I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 23


__ADS_3

Entah apa alasannya, bu Erni pun tidak ingin ambil pusing. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah, bagaimana ia bisa membawa nona kecil kesayangannya secepat mungkin bertemu dokter.


"Cepat, mas Mamat! Gendong nona kecil masuk ke dalam."


Tukang kebun itu tidak bicara. Tapi langsung melakukan apa yang bu Erni katakan secepat mungkin. Menggendong Yola keluar dari mobil, lalu bergegas masuk ke dalam untuk menemui dokter.


Karena buru-buru, mas Mamat tidak sengaja menyenggol seorang pemuda yang sedang berjalan perlahan dihadapan mereka. Pemuda itu memutar tubuhnya dengan wajah kesal dan emosi sambil berucap, "apa-apaan sih!"


"Maaf .... "


"Yola!" Pemuda yang tak lain adalah Zaka itupun langsung kaget ketika melihat Yola dengan wajah yang memprihatinkan berada dalam gendongan orang yang menabraknya barusan.


"Kamu!" Bu Erni angkat bicara.


"Kenapa dengan Yola? Apa yang terjadi dengan dia?"


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Sekarang, minggir kamu dari jalan kami karena kami harus segera membawa nona kecil bertemu dokter."


"Biar aku bantu panggilkan dokter agar lebih cepat," ucap Zaka, lalu kemudian segera berlari menuju ruang dokter yang ia kenali. Bu Erni dan mas Mamat mengikuti dari belakang.


Dokter datang dengan langkah tergesa-gesa, karena desakan dari Zaka yang meminta si dokter supaya segera melihat keadaan Yola. Dokter itu adalah dokter yang sama dengan yang sebelumnya. Dokter yang tadi siang merawat Yola. Ia juga masih hafal wajah cantik Yola saat pertama kali melihat gadis itu.


"Ya Tuhan ... sepertinya, dia sedang alergi obat."


"Cepat baringkan dia di sini."


Mas Mamat mengikuti apa yang dokter itu katakan. Membaringkan Yola dia atas ranjang kamar rawat rumah sakit tersebut dengan sangat hati-hati.


"Kalian sebaiknya tunggu di luar. Biar aku periksa keadaanya."


"Tolong biarkan aku di sini, dokter. Biarkan aku menemani nona kecil."


"Maaf, sebaiknya tunggu di luar saja agar aku bisa leluasa menjalankan tugasku dengan baik."

__ADS_1


"Bu, sebaiknya dengarkan apa yang dokter Leo katakan. Kita serahkan saja penanganan Yola padanya. Semoga, Yola baik-baik saja."


Zara berusaha menenangkan bu Erni. Meskipun ia tahu, bu Erni sangat tidak suka padanya. Tapi, hal itu tidak membuat ia takut untuk ikut campur. Karena semua itu demi kebaikan Yola.


Soalnya, dia tahu bagaimana sifat dokter muda nan tampan itu. Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang ia katakan, maka dia


juga akan bertahan dengan keegoisannya.


Ya, dokter Leo terkenal dengan dokter muda yang paling tampan, tapi juga paling dingin dan paling banyak egonya. Dokter yang baru berusia dua puluh empat tahun itu sangat galak dan paling tidak suka kalau ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang ia katakan.


Dia akan bertahan dengan membiarkan pasien menunggu sampai apa yang ia katakan itu di dengarkan oleh orang tersebut. Jika tidak, maka dia akan meninggalkan pasien tersebut. Dokter yang paling tidak punya perasaan sebenarnya dia ini. Setidaknya, itulah yang Zaka tahu tentang dia. Karena Zaka sudah sering bulak balik keluar masuk rumah sakit ini, maka dia hampir hafal semua sifat dokter di sini.


"Mau keluar atau tidak?" tanya Dion dengan nada kesal memecahkan kesunyian dan keheningan antara mereka semua.


"Bu, ayo!" Zaka langsung saja menarik tangan bu Erni, lalu membawa wanita paruh baya itu keluar dari kamar tersebut.


"Kamu apa-apaan sih!?"


"Bu, demi kebaikan Yola. Aku tetap akan memaksa ibu untuk keluar."


"Dasar pemuda kurang ajar kamu! Tidak punya sopan santun sama sekali dengan orang tua."


Zaka memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu. Ia terdiam untuk beberapa saat. Berusaha menenangkan hatinya yang sedang terbakar emosi.


"Untung saja kamu pengasuh Yola. Jika tidak, aku sudah membalas pukulan ini dengan pukulan yang lebih besar, berkali-kali lipat," ucap Zaka dengan nada yang sangat emosi. Lalu kemudian, ia beranjak menjauhi bu Erni yang masih terdiam.


Sementara itu, di sisi lain. Mobil milik Dewa sedang berjalan dengan kecepatan sedang melintasi jalan raya. Dewa masih berusaha menenangkan hati Hanas di dalamnya.


"Hanas, sekarang kamu tenang ya. Kamu sudah bersamaku, maka kamu sudah aman sekarang."


"Kak Dewa, aku takut. Takut banget."


"Hei, jangan takut. Ada aku di sini."

__ADS_1


"Kak Dewa. Mereka ... mereka ... huhuhu .... "


"Mereka kenapa, Hanas? Apa mereka melukai kamu? Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit sekarang juga."


"Bimo! Kita ke rumah sakit sekarang juga."


"Tidak perlu, kak Dewa. Aku gak papa. Aku ... aku gak mau ke rumah sakit, kak. Aku gak papa."


"Tapi Hanas, kamu harus segera diperiksa. Mana tahu ada yang sakit."


"Gak kok, kak. Gak ada yang sakit."


"Tapi .... "


"Aku gak mau ke rumah sakit malam ini, kak Dewa. Aku gak mau rekan-rekan ku tahu apa yang telah terjadi padaku malam ini. Aku gak bisa .... " Hanas berucap sambil menangis dengan mata yang terus menatap Dewa. Ia berusaha membuat Dewa merasakan apa yang dia rasakan sekarang.


"Oke, baiklah. Kita tidak akan ke rumah sakit. Kita akan langsung pulang ke rumah kamu sekarang juga."


"Kak Dewa. Aku juga tidak ingin pulang ke rumah dengan kondisiku yang seperti ini. Aku tidak ingin membuat mama cemas, dan papa marah padaku."


"Maksud kamu? Om Johan marah? Marah kenapa?"


"Kak Dewa kan tahu bagaimana sikap papa padaku. Dia tidak suka padaku, kak. Dan, papa sangat tidak suka aku yang bekerja di rumah sakit itu sebagai suster. Dia tidak setuju dengan apa yang aku lakukan sekarang. Makanya, papa tidak memberikan aku mobil untuk aku gunakan pulang pergi kerja."


"Kenapa om Johan seperti itu padamu? Aku pikir, sikapnya padamu sudah berubah ketika kamu sudah dewasa. Tapi .... "


"Sudahlah, aku tidak masalah. Yang jelas, aku tidak ingin pulang ke rumah malam ini. Aku tidak ingin melihat tatapan papa yang menakutkan itu ketika aku pulang nanti. Apalagi, ketika aku pulang bersama kak Dewa. Mungkin, papa akan memukulku."


"Lalu, kita mau ke mana?"


Hanas menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih. "Tidak tahu."


"Ya sudah. Kita ke hotel terdekat saja, agar secepatnya kamu bisa istirahat. Apalagi sekarang, hari sudah semakin larut malam. Bagaimana? Apa kamu setuju?"

__ADS_1


"Terserah kak Dewa saja. Mungkin, nginap di hotel malam ini akan lebih baik. Yang penting, aku tidak pulang ke rumah dan tidak kembali ke rumah sakit."


__ADS_2