan tangannya menunjuk kamar yang ada di depan mereka.


Segera mereka meninggalkan lift. Berjalan cepat menuju kamar yang berada di depan mereka sekarang.


Zaka langsung membuka pintu kamar ketika mereka telah sampai di kamar tersebut.


"Mama ... aku kembali bersama seseorang," ucap Zaka dengan senyum manis di bibirnya.


"Tumben cepat kembali, Nak. Seseorang siapa?" tanya perempuan paruh baya dengan suara berat.


"Ini dia."


Yola muncul dari belakang Zaka yang kekar. Sambil memperlihatkan senyum manis, ia berjalan berdampingan dengan Zaka mencapai ranjang yang di mana mama Zaka sedang duduk.


"Siapa dia, Zaka?" tanya wanita itu sambil memperhatikan Yola dengan tatapan sayu.


"Dia adalah ... nona Yola. Orang yang sudah membantu kita kemarin."


Dengan wajah kaget, mama Zaka langsung menutup mulutnya menggunakan satu tangan. Air mata pun tumpah perlahan melintasi wajah pucat nan tua itu.


"Ma, ada apa? Kenapa mama malah menangis, Ma? Bukankah mama sendiri yang minta aku pertemukan dia dengan mama?"


Zaka terlihat panik ketika mamanya menangis. Sedangkan Yola, ia hanya bisa melihat ibu dan anak itu dengan tatapan kebingungan.


Bukannya menjawab apa yang Zaka tanyakan, mama Zaka malah terus menatap Yola dengan air mata yang semakin mengalir deras.

__ADS_1


"Kamu ... kamu anak dari keluarga Aditama?" tanya mama Zaka dengan nada kaget sampai suara bergetar.


Yola hanya bisa mengangguk dengan perasaan bingung. Ia sungguh bingung dengan apa yang telah terjadi. Khususnya, saat ia bertemu dengan orang-orang yang ada di sekitar Zaka.


__ADS_2