I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 17


__ADS_3

Yola merasa kepalanya bagai dipukul dengan benda keras, ketika Dewa menyebut nama Hanas sambil melihat ke arah suster yang sedang berdiri tegak di depan pintu ruangan tersebut. Di tambah, tatapan sayu penuh cinta itu Dewa perlihatkan sambil melihat suster tersebut.


"Kamu sudah baik-baik saja, Hanas?" tanya Dewa sambil bagun dari duduknya.


"Aku ... aku seperti yang kak Dewa lihat sekarang. Sudah baik-baik saja dan sudah bisa memulai pekerjaan." Hanas bicara dengan nada bahagia. Berbeda dari Hanas yang Dewa jumpai beberapa hari yang lalu.


"Syukurlah kalo gitu," ucap Dewa sambil berniat untuk mendekat. Ia bahkan melupakan keberadaan Yola di dalam ruangan tersebut.


Melihat hal itu, Yola tidak ingin tinggal diam. Bagaimanapun, Dewa itu adalah suaminya. Orang yang ia cintai dengan sepenuh hati. Rasa sakit jangan ditanya lagi. Sudah pasti bersarang dalam hati Yola saat ini. Tapi, ia berusaha menahan rasa sakit itu sekuat tenaga agar tidak dilihat oleh siapapun.


"Aduh!" Yola berteriak keras sambil memegang tangannya.


Seketika, semua perhatian orang yang ada di sana terpusat kan pada Yola. Dewa yang ingin mendekati Hanas, kini ikut membatalkan niatnya itu. Bergegas, ia menghampiri adik angkatnya dengan wajah panik.


"Ada apa, Yolan? Ada apa? Apa yang sakit?" tanya Dewa dengan nada panik.


"Ya Tuhan! Nona kecil kenapa lagi ini?" tanya bu Erni juga ikut memasang wajah panik.


"Dokter! Panggilkan dokter!" ucap Dewa dengan nada tinggi.


"Hanas! Tolong panggilkan dokter!"


Hanas yang terdiam di depan pintu, mau tidak mau terpaksa menyeret kaki meninggalkan ruangan tersebut. Wajah panik Dewa membuat hatinya tersayat-sayat sakit bukan kepalang.


Meskipun ia awalnya berniat membalas sakit hati itu dan berniat menghapus rasa cinta untuk Dewa. Tapi tetap saja, hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Cinta tidak gampang dilupakan.


"Yolan. Katakan padaku apa yang sakit?" tanya Dewa sambil membelai pelan rambut Yola yang sedang menundukkan wajahnya sambil terus memegang tangan kiri yang terbalut perban.


"Perih dan panas, kak Dewa. Auh, sakit sekali." Yola berucap dengan wajah sedih.


"Tahan, Yolan. Tahan sebentar saja lagi."

__ADS_1


"Sini-sini, biar aku tiup-tiup kan agar rasa panas itu bisa sedikit mereda," ucap Dewa sambil memegang tangan Yola dengan lembut.


Lalu kemudian, ia meniup-niupkan tangan Yola dengan penuh kasih sayang. Sejujurnya, ia sangat menyayangi adik angkatnya ini. Bagaimana tidak, sejak kecil, ia jaga dengan sepenuh hati. Selalu berusaha membuat Yola bahagia bagaimanapun caranya. Selalu mengalah jika ada masalah. Dan selalu menerima masalah yang Yola buat. Mengakui kesalahan yang Yola buat adalah kesalahannya.


Hanya saja, saat rasa sayang sebagai adik itu diubah dengan pernikahan. Ia merasa sangat sulit untuk menerima kenyataan itu. Karena rasa sayang yang ada dalam hatinya, sudah tertulis sayang sebagai adik. Bagaimana bisa ia mengubah hal itu?


Tapi, sesungguhnya, pernikahan itu tidak akan ia laksanakan jika Yola juga tidak setuju. Pernikahan itu terjadi, dan masih ia pertahankan, karena ia tahu, Yola menerima pernikahan itu dengan sepenuh hati. Bahkan, Yola bahagia dengan pernikahan itu.


Hanas pun datang kembali bersama seorang dokter. Dokter yang sebelumnya merawat tangan Yola.


Melihat kedatangan dokter tersebut, Dewa segera meminta sang dokter untuk memeriksa keadaan tangan adiknya. Tentunya, dengan wajah cemas dan nada panik.


"Dokter tolong! Tolong periksa keadaan Yolan, Dok!" ucap Dewa sambil memegang erat bahu dokter tersebut.


"Sabar-sabar. Tolong tenang dulu. Biar saya periksa kembali tangannya."


"Lakukan yang terbaik, Dok. Tolong adik saya."


Dokter itupun memeriksa kembali tangan Yola. Mengulangi hal yang sebenarnya tidak perlu ia lakukan. Karena sebenarnya, tangan Yola sudah baik-baik saja. Alias, Yola hanya pura-pura sakit karena ingin diperhatikan oleh Dewa.


"Sepertinya, tangan nona ini sudah tidak apa-apa. Sudah baik-baik saja," ucap dokter itu sambil beranjak meninggalkan Yola.


"Benarkah? Apakah yang dokter katakan itu benar?"


"Tentu saja, iya. Karena saya sudah banyak menangani kasus serupa dengan yang nona ini alami. Bahkan, ada yang lebih parah lagi. Dia sudah baik-baik saja. Tinggal menunggu sembuh saja."


'Dokter sialan! Bisa-bisanya ia berkata seperti itu pada kak Dewa,' kata Yola dalam hati dengan wajah kesal.


"Iya kak Dewa. Dilihat dari perbannya saja sudah bisa ditebak, kalau cederanya gak parah. Cuma cedera ringan saja. Kak Dewa gak perlu sepanik itu. Dia gak akan kenapa-napa kok, kata Hanas pula menambahkan dengan nada ejekan.


"Yolan itu tidak sama dengan perempuan pada umumnya, Hanas. Kulitnya terlalu sensitif. Makanya, aku merasa sangat cemas barusan."

__ADS_1


Seketika, wajah bahagia Hanas berubah kesal kembali. Sedangkan Yola, ia begitu bahagia dapat pembelaan secara terang-terangan oleh Dewa.


"Oh, pantas saja kak Dewa begitu cemas. Ternyata kulit adiknya begitu sensitif," ucap Hanas dengan menekankan kata adiknya saat ia ucapkan.


Terasa kesal dalam hati Yola ketika mendengar Hanas mengatakan hal itu.


'Ini orang maunya apa sih? Ngajak perang beneran?' tanya Yola dalam hati dengan tatapan tajam ke arah Hanas.


"Oh ya, apakah resep obat tadi sudah kamu berikan, suster?" tanya dokter itu memecah obrolan Hanas dengan Dewa.


"Maaf, Dok. Belum."


"Kalau belum, berikan padaku. Ada obat yang harus aku ganti. Karena jika nona ini punya kulit yang sensitif, maka ada beberapa obat yang tidak boleh dia minum."


"Ini, Dok." Hanas menyerahkan resep yang ia genggam sedari tadi.


"Ayo ikut aku! Kamu ambil sekalian obat untuk nona ini," kata dokter itu pada Hanas.


Hanas merasa kesal. Tapi, ia tidak bisa menolak apa yang dokter itu katakan. Karena sebagai suster magang, dia tidak punya keberanian untuk melawan, apalagi bikin ulah di rumah sakit ini. Jika tidak ingin impiannya menjadi suster pupus begitu saja.


Hanas lalu mengikuti dokter tersebut ke ruangannya. Setelah menulis ulang resep obat untuk Yola, dokter itu langsung meminta Hanas mengambil obat sesuai dengan yang ia telah ia tulis.


Saat itulah, ide jahat untuk menyakiti Yola tiba-tiba saja muncul dalam benak Hanas.


"Dok, biar saja bawa sekalian kertas ini untuk dibuang ke tong sampah," ucap Hanas sambil mengambil resep obat sebelumnya.


"Silahkan. Tapi hati-hati, jangan sampai tertukar."


"Iya, Dok."


'Hati-hati tertukar? Tenang saja, dokter. Tidak akan tertukar. Tapi ... memang sengaja aku tukar iya,' kata Hanas dalam hati sambil tersenyum.

__ADS_1


Hanas lalu mengambil obat yang tertulis dalam resep pertama, sedangkan resep kedua, ia buang ke tong sampah. Sambil tersenyum bahagia penuh kemenangan. Ia membawa obat itu untuk ia berikan pada Dewa.


__ADS_2