
Kasus pertengkaran keluarga Johan yang mengakibatkan Saras meninggal, kini resmi di tutup. Karena meninggalnya Saras, itu bukan karena di bunuh. Melainkan, karena kecelakaan.
Entah bagaimana hal itu bisa terjadi, yang jelas, polisi tidak menyimpulkan ini kasus pembunuhan. Karena menurut polisi, Saras tidak meninggal karena pembunuhan, melainkan, karena kecelakaan yang tidak di sengaja. Saras jatuh dan kepalanya terbentur tembok. Itu menyebabkan dia meninggal. Dan, karena itu pula, kasus kematian Saras di tutup.
Namun, dari kasus keluarga Johan ini, polisi menemukan seseorang yang selama ini mereka cari. Seseorang yang telah menyebabkan kematian atau pembunuhan pada seorang perempuan yang bernama Sulis.
Kasus ini sudah sangat lama. Kematian Sulis karena kecelakaan mobil, namun dengan tangan terikat, membuat semua orang berpikir kalau itu adalah pembunuhan berencana oleh seseorang.
Tapi, kasus itu enggan terpecahkan karena pelaku sangat pintar bersembunyi dan melarikan diri. Sepertinya, pelaku tidak bekerja sendiri melainkan ada orang lain di belakangnya lagi. Di tambah, Sulis yang hanya sebatang kara itu. Tidak ada siapa-siapa yang menuntut balas atas kematiannya yang tidak wajar. Akhirnya, kasus itu diam begitu saja tanpa ada jalan penyelesaian.
Sekarang, kasus itu kembali dibuka karena mereka telah menemukan orang yang selama ini bersembunyi dari kejahatan yang ia perbuat Orang itu adalah, Hanas. Sidik jari yang ada di gunting itu sama persis dengan sidik jari pelaku pembunuhan berencana yang selama ini mereka cari.
"Tidak! Lepaskan aku! Bukan aku yang membunuh perempuan jahat itu," kata Hanas sambil berteriak ketika polisi mendorongnya dengan kursi roda.
"Tapi ... emang aku yang membunuhnya. Ha ... ha ... ha .... " Hanas kini tertawa terbahak-bahak.
"Aku yang membunuh perempuan itu karena dia jahat, tau? Dia telah merebut hati kak Dewa dari aku. Apa bagusnya dia, hah! Anak terbuang tanpa orang tua bisa dicintai orang terpandang seperti kak Dewa. Mana boleh."
"Aku bunuh dia bersama mama .... "
Mendengar kata itu, Johan yang sedari tadi mengikuti polisi dari belakang, segera mencengkram bahu Hanas dengan keras.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan barusan?" tanya Johan berapi-api.
"Johan, tenang." Brian berusaha menenangkan Johan dengan menepuk bahunya.
"Tuan Brian, tenangkan diri anda. Biar nanti kami yang akan mengintrogasi dia lebih lanjut. Apa pun informasi yang kami dapatkan, akan kami sampaikan pada, tuan Johan," ucap polisi itu pula.
"Johan, dengarkan apa yang polisi katakan. Kita terima bersih saja. Lagipula, dia juga tidak ada hubungan darah sedikitpun dengan kamu, bukan?"
Mendengar hal itu, Johan melemah. Ia melepaskan cengkraman tangannya.
"Bawa dia, Pak. Bawa dia segera dan berikan dia hukuman yang setimpal dengan perbuatannya."
"Tenang saja, tuan Johan. Kami akan bertindak sesuai prosedur yang ada."
"Sudahlah. Semuanya sudah terjadi. Tidak ada yang perlu kamu sesali lagi, Johan."
Johan hanya bisa menarik napas panjang. Lalu melepaskan napas itu secara perlahan. Ada beban berat dan berupa penyesalan terbesar dalam hatinya. Yang sampai detik ini, masih belum bisa ia cerna dan lepaskan dari dalam hati.
Sementara itu, Yola berada di kamar saat ini. Ia pulang sebentar dari rumah sakit hanya untuk mandi dan berganti pakaian.
Ketika ia ingin kembali, ia menoleh sesaat untuk melihat kamar Dewa. Kamar di mana dia pernah nginap satu malam karena ingin mengejar cinta kakak angkatnya.
__ADS_1
Ada perasaan kuat yang sekarang sedang mendorong dirinya untuk masuk kedalam kembali. Yola pun tidak ingin melawan. Ia beranjak menuju kamar tersebut dan kembali masuk ke dalam kamar itu.
Saat pintu terbuka, ia bisa melihat semua isi kamar itu. Tidak ada yang berubah, semuanya masih sama. Masih tetap sama seperti sebelumnya.
Namun, ketika melihat bingkai foto yang ada di atas nakas. Mata Yola, membulat. Bingkai foto yang sebelumnya ia lihat bukan seperti yang ada di atas nakas saat ini. Bingkai foto itu sudah berganti.
Yola memegang bingkai foto itu. Air mata tiba-tiba mengalir perlahan tanpa bisa ia cegah. Itu adalah foto saat dia dan Dewa melakukan ijab khobul, tepat di hari ulang tahun Dewa yang ke dua puluh lima. Entah kapan Dewa mengganti foto itu, yang jelas, dia sudah memindahkan foto yang sudah terpanjang hampir lima tahun di atas nakas dengan foto pernikahan mereka.
Lalu, Yola tertarik untuk melihat buku diary yang ada di dalam laci nakas yang sedikit terbuka. Tangannya ringan mengeluarkan buku itu dari dalam laci tersebut. Lalu, ia bawa buku itu duduk di atas ranjang, kemudian membuka buku tersebut secara perlahan.
Tidak terlalu banyak tulisan. Tapi, semua isi dari buku itu mampu membuat Yola tidak berkedip dan merasa begitu tak percaya. Soalnya, Dewa menuliskan kalau dia pernah merasa jatuh cinta pada Yola saat mereka masih kecil. Namun, rasa itu ia bunuh karena tidak ingin jatuh cinta pada adiknya sendiri meskipun adik angkat.
Lalu, dia berpikir kalau usaha mama dan papa mereka, memisahkan mereka dengan membawa Yola ke luar negeri itu karena mamanya tahu, dia sudah punya rasa yang berbeda pada Yola. Karena tidak ingin terus berjauhan, dia belajar membunuh rasa cinta yang ada dalam hatinya.
Setelah berhasil, ia malah di hadapkan kembali dengan suasana sulit. Ternyata, dia dipisahkan bukan karena rasa cinta yang sudah ada, melainkan, untuk menumbuhkan rasa cinta.
Lalu, rasa cinta yang sudah hilang itu membuat ia sulit untuk menemukannya kembali. Karena sekarang, sudah ada orang lain yang mengisi hatinya, mengganti posisi Yola. Namun, orang itu ternyata bukan Hanas, melainkan Sulis.
Ia belajar mencintai Hanas hanya karena rasa belas kasihan. Ia kasihan melihat nasib Hanas yang tidak disukai papanya. Karena Hanas dan Sulis berteman, maka dia juga dekat dengan Hanas.
Terakhir, Yola membaca tulisan yang baru-baru ini Dewa tulis. Dewa menuliskan, kalau tidak sulit untuknya belajar mencintai Yola. Karena dia sama sekali tidak belajar, melainkan hanya mengembalikan rasa yang pernah ada saja. Maka, itu tidak butuh waktu yang lama untuknya menemukan cinta itu.
__ADS_1
"Kak Dewa .... " Yola menangis sambil memeluk buku diary itu. Rasa bersalah kini kembali menyusup ke dalam hatinya.