I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 51


__ADS_3

"Aku gak jadi tinggal, Ma. Aku ikut," ucap Dewa sambil ikut beranjak.


Kania hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya. Terkadang, keduanya secara tidak langsung membuat hati Kania merasa gemes juga geli. Saling cinta, tapi tidak saling jujur dengan perasaannya. Ada pula yang jujur, namun ketika ada masalah, malah tidak ingin mempercayai hati tapi malah mempercayai mata.


Akhirnya, setelah melewati beberapa kamar, mereka tiba juga di depan kamar mama Zaka.


"Nah, mama, papa. Ini kamar mama Zaka."


"Langsung masuk aja, yuk! Mama pasti sudah menunggu."


"Ayo, kak Zaka."


Zaka lalu membuka pintu kamar rawat itu dengan penuh semangat.


"Ma, lihat siapa yang aku bawa ke kamar mama."


Kania dan Brian langsung masuk ke dalam kamar tersebut. Seketika, tatapan mata mereka bertemu. Senyum yang Kania suguhkan sebelumnya, lenyap seketika saat ia melihat siapa yang sedang terbaring di atas ranjang itu.


Sementara mama Zaka. Ia menatap Kania dengan tatapan tak percaya. Anak sungai yang mulai membendung, seketika tumpah ruang mengalir melintasi pipi, bak air terjun yang jatuh dari ketinggian.


"Kak ... kak Kania. Kamu ... kamu datang, kak."


Suara lemah yang terdengar parau, kini hampir tidak terdengar ketika berbaur dengan tangisan. Tangannya berusaha menggapai orang yang jauh di depan pintu. Niat hati mau memeluk, tapi tidak bisa karena terhalang kondisi.


"Kak ... maafkan aku. Zaka ... turunkan mama."


"Ada apa ini, Ma? Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Jangan banyak tanya Zaka. Cepat turunkan mama."


"Dokter melarang mama menggunakan kursi roda dalam waktu dekat. Jadi mama tidak bisa .... "


"Zaka! Tolong. Turunkan mama!"


"Ma .... " Yola melihat Kania dengan tatapan bingung sekaligus mengiba. Ia tidak sampai hati melihat mama Zaka yang sedang berusaha ingin menggapai mamanya.

__ADS_1


"Tidak perlu turun, Zara. Aku yang akan menghampiri kamu," ucap Kania dengan nada pelan.


"Sayang, kamu yakin?" Brian terlihat khawatir dengan niat Kania.


Kania tidak menjawab dengan kata-kata. Melainkan, hanya menjawab dengan tatapan saja. Brian memahami maksud dari tatapan itu, ia pasrah dengan apa yang ingin Kania lakukan.


Kania lalu berjalan mendekat ke ranjang. Zara pun segera menjangkau tubuh awet muda itu. Ia peluk tubuh itu dengan penuh penyesalan.


"Kak ... akhirnya, Tuhan dengar doa aku. Aku kembali bertemu dengan kamu setelah sekian lama kita berpisah. Aku hanya ingin minta maaf padamu, kak. Tolong kak Kania maafkan aku. Aku mohon .... "


Perlahan, hati keras yang sebenarnya lembut itu akhirnya meleleh juga. Kania mengangkat tangan dengan perasaan ragu-ragu. Lalu kemudian, ia belai rambut kusut yang tidak terurus itu.


"Lupakan ... lupakan apa yang telah terjadi di masa lalu, Zara. Aku sudah memaafkan kamu. Jadi, kamu tidak perlu merasa bersalah lagi padaku mulai dari detik ini."


"Kak ... terima kasih banyak."


"Sudahlah. Jangan dibahas lagi." Kania lalu melonggarkan pelukannya. Ia ulas senyum manis sambil melihat wajah Zara.


"Semua yang terjadi sudah takdir, Zara. Lihatlah! Aku sudah sangat amat bahagia dengan kehidupanku selama ini."


"Jangan bicara seperti itu, Zara. Yang kamu alami mungkin cobaan, bukan karma."


"Oh ya, bagaimana keadaan mama Salma? Apa dia baik-baik saja?"


Zara tertunduk lemah.


"Mama ... mama sudah tiada, kak. Ia bunuh diri di dalam penjara setelah dikurung selama lima tahun. Mungkin, mama tidak kuat bertahan di sana. Hukuman seumur hidup itu sangat berat buat dia."


"Mama sudah tiada karena bunuh diri?"


"Iya, Kak. Tapi, itu mungkin takdir terbaik untuk mama. Tentunya, takdir yang mama pilih sendiri."


"Maafkan aku, Zara. Aku yang mungkin menjadi penyebab semua ini."


"Tidak! Bukan kamu yang menjadi penyebab semuanya, kak. Tapi aku dan mama. Kami pantas mendapatkan semua ini karena perbuatan kami di masa lalu. Perbuatan .... "

__ADS_1


Zara tidak bisa melanjutkan apa yang ingin ia katakan. Karena saat ingat kejahatan yang sudah ia perbuat di masa lalu, hatinya mendadak malu. Perasaan menyesal menghampiri menyelimuti segenap jiwa dan raga.


"Zara, sudah. Lupakan semuanya. Bukankah semua itu sudah berlalu?"


"Oh ya, apakah itu anak kalian?" tanya Kania berusaha mengalihkan pokok pembicaraan mereka dengan menanyakan Zaka.


"Iya, kak. Itu anakku. Keluarga satu-satunya yang aku punya. Hanya dia yang menganggap aku ada di atas muka bumi ini."


"Maksud kamu apa dengan keluarga satu-satunya? Apa yang terjadi dengan rumah tangga kalian? Di mana kak Dafa."


"Rumah tangga ku hancur, kak Kania. Kehidupanku berantakan setelah menikah."


"Mak--maksud kamu?"


Zara kembali menundukkan kepalanya.


Lalu, ia menceritakan semua yang terjadi setelah dia menikah dengan Dafa. Tentunya, dengan air mata yang tak kunjung mereda.


Setelah ia keluar dari rumah sakit, kehidupannya berubah total. Dafa yang ia pikir penuh kehangatan, ternyata laki-laki bengis yang tidak punya hati. Belum lagi kedua orang tua Dafa yang sepenuhnya menyalahkan dia. Menganggap dirinya perempuan pembawa sial yang datang mengutuk keluarga mereka.


Dia pun diperlakukan dengan semena-mena setiap saat di rumah gubuk yang tak layak huni itu. Setiap saat makan hati, setiap saat bergelimang air mata.


Perlahan, sikap brengsek Dafa semakin terlihat. Bukannya semakin membaik, malah semakin memburuk. Setiap hari kerjaannya hanya keluyuran dan malahan, sibuk dengan judi dan mabuk-mabukan.


Zara terpaksa harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Apapun yang dapat ia kerja, ia coba kerjakan. Sebisa mungkin, ia berusaha mengerjakan pekerjaan yang tidak pernah ia kerjakan sebelumnya. Alhasil, ia pula yang dijadikan tulang punggung di dalam keluarga itu.


Tepat suatu malam, Dafa pulang sambil sempoyongan karena mabuk. Tanpa sadar, ia pun menyentuh Zara untuk yang pertama kalinya. Dan seterusnya, Zara jadi pelampiasan dikala ia dalam keadaan masuk.


Beberapa bulan setelah itu, Zara pun akhirnya hamil. Bukannya senang, Dafa malah semakin membenci Zara. Ia menuduh Zara memanfaatkan dirinya yang sedang mabuk.


Mirisnya, kedua orang tua Dafa malah ikut serta menyalahkan Zara. Semakin bertambah lah penderitaan Zara dengan perlakuan mereka itu.


Tapi, Zara tidak putus asa. Ia ingat bagaimana Kania berhasil melewati masa sulit dengan sangat baik. Itu menjadi sebuah kekuatan buat Zara. Ia pun semakin bersemangat menjalani hidupnya yang terlalu miris itu.


Sembilan bulan pun ia lalui dengan penuh duka, karena hampir tidak ada suka di dalamnya. Akhirnya, ia pun melahirkan anak dengan jalan operasi.

__ADS_1


Setelah anak itu lahir, ia kembali merasa kecewa dengan harapnya yang tidak menjadi kenyataan. Karena Dafa dan keluarganya sama sekali tidak mengganggap anak itu ada.


__ADS_2